Mengapa masyarakat Sunda di Kampung Adat Cireundeu tak mengonsumsi nasi? Bukankah lebih masuk akal jika etnis Sunda yang lekat dengan kebudayaan agraris menjadikan beras sebagai makanan pokok sehari-hari?

Masyarakat Sunda yang mendiami wilayah priangan, dikenal sebagai masyarakat agraris yang menerapkan pengelolaan lahan dengan bertani padi di lahan basah. Lantaran kondisi alamnya yang subur, Tatar Pasundan (sebutan untuk tanah Sunda) sangat potensial untuk dikelola menjadi lahan persawahan. Sedangkan daerah dengan vegetasi pesisir, sistem pengelolaan lahannya juga menyesuaikan dengan kondisi alamnya. Cireundeu menerapkan patikrama tatanen huma (sistem pertanian ladang) dengan sebagian besar lahan ditanami pohon ketela (singkong) sebagai pasokan pangan utama.

Berjarak kurang lebih 17 kilometer dari Kota Bandung–tepatnya di Kecamatan Leuwi Gajah, Cimahi–Kampung Adat Cireundeu menjelma surga bagi para penghayat kebudayaan. Ajaran Sunda Wiwitan yang mengilhami laku spiritual masyarakatnya, membuat Cireundeu dikenal sebagai tempat yang tepat untuk melakukan olah rasa dan penggalian budaya Sunda.

Ajaran Sunda Wiwitan dikenal dengan Agama Djawa-Sunda (ADS), seperti yang dianut oleh Suku Baduy di Kanekes (Lebak,Banten), Kasepuhan di Ciptagelar (Banten Kidul, Sukabumi), Cisolok-Sukabumi, dan Kampung Naga-Tasikmalaya.

Kampung Adat Cireundeu diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16, atau sekitar 500 tahun lalu. Keunikan kampung yang termasuk ke dalam wilayah Cimahi Selatan itu tersiar hingga ke mancanegara. Tak kurang dari 10 negara pernah mengunjungi Cireundeu untuk tujuan penelitian, di antaranya, Malaysia, Jepang, Korea, dan Zimbabwe. Pasalnya, masyarakat Cireundeu masih menjalankan tradisi leluhurnya, namun tak menutup kemungkinan adanya penyesuaian dengan zaman, seperti penggunaan gawai dan teknologi modern lainnya.

Abah Widia, sesepuh Cireundeu yang mendarmakan diri sebagai ais pangampih menjelaskan bahwa masyarakat Cireundeu adalah persekutuan adat yang terbuka terhadap perkembangan zaman, namun tetap mempertahankan budaya warisan leluhur. Jika dituangkan ke dalam sebaris kalimat, masyarakat Cireundeu adalah masyarakat yang "ngindung ka waktu, mibapa ka jaman.” (menganggap Ibu pada waktu, menganggap Bapak pada zaman).

Abah Widia, Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu/Nadya Gadzali

Pejabat yang menyelenggarakan urusan internal pemerintahan Cireundeu itu tampak bersahaja mengenakan salontreng, pakaian adat Sunda berwarna hitam yang lazim dikenakan oleh kaum pria untuk kegiatan bertani. Sedangkan iket Sunda yang ia kenakan di kepala merupakan perwujudan ilmu dulur papat kalima pancer. Saat kain iket dibentangkan, keempat sisinya melambangkan petunjuk arah hidup manusia. Masyarakat Sunda memaknainya sebagai empat arah mata angin (Tenggara, Barat Daya, Timur Laut, dan Barat Laut), sekaligus bentuk persegi empat yang melambangkan kesempurnaan (masagi).

Hari semakin menua, tak lengkap rasanya jika tak menyusuri sudut-sudut Kampung Adat Cireundeu. Tak seberapa jauh dari saung Mang Ali, Ogi Suprayogi atau yang akrab disapa Kang Ogi, dengan ramah menjelaskan keberadaan bangunan komunal di Kampung Adat Cireundeu. Ia menunjuk ke arah tiga bangunan komunal yang aktif digunakan sehari-hari, yaitu saung baraya, bale sarasehan, dan bale atikan.

"Imah Panggung" Bale Atikan yang digunakan oleh masyarakat Cireundeu untuk Kegiatan Belajar Mengajar, salah satunya untuk berlatih Aksara Sunda/Ramdhani Triviana

Di bagian depan menuju bale sarasehan, saung baraya menandai solidaritas dan gotong royong yang terjalin di antara masyarakat Cireundeu. Pasalnya, bangunan ini digunakan sebagai pendopo untuk menyelenggarakan aneka perhelatan budaya, seperti pertunjukan wayang dan pagelaran musik tradisional Sunda dalam perayaan 1 Sura.

Bale Sarasehan yang digunakan untuk berbagai pertemuan di Kampung Adat Cireundeu/Ramdhani Triviana

Berseberangan dengan saung baraya, berdiri bale sarasehan yang digunakan untuk melaksanakan pertemuan, termasuk penyambutan tamu dan musyawarah warga. Kendati posisinya bersisian dengan bale atikan, namun penggunaan bale saresehan ditujukan untuk mewadahi kegiatan sosial dan hubungan masyarakat (Humas) Cireundeu. Sedangkan bale atikan, dikhususkan untuk kegiatan belajar mengajar.

Bagian dalam Bale Sarasehan di Kampung Adat Cireundeu/ Nadya Gadzali

Asal Muasal Rasi di Kampung Adat Cireundeu

Tradisi mengonsumsi rasi (beras singkong) telah dilakukan oleh masyarakat Cireundeu sejak satu abad yang lalu. Kekuasaan Belanda yang semakin merangsek ke areal-areal perkebunan rakyat, membuat beras semakin sulit diperoleh.

Akibat krisis yang dialami, seorang sesepuh Kampung Adat Cireundeu bernama Haji Ali, melakoni sebuah pengembaraan pada tahun 1918. Ia berhasrat ingin mengakhiri penderitaan yang dialami oleh masyarakat Sunda—khususnya Cireundeu—dari keterjajahan budaya konsumsi.

Dalam tetirahnya, Haji Ali menemukan pencerahan saat ia tiba di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Haji Ali bertemu Pangeran Madrais dan merasa sudah menemukan orang yang dicari. Pangeran dari Cigugur itu mendukung keputusan Haji Ali untuk memerdekakan masyarakat Cireundeu lahir dan batin, baik dari keterjajahan budaya konsumi, maupun kekuasaan Belanda atas sumber daya alam yang dikelola oleh masyarakat Cireundeu. Hubungan di antara keduanya pun semakin terjalin dengan baik, diperkuat oleh pernikahan Ibu Anom, putri sesepuh Cireundeu dengan Pangeran Madrais.

Sebagai bentuk perlawanan, masyarakat Cireundeu tak lagi mengonsumsi nasi. Kendati tak ada larangan, namun tekanan yang dirasakan saat itu, membuat masyarakat Cireundeu harus beradaptasi dengan aneka olahan singkong.

Masyarakat Cireundeu diamanati oleh leluhurnya untuk dapat bertahan hidup di dalam 'rimba'nya sendiri, mandiri dalam ketahanan pangan dengan memanfaatkan bahan pangan selain beras.

Rasi, sebelum dan sesudah ditanak/Ogi Suprayogi

Pada tahun 1924, masyarakat Cireundeu resmi mengganti nasi dengan rasi (beras singkong). Meskipun proses pembuatannya cukup panjang, namun masyarakat Cireundeu tetap mengolah singkong menjadi berbagai jenis masakan. Tertuang dalam prinsip “teu boga sawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu boga beas asal bisa nyangu, teu nyangu asal dahar, teu dahar asal kuat.”(tak punya sawah asal punya padi, tak punya padi asal dapat menanak nasi, tak punya beras asal makan, tak makan nasi asal kuat).

Prinsip masyarakat Cireundeu yang terdapat di Saung Mang Ali/Nadya Gadzali

Tradisi mengonsumsi singkong diinisiasi oleh Omah Asnamah, menantu Haji Ali yang menggagas pembuatan rasi (beras singkong) untuk pertama kali. Pasalnya, ia mengamati fenomena ketergantungan masyarakat terhadap beras sudah sedemikian merusak tatanan sosial dan budaya.

Rumah pengolahan aneka camilan dan oleh-oleh khas Cireundeu/Nadya Gadzali

Seiring perkembangan zaman, singkong diolah menjadi aneka camilan dan oleh-oleh. Di salah satu sudut Kampung Adat Cireundeu, sebuah bangunan difungsikan sebagai rumah produksi yang menghasilkan berbagai menu olahan singkong.

Nyaris seabad meninggalkan beras, olahan singkong disajikan bersama lauk pauk sebagai makanan utama pengganti nasi, bahkan diolah menjadi berbagai jenis kudapan, seperti simping, opak, dan egg roll. Diawali dengan menggiling, mengendapkan, dan menyaring singkong menjadi aci atau tepung sagu. Ampas dari olahan sagu yang dikeringkan itulah yang kemudian dijadikan rasi (beras singkong) dan aneka camilan khas Cireundeu.

Camilan egg roll yang terbuat dari tepung singkong (aci)/Nadya Gadzali

Mengutip pernyataan Abah Widia, bahwa meskipun sebagian besar masyarakat Sunda mengonsumi nasi, tetapi yang diperlukan oleh zaman sesungguhnya adalah perubahan pola pikir dan pola makan. Agar tak salah mengartikan, Abah menekankan bahwa legenda Dewi Sri (dewi padi) bagi masyarakat Cireundeu, berbeda dengan Nyai Pohaci. Namun, Abah menlanjutkan, tak ada benar atau salah pada anggapan ini, sebab masyarakat Sunda begitu beragam. Setiap daerah memiliki tradisi, ajaran, dan keyakinan masing-masing.

Masyarakat Cireundeu meyakini bahwa Nyai Pohaci adalah inti yang terkandung di dalam setiap makanan, bukan hanya ada di dalam beras. Di luar seluruh definisi yang ada, Abah menutup pertemuan dengan mengucap "Sanaos berbeda kayakinan, tapi urang sapamadegan, ngan benten sesebatan", (kendati berbeda paham dan keyakinan, sejatinya semua manusia memili tujuan yang sama, hanya berbeda cara dan istilah saja).