Belajar Melestarikan Seni dari Event Mengelola Gunung di Magelang

Budaya Dec 04, 2019

Etnis.id - Keindahan gunung dimanfaatkan masyarakat untuk menyusun strategi dalam memikat wisatawan datang ke sana. Sekarang, tidak hanya para pendaki yang datang, wisatawan, budayawan, seniman dan berbagai lapisan masyarakat juga bisa menyambangi gunung.

Kini, selain sebagai tempat pendakian bagi para pecinta alam, gunung mulai dikenal dengan pelbagai acara seni budaya dengan bingkai kemeriahan festival. Ya, festival gencar digarap sedemikian rupa untuk memikat mata memandang.

Ada festival lima gunung di sahabat lima gunung yaitu Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu dan Andong. Tak kalah menarik, ada jazz gunung di bawah dinginnya gunung di Dieng dan Bromo.

Di dalam semua acara festival itu, banyak yang tampil dari pelbagai kalangan masyarakat hingga artis ibukota, bahkan musisi dan penari mancanegara juga ikut pentas.

Kemeriahan festival tak lagi dinikmati warga kota yang ada di dataran, justru festival di lereng gunung lebih banyak mengundang ketertarikan pelancong lokal hingga mancanegara. Seperti pesona kultur budaya, keramahan warga, hingga eksotisme seni lokal, menjadi daya tarik.

Kini ada Festival Kampung Gunung "Telomoyo Ngangeni" yang digelar di lereng Gunung Telomoyo, yaitu di Dusun Dalangan, Desa Pandean, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Festival ini sudah memasuki tahun kedua dan rencananya akan menjadi agenda rutin setiap tahun.

Pelbagai kesenian lokal Magelang disuguhkan di balik indahnya Gunung Telomoyo selama tiga hari. Acara ini dibuka dengan sajian kirab budaya yang dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian-kesenian lokal, di antaranya dari Wahyu Budoyo
Mudo.

Pagi hari, pada hari kedua, ada senam massal Tobelo. Tobelo merupakan salah satu jenis senam yang berasal dari Halmahera Utara, Maluku Utara. Kemudian dilanjutkan lagi dengan pertunjukan 10 grup kesenian Drumblek yang ada di Magelang dan sekitarnya.

Pada puncak acara, tepatnya di hari minggu tanggal 1 desember 2019, banyak acara digelar begitu meriah. Jam 9 pagi, pertunjukan Soreng dari Komunitas Tunas Muda Budaya membuka kemeriahan panggung Telomoyo Ngangeni.

Setelah itu, berlanjut pertunjukan kesenian Magelang yang lainnya yaitu Topeng Ireng Satrio Montro Joyo, Komunitas Soreng Krajan dan terakhir menutup pertunjukan sesi pertama yaitu Topeng Ireng Putra Muda.

Sebelum pertunjukan seni sesi kedua setelah jeda istirahat pukul 12.00 WIB, para penonton disuguhi dengan pertunjukan atlet paralayang yang terbang begitu indah di langit Telomoyo.

Paralayang di Telomoyo/Etnis/Mukhlis Anton

Para atlet paralayang terbang dari bukit Gunung Telomoyo dan mendarat di depan panggung pertunjukan. Namun ada juga yang mendarat di area ladang warga sekitar, karena memang mengikuti arah mata angin yang membawa paralayang terbang.

Acara terbang di langit Telomoyo ini diikuti banyak atlet dari berbagai kota bahkan ada atlet wanita juga. Untuk mencapai puncak Telomoyo, para atlet dibawa menggunakan mobil Jeep Adventure yang sudah tersedia.

Mobil Jeep itu menjadi fasilitas bagi para pengunjung yang ingin naik ke puncak Telomoyo. Dengan merogoh kocek sebesar Rp400 ribu dan maksimal penumpangnya 5 orang. Pemanjaan para pengunjung ini juga menjadi salah satu strategi, agar festival diminati para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

​Tepat jam 2 siang, pertunjukan kesenian tradisional daerah Magelang dimulai lagi dengan menampilkan tari Soreng dengan 200 penari. Perwakilan penarinya tergabung dari beberapa daerah di Magelang. Mereka dinamakan kelompok tari Soreng Istana.

Dinamai Soreng Istana karena mereka pernah menari di Istana Kepresidenan dan menari di depan Presiden pada bulan Agustus kemarin. Mereka bahkan mempunyai julukan “Soreng Menuju Istana”. Ini menjadi hal yang menarik, ketika embel-embel istana ada, seakan menjadi nilai jual dan membuat orang penasaran.

Soreng Istana di Telomoyo/Etnis/Mukhlis Anton

Pertunjukan Soreng jadi memikat, saat semua penonton dipersilakan ikut membuat barisan dan kemudian mengikuti gerakan para penari Soreng. "Menyorengkan Telomoyo" itulah sebutan yang pas untuk acara ini, karena serentak hampir semua orang yang datang baik penari, penonton, pemusik, warga, pedagang dan lainnya ikut menari.

Sepulangnya kelompok Soreng Istana ini dari pentas di depan Presiden RI, geliat kehidupan Soreng di Magelang kebanjiran peminat. Hampir semua warga di Magelang ingin belajar Soreng dan bisa menari Soreng.

Soreng akhirnya mulai banyak peminatnya dan masuk dalam ekstra kulikuler di sekolah-sekolah, baik dari tingkat SD, SMP, hingga SMA. Yang berangkat ke Istana Agustus kemarin pun, penari Sorengnya diwakili dari anak-anak SD, SMP, SMA, hingga penari Soreng dewasa.

Soreng mendapat tempat di hati masyarakat Magelang hingga di beberapa daerah seperti di Bandungrejo, Ngablak, Magelang. Akhirnya, Soreng menjelma menjadi sebuah kesenian yang utama di Magelang. Dari fenomena itu, seharusnya potensi kesenian lain, agar bisa dikenali sampai di seluruh Indonesia, mampu terjadi.

Banyak kesenian-kesenian daerah yang sudah ditinggalkan oleh warga pemiliknya, karena sudah tidak ada lagi minat melestarikannya. Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dan seniman seperti fenomena Soreng Istana ini, tentu saja bisa mengangkat dan menghidupkan kembali kesenian-kesenian yang hampir punah.

Tidak harus kaliber istana, menghidupkan kesenian bisa berangkat dari bawah tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten dan provinsi. Ketika sebuah kesenian dilibatkan dalam acara-acara pemerintah walaupun hanya sekedar membuka acara atau sarana menghibur tamu, tentu kesenian itu merasa dihargai dan akan terus berusaha eksis dengan kreativitas.

Paralayang di Telomoyo/Etnis/Mukhlis Anton

Terlebih lagi jika pemerintah menggandeng seniman dengan konsep yang matang, mau membuat pertunjukan seni Nusantara, kemudian mengundang seniman daerah, tentu kesenian akan tumbuh subur dan berkembang.

Contoh kecil seperti acara yang digelar di Festival Kampung Gunung Telomoyo Ngangeni ini. Acara festival ini bisa menjadi pelatuk untuk bertahan dan membesar bagi kehidupan jenis kesenian yang lain, khususnya di Kabupaten Magelang.

Setelah pertunjukan Soreng Istana selesai, kemeriahan tidak berhenti dengan digelar parade lomba kesenian daerah Magelang. Semua kesenian daerah dikenalkan, dipertunjukkan dan diekspos.

Kesenian yang tampil adalah dari Topeng Ireng Wahyu Suro Madyo, Topeng Ireng Paguyuban Satria Muda, Soreng Putra Sejati, Rampak Buto Wahyu Santoso Budoyo, Kesenian Tari Krincing Manis, dan Soreng Krido Mudo Utomo. Semuanya dari Kabupaten Magelang.

Gelaran Festival Kampung Gunung ini selain menampilkan pelbagai acara, juga menjadi salah satu strategi untuk melestarikan kesenian di Magelang. Memutar roda ekonomi dari mulai seniman, pedagang, wisata paralayang, Jeep Adventure, dan Gunung Telomoyo. Keindahan gunung berfestival menghidupkan keharmonisan kesenian di Magelang.

Editor: Almaliki

Mukhlis Anton Nugroho

Etnomusikolog