Menjaga Spirit Budaya Rimpu di Tanah Rantau

Budaya Jun 11, 2019

Etnis.id - Dalam menjaga kelestarian budaya daerah, ada beragam cara yang bisa dilakukan agar budaya tersebut tetap eksis dan tak terlupakan zaman. Apalagi ketika Anda sedang berada di luar daerah, katakanlah di kota-kota besar seperti Jakarta.

Di Jakarta dengan penduduk bercampuran dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda, mereka pendatang dan masyarakat urban tentu hidup berbaur satu sama lain. Pada konteks ini, akan tercipta proses asimilasi dan akulturasi budaya. Dalam istilah lainnya terjadi 'perang' budaya, budaya populer akan mengalahkan budaya minoritas. Artinya minoritas akan mengikuti budaya yang sudah populer di daerah tersebut, budaya lifestyle.

Budaya lifestyle akan cepat mempengaruhi tingkah laku, cara bergaul hingga cara kita memandang sesuatu. Tanpa di sadari, kita akan menjadi bagian dalam budaya tersebut. Seperti masyarakat urban yang terbiasa di daerahnya hidup secara komunal dan saling membantu antar sesama tetangga, ketika beranjak di ibu kota dengan corak individualistik, maka kita akan terbawa arus menjadi pribadi yang individualustik.

Saya akan kemukan salah satu contoh budaya daerah terpinggirkan ketika berada di ibu kota. Ia raib begitu saja tanpa merasa bangga lagi menggunakan budaya asli.
Masyarakat Bima-Dompu, Nusa Tenggara Barat pada umumnya adalah salah satu masyarakat di Indonesia bagian timur yang suka hidup merantau. Bahkan pada waktu-waktu tertentu, seperti musim lebaran akan terlihat banyak sekali mereka berdatangan.

Ada yang datang mencari pekerjaan layak atau beragam latar lainnya.
Di kampung halaman, masyarakat Bima-Dompu khusus kalangan perempuan mengenakan rimpu atau pakaian yang menutup badan menggunakan kain sarung hasil tenun tradisional. Sarung tenun tersebut dikenal dengan nama tembe nggoli, motifnya pun beragam.

Sehari-hari kalangan perempuan mengenakan rimpu (meskipun sudah jarang dipakai kalangan muda saat ini) untuk menutup anggota badannya. Pakaian ini juga dipengaruhi ketika Islam mulai menyebar dan menjadi agama kerajaan masyarakat Bima-Dompu.

Untuk tetap mempertahankan budaya lokal tersebut, apakah semua perempuan Bima-Dompu di Jakarta harus mengenakan rimpu sehari-hari ketika beraktivitas atau saat bertemu dengan sanak keluarga? Jika tidak mengenakan apakah lantas mereka tidak lagi mempertahankan budayanya?

Pada Juli 2018, bertempat di Monumen Nasional (Monas) diadakanlah festival Rimpu Bima-Dompu. Para peserta yang tinggal di Jabodetabek berdatangan dan mengenakan rimpu, tak hanya kalangan perempuan yang hadir tapi kalangan laki-laki juga ikut memeriahkan dengan mengenakan sarung tenun asli tersebut.

Festifal budaya rimpu tersebut diselenggarakan untuk menghidupkan kembali budaya, memperkenalkan pada banyak orang bahwa masyarakat Bima-Dompu punya budaya yang perlu dilestarikan. Hasilnya cukup memuaskan, banyak peserta yang berdatangan.

Sampai di sini, apakah usaha mempertahankan budaya di tanah rantau sudah berhasil dengan menggelar festival budaya?

Saya beranggapan bahwa mempertahankan budaya lokal, tidak seharusnya dalam kehidupan sehari-hari diharuskan mengenakan pakaian rimpu, selain akan dianggap berbeda atau unik oleh masyarakat lain bahkan akan dianggap dalam tanda kutip 'kampungan'.

Apa yang harus dilakukan agar warisan budaya tersebut tetap hidup dan tidak dianggap kita telah tercerabut dari akar budaya. Hal yang harus dilakukan adalah menggali nilai-nilai yang ada dalam budaya tersebut. Seperti menghidupkan kembali nafas budaya dalam praktek sehari-hari. Budaya rimpu merupakan representasi dari kehidupan islami, sehingga saripati yang terkandung didalamnya dapat diambil.

Menjaga pergaulan agar tidak terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan, melindungi diri dari perilaku yang tidak terpuji dengan cara berbuat baik pada sesama. Rimpu adalah suatu simbol yang dikenakan dalam bentuk pakaian, maka nilai didalamnya yang perlu diambil. Bukan memaksakan diri mengenakan rimpu pada saat beraktivitas. Akan sangat aneh rasanya bila Anda pergi ke mall atau ke tempat umum mengenakan rimpu.

Jadi, menjaga budaya lokal tidak seharusnya mengenakan di badan tetapi bisa dilakukan dengan cara mengambil nilai dan spirit budaya tersebut untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ruslan

Penyuka kopi