Mempertanyakan Ajaran Serat Nitimani, Kitab Seksual Orang Jawa

Budaya Sep 09, 2019

Etnis.id - Cinta serta seksualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seksualitas merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang tak bisa dilepaskan dari kiprah perempuan.

Mereka kerap menjadi simbol seksualitas. Namun tidak jarang juga perempuan dijadikan objek serta korban atas nama seksualitas. Tragis. Soal seks, muncullah ajaran-ajaran khusus di Jawa seperti norma dan juga aturan saat berhubungan seksual dalam bentuk lisan serta tulisan.

Dalam tulisan, ada ajaran Serat Nitimani. Isinya kaya akan simbol-simbol. Toh, orang Jawa selalu menyematkan nilai filosofis dalam setiap ajarannya. Masyarakat Jawa percaya, untuk bisa mendapatkan keturunan yang baik, maka hubungan seksual harus disertai dengan proses yang benar dan tepat.

Untuk mencapai aturan benar dan tepat, dibutuhkan amunisi seperti pengetahuan mengenai seksualitas. Tujuannya tak lain agar manusia tidak melakukan proses yang salah. Manakala prosesnya salah, bisa berakibat fata. Bukan hanya untuk keturunanya semata, namun juga untuk keseimbangan dan juga keselarasan hidup.

Orang Jawa mengenal kama salah, yang tidak lain merupakan istilah untuk hubungan seksual yang salah. Untuk menghindarinya,  lahirlah “Serat Nitimani”. Salah satu isinya membahas “Wanita idaman laki-laki”.

Ada bibit, bebet, bobot yang merupakan hal baik untuk itu. Baik jika ditempatkan pada tempatnya. Namun bagaimana jika kebaikan tersebut tidak bersifat menyeluruh? Bagaimana jika hanya membahas segelintir bagian
kehidupan saja?

Menyoal terkait “Wanita idaman laki-laki” ini, memang tidak bisa lepas dari sejarah yang berkembang. Pada zaman dahulu, seorang pria saat akan memilih pasangan, akan dilihat kualitasnya terlebih dahulu. Laki-laki akan mencari wanita terbaik menurut versinya.

Wayang/Etnis

Mengenai hal ini, ada tujuh bobot wanita yang layak dijadikan menjadi seorang istri.  Pertama yakni darahbangsaning ngawirya, tegesipun trahing pra luhur, ingkang taksih kadrajatan. Artinya ialah keturunan orang luhur yang memiliki derajat tinggi yang akhirnya meluas ke agama.

Lahirlah lagi darahing agama,  tegesipun trahing para  ngulama, ingkang alim atau ahli kitab-kitab. Artinya, ia harus keturunan para ulama, alim, ahli kitab. Dari akhli kitab.

Llau turun lagi ke darahing ngatapa, tegesipun trahing para  pandhita ingkang alal brata leksana. Yaitu perempuan keturunan  para pendeta. Dari sini, meluas ke moralitas yang tecermin pada darahing sujana, tegesipun trahing para linangkung, ing olah pangawikaning budi dhateng kalimpatan utawi kawicaksanan.

Artinya dari moralitas itu adalah keturunan orang kaya yang memiliki budi yang baik serta bijaksana. Setelahnya, kepintaran juga tidak luput dari perhatian. Hal ini tampak dari ajaran darahing ngagune, tegesipun trahing para pinter,  ingkang olah dhateng kabangkitan.

Artinya keturunan orang pintar yang ahli dalam kebangkitan. Prajurit juga tidak luput dari perhatian. Untuk itu, ada juga darahing prawira, tegesipun trahing para prajurit, ingkang olah dhateng kawanteran, sarta ingkang asub ing kasudiranipun.

Artinya keturunan para prajurit. Terkhir, masyarakat Jawa sangat menghargai petani, maka lahirlah darahing supatya, tegesipun  trahing para tani ingkang wekel sarta temening manah. Artinya keturunan para petani yang rajin serta tulus hatinya.

Namun ternyata tidak berhenti dalam hal bobot saja. Ada juga bebet tersendiri yang harus dipenuhi oleh masyarakat Jawa. Bebet berarti memandang perempuan berdasarkan kekayaannya. Sekilas bisa dikatakan, perempuan yang memiliki kekayaan lebih, maka akan memiliki nilai lebih sesuai dengan jumlah materi yang dimilikinya.

Masih berlanjut. Masih ada satu lagi yaitu bibit. Memilih perempuan sesuai dengan kecantikan serta kemampuannya. Untuk menjadi bibit yang baik, perempuan juga harus memenuhi beberapa kriteria tertentu.  Bongoh menjadi salah satu kriteria yang tidak bisa dilepaskan.

Bongoh adalah seorang wanita yang memiliki tubuh gemuk, semok dan juga rasa yang luas. Dengan kriteria seperti ini, maka wanita bisa menjadi pembuka yang nyaman saat berhubungan seksual.

Wayang/Etnis

Perempuam juga harus sengah, yaitu perempuan yang memiliki wajah bulat serta enak dipandang. Banyak yang sepakat, jika wanita seperti ini bisa membuka percintaan yang terpendam.

Masih tidak cukup. Perempuan juga harus dlongeh, yaitu perempuan yang memiliki sikap murah hati serta sederhana. Konon, model seperti ini merupakan perempuan yang sangat menarik bahkan tingkah pun lakunya.

Perempuan Jawa juga harus sumeh yang merupakan pertanda bahwa perempuan tersebut merupakan perempuan yang sabar. Dilanjutkan dengan gendruk, yaitu perempuan  dengan badan besar yang kendor tetapi berisi.

Masih terkait dengan fisik, perempuan juga harus srenteg, yaitu memiliki badan besar kurang tinggi, tetapi berisi dan kencang. Jika melihat ketiga hal tersebut, bibit, bebet, bobot. Sungguh dunia ini rasanya indah sekali. Sekali lagi, memilih pasangan memang harus berkualitas.

Namun dari beberapa pemaparan di atas, jika mau kita bedah, apakah ini merupakah salah satu langkah memuliakan perempuan? Ataukah merendahkan Kenapa pertama kali dalam memandang bibit¸tubuh menjadi nilai mutlak? Bagaimana jika seorang perempuan tidak memenuhi satu, dua dan tiga kriteria tersebut?

Editor: Almaliki