Sudah Sejauh Mana Kita Memaknai Hari Raya Saraswati?

Budaya Dec 10, 2019

Etnis.id - Sabtu pagi, pada 6 Desember 2019, ada sesuatu yang beda di Pura Bhauna Agung Saraswati yang berada di dalam area kampus Universitas Sebelas Maret. Rangkaian janur-janur membentuk penjor terpasang di beberapa tempat berjajar dengan gapura pura, jalan menuju bangunan utama Pura.

Di depan pendopo kecil sebelah kiri, masih di sekitar halaman luar pura, terdapat bentangan spanduk kecil yang bertuliskan Selamat Hari Raya Saraswati. Pagi itu masyarakat Hindu yang ada di Solo, sedang mempersiapkan perayaan Hari Raya Saraswati.

Memasuki gapura pura, terdapat sesaji dan beberapa kebutuhan untuk perayaan malam harinya sudah tertata rapi sesuai tempatnya. Tepat di ujung jalan masuk lurus dari gapura pura, tertata rapi gamelan gong kebyar yang juga digunakan untuk memperingati Hari Raya Saraswati. Di dalam bangunan utama pura, patung Dewi Saraswati sudah dihiasi dengan bunga-bunga yang indah.

Hari Raya Saraswati diperingati oleh masyarakat Hindu sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Sangat tepat juga kalau pura di dalam kampus Universitas Sebelas Maret ini, diberi nama Pura Agung Saraswati, karena kampus adalah tempat
menimba ilmu pengetahuan. Sesuai dengan semangat dari Dewi Saraswati yang dikenal dengan Dewi Ilmu Pengetahuan.

Hari Raya Saraswati juga diselenggarakan untuk menghormati Dewi Saraswati. Momen ini diperingati setiap enam bulan sekali (210 hari), tepatnya pada Saniscara Umanis Wuku Watugunung. Lalu, sebenarnya sudah sejauh mana sih manusia terdidik saat ini mampu memaknai Hari Raya Saraswati?

Mari kita lihat duku apa tujuan diselenggarakannya Hari Raya Saraswati oleh masyarakat Hindu. Hari Raya Saraswati diselenggarakan dengan tujuan menjaga, memelihara dan mengaplikasikan seluas-luasnya ilmu pengetahuan yang telah didapat dari proses belajar untuk melahirkan manusia yang beradab, bijaksana dan berkualitas.

Selain itu, untuk menyadarkan manusia bahwa tanpa ilmu pengetahuan, hidup ini hampa, kosong dan seperti berada di dunia kegelapan. Artinya, bahwa Hari Raya Saraswati ini kembali mengingatkan kita akan pentingnya ilmu pengetahuan untuk memperbaiki kualitas diri, juga untuk mengamalkan ilmu pengetahuan yang sudah didapat untuk kehidupan manusia.

Di Bali, ada yang beranggapan bahwa Hari Raya Saraswati adalah hari yang tepat untuk anak-anak kecil mulai belajar gamelan Bali. Ini menjadi contoh kecil, saat  belajar gamelan Bali, ada proses berbagi ilmu dari pengajar kepada anak-anak kecil yang nantinya menjadi generasi penerus.

Dalam proses regenerasi ini, ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang dipersembahkan untuk kehidupan bermasyarakat. Banyak orang tentu sepakat bahwa dalam hidup ini manusia harus mengutamakan mencari dan menggali ilmu pengetahuan sedalam-dalamnya.

Pencarian ilmu pengetahuan bisa melalui jalur pendidikan formal maupun non formal. Ilmu pengetahuan yang dicari meliputi ilmu pengetahuan secara umum dan juga ilmu agama. Ilmu pengetahuan yang sudah didapat, digunakan untuk bekal
menjalin hubungan antarumat manusia, memanusiakan manusia dan saling mengasihi antarmanusia, karena hal-hal tersebut merupakan aspek utama nilai
kemanusiaan yang perlu senantiasa dijunjung dalam hidup di muka bumi ini.

Dalam Bhagawad Gita (pancamoweda) bab IV.33, tertulis bahwa melakukan persembahan suci melalui ilmu pengetahuan adalah lebih baik, daripada persembahan-persembahan suci melalui harta benda. Artinya, persembahan ilmu pengetahuan mempunyai posisi tertinggi.

Namun, persembahan suci ini tidak cukup hanya ditujukan kepada Tuhan saja. Sebab ilmu pengetahuan, jika tidak diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari di mana pun berada, maka ilmu itu akan bersifat sia-sia.

Realitasnya, sejauh mana manusia terdidik saat ini memaknai ilmu pengetahuan sebagai sebuah “persembahan”, sekaligus untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat? Sekarang tak jarang kita jumpai banyak lulusan sarjana baik S-1 maupun S-2 atau kaum-kaum terdidik lainnya, yang belum bisa “mempersembahkan” ilmu pengetahuan mereka baik untuk Tuhan juga untuk kehidupan bermasyarakat.

Sederhananya, masih banyak sarjana nganggur. Pertanyaannya adalah, sudahkah para manusia terdidik saat ini mengembalikan lagi hakikat dari ilmu pengetahuan tersebut? Hakikat bahwa ilmu pengetahuan itu dicari tidak sekadar berorientasi untuk memperkaya diri, bahwa ilmu pengetahuan sejatinya ada dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas diri dan diamalkan untuk kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Ketika ada sarjana merasa menganggur, mungkinkah mereka belum jauh memaknai ilmu pengetahuan? Mungkinkah mereka hanya berorientasi kepada harta benda ketika mencari ilmu pengetahuan? Jika demikian, berarti fenomena ini menunjukkan bahwa makna dari sebuah ilmu pengetahuan telah keluar dari jalurnya.

Pemberian makna semacam ini berarti menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan lebih rendah dari harta benda. Semangat dari Hari Raya Saraswati pun akhirnya perlu dihayati lagi. Pada praktiknya dalam realitas, masyarakat memang terbagi secara biner dalam memahami ilmu pengetahuan. Ada yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai keluhuran, ada juga yang menyimpang dari hakikat ilmu pengetahuan.

Contoh kecil yang bisa dilihat dari penyimpangan adalah ketika ilmu pengetahuan justru digunakan untuk berlomba-lomba dalam merebutkan hal-hal yang bersifat materi, seperti jabatan dan kekuasaan.

Dengan ilmu pengetahuan tidak sedikit manusia yang menipu, bahkan membodohi sesama umat manusia. Kondisi semacam ini tentu sudah membuat nilai keluhuran dari ilmu pengetahuan menjadi keluar jalur.

Di sisi lain, rasanya naif juga jika kita menuntut setiap orang untuk senantiasa
tulus mengabdikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Kebutuhan hidup makin hari makin banyak, sulit dan mahal. Sedangkan ketulusan tidak selalu berujung pada kesejahteraan.

Sudah banyak contoh manusia yang ikhlas mengabdi tetapi justru dieksploitasi. Contoh tersebut bisa disaksikan dalam narasi kehidupan guru honorer. Hal inilah yang mungkin mengakibatkan orang tidak lagi tulus menyumbangkan ilmu pengetahuannya kepada kehidupan umat manusia.

Makna ilmu pengetahuan lambat laun semakin bergeser, bahkan Hari Raya Saraswati bisa saja hanya menjadi sekedar hari perayaan tanpa makna apabila kondisi ini terus berlanjut.

Tidak akan ada habisnya apabila persoalan ini jika berhenti pada saling menyalahkan atau mencari siapa yang benar. Di luar konteks ajaran agama Hindu, atau tata cara adat agama Hindu dalam memperingati Hari Raya Saraswati, sepertinya saat ini semua masyarakat perlu memahami Hari Raya Saraswati sebagai pengingat agar penggunaan ilmu pengetahuan dikembalikan lagi pada jalurnya.

Seperti adat di Bali, setiap memperingati Hari Raya Saraswati, semua buku-buku baik pustaka umum, agama, spiritual dan lainnya, dibersihkan dan ditata rapi sebagai wujud penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.

Selanjutnya, dilakukan prosesi bertapa, merenung, melakukan evaluasi diri dalam memaknai ilmu pengetahuan dan hidup bermasyarakat. Di malam harinya diadakan malam sastra, yaitu pembacaan lontar-lontar semalam utuh dengan tujuan untuk menurunkan pencerahan dari Dewi Saraswati.

Semua ini dilakukan sebagai wujud rasa bersyukur atas nikmat ilmu pengetahuan yang sudah diberikan Tuhan. Dengan ilmu pengetahuan, manusia terhindar dari kebodohan dan kegelapan. Dengan ilmu pengetahuan, manusia bisa menjadi lebih bijaksana. Dengan ilmu pengetahuan manusia bisa memanusiakan manusia.

Editor: Almaliki

Mukhlis Anton Nugroho

Etnomusikolog