Membandingkan Tradisi Kecantikan Suku Dayak dengan Thionghoa

Budaya May 21, 2019

Etnis.id - Ada banyak ragam dilakukan seorang perempuan untuk menunjukkan dirinya terlihat cantik di lingkungan masyarakat, mereka rela menghabiskan banyak uang demi mendapatkan kepuasan yang diinginkan.

Berbagai macam merk dari produk kecantikan laris manis dipasaran, baik yang menggunakan bahan kimia yang kadang bisa merusak wajah hingga berbahan organik.

Definisi cantik sendiri identik dengan memiliki wajah putih, punya hidung mancung, rambut gelombang hingga lekukan tubuh yang fleksibel. Tentu sebagian perempuan yang memiliki paras standar, akan berusaha terlihat tampil cantik dengan memodifikasi tubuh dengan peralatan kecantikan modern.

Ada yang berusaha merubah penampilan secara ekstrem dengan melakukan operasi berkali-kali demi mendapatkan bentuk tubuh yang propesional. Cantik itu sudah dianggap sebagai salah satu mahkota perempuan, sehingga banyak perempuan berlomba terlihat cantik, meskipun harus melakukan operasi.

Sebuah penelitian pada 2018 lalu oleh ZAP Beauty Index pada industri kecantikan, ia menggunakan sampel 17.889 ribu perempuan Indonesia. Dalam temuannya, 21 persen perempuan milenial menggunakan media sosial untuk membeli produk kecantikan, sedangkan 54.8 persen memilih membeli produk kecantikan di gerak atau toko resmi.

Survei ini menunjukkan minat perempuan untuk tampil cantik dengan menghabiskan anggaran untuk membeli prodak kecantikan. Cantik yang UnikTernyata konsep kecantikan perempuan di zaman dahulu berbeda jauh dengan zaman kiwari.

Bila di zaman kiwari, cantik itu harus memiliki rupa yang menawan, bodi langsit agar lelaki terkagum-kagum melihatnya, namun berbeda dengan tradisi kecantikan di zaman dahulu. Seperti tradisi yang tumbuh subur di lingkungan masyarakat Dayak, Kalimantan yang memanjangkan daun kuping hingga sampai ke dada.

Tradisi unik ini dikenal dengan nama telinga Aruu hingga terlihat memanjang. Cuping daun telinga salah satu warisan budaya masyarakat sejak lama, tradisi ini terus dilakukan hingga sekarang meski mulai berkurang karena pengaruh perkembangan zaman.

Tradisi ini Sejak anak-anak mereka mulai tumbuh, orang tuanya mewajibkan anaknya memanjangkan cuping telinga dengan menggantungkan alat pemberat. Biasanya mereka gunakan jenis logam dengan ukuran secara bertahap, mulai dari yang ringan hingga yang berat.

Ukuran berat jenis logam akan terus ditambah seiring bertambahnya usia mereka, sehingga membentuk pola kuping berlubang besar dan memanjang ke bawah. Suku Dayak sendiri percaya, kuping yang dipanjangkan sangat menentukan status sosial seseorang, baik status sosial sebagai kaum bangsawan atau sebagai simbol kecantikan seorang perempuan.

Mereka akan dianggap sebagai orang yang cantik, jika memiliki telinga yang panjang. Juga sangat memudahkan bagi mereka untuk mendapatkan pinangam dari kaum laki-laki.

Di zaman kiwari ini, kita akan menolak konsep kecantikan seperti di suku Dayak dengan memanjangkan cuping telinga, musababnya konsep kecantikan saat ini sudah frame oleh media massa. Bahwa cantik itu punya kulit putih, wajah bersih, bodi langsit dan sebagiannya, akhirnya industri kecantikan meraup keuntungan yang cukup besar di bisnis ini.

Bila di Dayak memanjangkan cuping telinga, berbeda halnya dengan tradisi kecantikan di Thiongkok pada zaman dahulu. Di China dikenal dengan tradisi unik yaitu mengecilkan kaki dengan cara melipat kakinya hingga terlihat melengkung atau jari-jarinya dipatahkan agar terlihat cantik.

Tradisi ini dikenal sebagai lotus feet, awalnya dilakukan oleh perempuan dari kalangan bangsawan untuk memikat hati pepujaan hatinya, kemudian merambat ke kalangan biasa.

Kaki lotus sendiri berukuran sangat kecil kemudian akan mengenakan sepasang sepatu mungil. Di lansir dari Nasional Geohraphic Indonesia, kaki lotus mulai dibentuk pada anak perempuan saat berumur 3 hingga 6 tahun.

Sebab anak seusia ini masih sangat mudah dibentuk, karena tulang-tulangnya masih lentur atau mudah dimodifikasi menjadi kaki lotus. Agar mendapatkan kaki lotus, terlebih dahulu kaki anak perempuan di rendam di air hangat, kemudian dipijit menggunankan minyak agar otot renggang.

Setelah itu jari kaki, kecuali jempol di tekuk ke bawah telapak kaki, lalu diikat menggunakan kain sutera atau kain biasa. Tradisi kecantikan di Thiongkok ini memang cukup unik, karena konsep kecantikan bukan dilihat dari paras wajah atau lekukan tubuh melainkan kaki yang berbentuk bunga lotus.

Tradisi ini tidak saja untuk menunjukkan kecantikkan, tapi juga menunjukkan status kebangsawanan. Tradisi kaki lotus di percaya berawal dari dinasti Shang (1700-1027), saat itu permaisuri kerajaan memiliki kaki yang cukup kecil dari biasanya lalu kemudian istana mewajibkan perempuan memiliki kaki kecil.  

Dalam versi yang lain, tradisi mengikat kaki bermula pada dinasti Song (930-1279) lalu menyebar ke istana kerajaan hingga ke masyarakat biasa. Sehingga tradisi ini tidak saja dilakukan oleh perempuan dilingkaran istana, melainkan oleh warga biasa dengan kelas sosial rendah.

Tradisi di Suku Dayak dan orang Thionghoa memang terlihat sangat unik, apalagi keduanya punya konsep kecantikan yang berbeda dengan saat ini. Bila pada umumnya seorang perempuan tidak bisa dilepaskan dari bahan make up, agar disebut cantik, maka hal itu tidak berlaku bagi suku Dayak dan tradisi Thionghoa pada zaman dahulu.

Ruslan

Penyuka kopi