Indonesia mempunyai 718 Bahasa daerah yang berbeda, 1.340 suku dan 300 kelompok etnis. Pencapaian terbesar manusia sebagai bagian dari sebuah masyarakat adalah kebudayaan. Selama berpuluh-puluh tahun, diskursus mengenai "Indonesia" terbentuk melalui asimetri dalam produksi pengetahuan global. Secara historis, kita terus menyerap kerangka berpikir dari rasionalisme Barat, ortodoksi Timur, hingga nilai-nilai Middle East. Pertukaran ini pada dasarnya adalah proses peradaban yang wajar, tidak ada hal yang esensial untuk diantagonisasi dari interaksi intelektual tersebut. Namun, persoalan struktural muncul ketika pengetahuan eksternal tersebut secara tidak proporsional mendominasi dan menjadi lensa tunggal untuk mendefinisikan realitas Indonesia, sementara kita belum sepenuhnya berhasil mengartikulasikan ontologi lokal kita sendiri. Akibatnya, kita sering kali menduplikasi parameter asing karena kita belum menemukan pijakan filosofis yang mandiri mengenai apa itu Indonesia secara hakiki.

Tujuan Kami?

Dalam upaya mengoreksi ketimpangan epistemologis di atas inilah Etnis.id mengambil posisi. Platform ini tidak didirikan sekadar untuk melakukan preservasi budaya dalam pengertian konservatif, sebuah pendekatan yang kerap mereduksi tradisi menjadi artefak pasif atau komoditas eksotis. Sebaliknya, kerja kami difokuskan pada rekonstruksi filosofis, merumuskan ontologi Indonesia. Tujuannya bukanlah untuk menolak atau mengisolasi diri dari pencapaian peradaban luar, melainkan untuk menggali hakikat terdalam dari cara manusia Nusantara memandang alam, eksistensi, dan relasi sosial. Melalui pemahaman ini, kita membangun sebuah jangkar kognitif yang kokoh di tengah arus informasi global.

Menemukan kembali "Indonesia" dengan demikian adalah prasyarat rasional untuk mencapai kedaulatan dan kedewasaan intelektual. Melalui investigasi jurnalistik dan diskursus kebudayaan yang kritis, Etnis.id berdedikasi untuk merebut kembali agensi naratif kita yang selama ini disubordinasi. Kita tidak sedang membangun tembok batas, melainkan mentransisikan posisi kita dalam lanskap global: dari sekadar reseptor kerangka pemikiran luar, menjadi subjek aktif yang mampu menyeleksi, menyintesis, dan berdialog dengan peradaban dunia secara setara, berpijak teguh pada ontologi kita sendiri.

Tim Kami

Pemangku Adat (Editorial): Nurkholish Halim, Ilham Ari Fauzi, Nadya Gadzali, Muhammad Almaliki, Syariat Tella, Ais Aljumah.

Pembawa Kabar: Ruslan, Billy Chermutto, Pertiwi Rusdi.