Mengenal Dusun Warangan yang Indah dan Sarat Tradisi

Budaya May 21, 2019

Etnis.id- Warangan adalah sebuah dusun  yang berada di lereng Gunung Merbabu yang memiliki hawa sejuk dengan pemandangan yang indah dan mempesona. Dusun ini juga terkenal selain karena bersihnya lingkungan pemukiman warga juga karena sering diadakan pentas kesenian dalam rangkaian upacara adat setempat. Kesenian yang ada di Dusun Warangan ini meliputi seni tari, yaitu warokan, sorengan, topeng ireng, wayang orang, wayang kulit, dan seni musik pengiring yang disebut musik trunthung. Kesenian-kesenian itu terus dilestarikan hingga hari ini dan menjadi aset budaya yang pada akhirnya menguntungkan industri pariwisata.

Dusun Warangan yang terletak di Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah juga menjadi penghasil tanaman pertanian dan perkebunan, diantaranya padi, jagung, ketela, kentang, sayur-sayuran seperti kobis, tomat, buncis, terong, bayam, kacang panjang dan bunga-bungaan seperti: mawar, menur,
kenanga, dan melati. Tanaman hias lainnya tumbuh subur di halaman setiap rumah
penduduk yang menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung atau wisatawan.

Penghasilan utama warga Warangan yang berasal dari pertanian menjadikan masyarakatnya melakukan ritual-ritual yang berkaitan dengan kesuburan alam dan lingkungan. Beberapa ritual adat yang biasa dilakukan misalnya, merti dusun, aum tandur, aum panen, nyadran kali, dan nyadran makam.

Setiap pelaksanaan upacara adat pasti melibatkan seluruh warga dusun bahkan ada juga warga dusun lain yang terlibat dalam pentas kesenian itu. Satu di antara upacara tradisi itu adalah Nyadran Kali. Upacara itu diadakan oleh masyarakat Dusun Warangan, dan uniknya hanya diselenggarakan oleh masyarakat Dusun Warangan saja. Hal ini berkaitan dengan asal mula tersedianya sumber air yang digunakan oleh masyarakat. Pada masa dulu masyarakat Dusun Warangan mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Dampaknya adalah masyarakat terjangkit penyakit seperti penyakit kulit karena menggunakan air kotor.  Pada tahun 1983, setelah melalui pencarian yang cukup lama, akhirnya ditemukan sebuah mata air yang lokasinya di tanah milik salah satu warga di tengah hutan Puyam, Dusun Jamusan, Desa Gumelem. Pamong Desa Muneng Warangan segera menemui pemilik tanah, meminta ijin untuk
memanfaatkan mata air itu.

Masyarakat yang terdesak air karena  kemarau panjang, mendatangi pamong Desa Muneng Warangan guna mencari jalan keluarnya. Sang pamong desa kemudian menemui "Orang Pintar". Hasilnya adalah, kalau warga desa akan memanfaatkan air di lokasi salah satu warga itu, masyarakat harus bersedia memenuhi beberapa syarat, antara lain mengadakan selamatan setiap bulan Sapar. Masyarakat juga harus menyediakan sesaji berupa makanan, seperti sesaji untuk nyadran makam. Saat upacara selamatan harus disertai hiburan kesenian yang ada di Desa Muneng Warangan, yang kebetulan di desa itu hanya ada kesenian Tari Soreng. Oleh karena itu, maka setiap bulan Sapar masyarakat Dusun Warangan mengadakan upacara Nyadran Kali sebagai tindak lanjut dan melestarikan pesan leluhur yang telah memberikan kemudahan kepada mereka untuk memanfaatkan mata air Puyam.

Terkenalnya dusun Warangan akan nilai-nilai tradisi membuka kesempatan bagi pemerintah untuk melakukan festival, seperti Festival Lima Gunung. Festival itu diikuti oleh masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing,
Andong, dan Menoreh. Festival yang diselenggarakan di Dusun Warangan itu meliputi musik dan tari seperti lengger, warokan, trunthung, dan lain-lainnya.

Dusun Warangan yang sejuk berubah menjadi arena pertunjukan yang meriah. Di setiap sudut desa atau jalan-jalan dipajang berbagai bentuk hiasan dari jerami kering. Arena pementasan bukan di pendapa atau gedung tertutup melainkan di kebun mawar atau kebun cengkeh, yang merupakan sebagian dari hasil tanaman mereka. Tamu dari luar kota, disediakan penginapan di rumah-rumah
penduduk, dan mendapatkan jamuan makan yang meriah dan semuanya disediakan secara gratis. Orang-orang desa terlibat tidak hanya sebagai peserta tapi pelaku seni.