Wiranto, Potret Legiun Mangkunegaran dan Penjajahan Jepang

Budaya Dec 18, 2019

Etnis.id - “Old soldier never die, they just fade away”. Ungkapan itu cocok dialamatkan kepada Wiranto yang memiliki napas panjang dalam jabatan publik. Baru saja, ia dilantik Presiden Jokowi sebagai Ketua merangkap Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jumat (13/12).

Periode sebelumnya, lelaki yang punya nama kecil “Gendon” ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan. Saban melihat karir mulusnya di jagad militer, segera yang membayang adalah sepotong kisah petugas keamanan istana Mangkunegaran.

Pria bertubuh tegak dan jago nembang Jawa ini dibesarkan di Punggawan, sebuah kampung yang ditinggali para mantan tentara legiun Mangkunegaran. Bahkan, pamannya bernama Troenosoeroto adalah tentara legiun Mangkunegaran.

Kebetulan, saya menemukan bukti kartu pensiunan legiun milik Troenosoeroto berangka tahun 1933. Gaung tentara Jawa-Perancis warisan Napoleon Bonaparte ini mulai meredup tatkala balatentara Dai Nippon mengangkangi pulau Jawa.

Kekuasaan petinggi praja Mangkunegaran dipreteli. Selain berwenang memecat dan mengangkat penguasa kerajaan tradisional, pembesar Jepang turut menyetir pasukan kebanggaan Mangkunegaran itu. Militer Mangkunegaran mengalami kemerosotan gara-gara Jepang melarang segala bentuk organisasi pribumi dan melucuti persenjataan rakyat, tanpa kecuali milik pasukan Mangkunegaran.

Di samping memperoleh tekanan kuat dari Jepang, kondisi ekonomi praja tergoncang jua. Produksi pabrik gula sebagai pilar utama ekonomi kerajaan tersendat. Terjadi pengurangan pasukan legiun guna mengerem pengeluaran.

Prajurit yang lincah bermain senapan itu mendadak jadi pengangguran. Buahnya, kendil ngomah nggoling. Sekadar memberi sesuap nasi pada anggota keluarga, nekat melancarkan aksi pencurian. Barang yang diincar antara lain, beras, perhiasan, balon listrik, pipa besi, seng dan lainnya.

Gusti Mangkunegara VII memergoki kejahatan itu, lantas menyodorkan bantuan kepada pensiunan. Saban bulan, pemerintah Mangkunegaran Kochi menggelontorkan duit sebesar f1.500. Ternyata usia bantuan hanya mampu bertahan sampai duabelas purnama saja, mengingat ekonomi praja terpuruk.

Penggede istana tetap ingin mendidik orang bersemangat bekerja. Maka, dibukalah lowongan pekerjaan buruh pembangunan jalan dengan upah 15 sen. Jepang menghapus pengaruh Eropa yang sermerbak di tubuh legiun.

Semula, mereka diposisikan sebagai pasukan tempur dan bikin nyali musuh mengkeret. Oleh Jepang, pasukan tersebut hanya didudukkan sebagai abdi dalem penjaga istana. Gunseikan yang mengatur susunan, perlengkapan dan pelatihnya.

Istilah “legiun” yang berbau Eropa diganti menjadi Irontono atau Gyo Tai. Yang dimaksud Gyo Tai adalah Gerakan Pengawas Taruna. Badan yang dibentuk “saudara tua” itu disampiri tugas mengamankan Praja Mangkunegaran.

Bekas pasukan modern racikan Perancis ini diminta beradaptasi dengan regulasi Jepang supaya bertahan hidup, kendati merugikan pasukan itu sendiri. Saban hari, mereka berjaga di gapura atawa pintu masuk Pura Mangkunegaran.

Masa kolonial Eropa, seragam hijau membungkus tubuhnya. Jepang kemudian menitahkan mengganti seragam berkelir hitam. Sebulan sekali mengantongi gaji sebesar Rp100, yang diambilkan dari pajak dan pemasukan perusahaan milik Mangkunegaran.

Blanja segitu dirasa kurang dibanding periode penjajahan Eropa. Ditambah kehidupan detik itu susahnya bukan kepalang. Sampai wong Solo memplesetkan ucapan terima kasih bahasa Jepang yang berbunyi “arigato gozaimas” disalin menjadi “kari katok goceki mas (tinggal celana, pegangi mas)”. Alasannya, seluruh pakaian telah dilego ditukar makanan. Juga aba-aba “sae kerit” saat penghormatan Tenno Heika menghadap ke Tokyo, disalin menjadi “sae kere”. Artinya, keadaan kere pun lebih baik.

Segenap aturan dipatuhi barisan penjaga istana. Mereka melarang dan menghalau orang yang masuk praja tidak sesuai aturan. Semisal, orang berbusana tidak pantas atau mengenakan pakaian yang dilarang istana; pedagang; orang bersepeda dan bertopi; orang gila; dan kuli tanpa tanda pengenal.

Bekas pasukan terlatih ini diwanti-wanti pula jika orang asing (kecuali pembesar pemerintahan) bertandang dan hendak menjumpai pejabat birokrasi, musti melapor pentolan penjaga terlebih dahulu. Dan, selanjutnya akan diantar oleh penjaga.

Demi keamanan area pura, gerbang timur mulai ditutup tatkala penghuni perkantoran di Praja Mangkunegaran menyudahi kerja pukul 15.00 dan buka kembali pukul 06.30. Sementara regol bagian muka ditutup pukul 19.00. Bila ada surat masuk atau pencaosan, gegas diteruskan ke pemimpin atau wakilnya.

Irontono bukan hanya mencermati peraturan yang menyasar halaman muka istana, tetapi juga penjagaan di njero kedaton. Ambilah contoh, mereka menghardik pemetik bunga atau buah, kecuali memang disuruh Gusti Mangkunegara.

Dalam Arsip Mangkunegara VIII No. 3504 dikemukakan, mata mereka bisa melotot ketika melihat orang berlama-lama berhenti di pagar besi kala malam menjemput. Juga mengawasi semua orang yang bermain di taman istana guna menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.

Bila menyaksikan kejadian luar biasa atau mencurigakan, gegas melapor pada kepala jaga. Satuan keamanan ini diminta pula menggelar patroli ronda di sekitar wilayah pura untuk memeriksa segala sesuatu yang tidak wajar atau mencurigakan.

Jangan salah, petinggi Mangkunegaran diam-diam mengontrol keseriusan kerja penjaga istana dengan menyimak buku laporan penjagaan sehari-hari yang
diserahkan Pengageng Jagi melalui abdi dalem anom Mandrapura (Dewi, 2012).

Satuan pengaman istana bukan hanya terkungkung perkara pengamanan fisik, namun juga mengatasi persoalan di wilayah pengamanannya. Kegiatan yang kiranya berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban di lingkungan praja, bakal dipelototi awal hingga akhir.

Sekalipun zaman berubah, namun warisan berupa nilai-nilai diturunkan Mangkunegara IV lewat Serat Wirawiyata ternyata masih direngkuh. Serat yang dilagukan itu mengajarkan untuk waspada, jujur dan setia kepada raja; taat beribadah; berbuat baik; serta mencontoh laku hidup berikut perbuatan Mangkunegara I dan Mangkunegara II.

Meski korps Legiun Mangkunegaran lenyap, namun jiwa keprajuritannya tetap tangguh. Demikianlah, sepenggal kisah kesetiaan pasukan istana di Jawa yang pilih tanding. Mereka pernah menjadi aktor sejarah pertahanan dan perang di Nusantara.

Lingkungan sosial, kehidupan legiun dan memori sejarah militer Mangkunegaran sangat berarti bagi Wiranto. Bahkan, menginspirasi hidupnya untuk berkiprah di bidang militer di kemudian hari.

Editor: Almaliki

Heri Priyatmoko

Sejarawan Dan Penulis buku "Keplek Ilat"