Bedhaya Ketawang, Bukan Sekadar Tarian Menghormati Ratu Kidul

Tarian Sep 11, 2019

Etnis.id - Dalam tarian, kerap ditemukan nilai sakral seperti tarian Bedhaya Ketawang yang berumur ratusan tahun. Tarian ini masih dijunjung tinggi, khususnya di lingkungan kraton Kasunanan Surakarta pun Kasultanan Yogyakarta.

Bedhaya Ketawang dikategorikan sebagai jenis tarian keramat dalam lingkungan kraton-kraton Jawa bagian Selatan. Alasannya, tarian ini tidak bisa lepas dari penggambaran filosofis tentang ‘kecintaan’ sosok Gusti Kanjeng Ratu Kidul (Ratu Pantai Selatan) terhadap raja-raja Mataram Islam (Tanjung, 2013).

Dalam Kitab Wedhapradangga, tertulis bahwa Bedhaya Ketawang diciptakan oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusumo, Raja Mataram yang memimpin pada tahun (1613-1645), bersama Kanjeng Ratu Kencanasari (Kanjeng Ratu Kidul).

Hal senada pun juga diungkapkan oleh Muhammad Sholikin di dalam bukunya berjudul ‘Kanjeng Ratu Kidul dalam Prespektif Islam Jawa’. "Tarian ini mengingatkan pada zaman Sultan Agung Hanyakrakusumo. Yang ingin bertemu dengan Ratu Kidul, harus menyelenggarakan tarian Bedhaya Ketawang di malam Selasa Kliwon."

Bedhaya Ketawang dipergunakan untuk menghormati dan mengundang Ratu Kidul agar ia berkenan hati menjaga keseimbangan dan ketentraman kerajaan beserta rakyatnya (Solikin, 2009).

Dalam tarian yang dijalankan sembilan orang ini , tidak sembarang bisa melakukannya. Para penari pun harus dari perempuan (delapan tampak dan yang satu diyakini sebagai Kanjeng Ratu Kidul).

Syarat menjadi penari haruslah menguasai gerak dasar beksan Ketawang, memahami budaya Jawa, memiliki postur tubuh proposional, mempunyai daya tahan tubuh (tarian ini dilakukan selama kurang lebih 2 jam) dan masih perawan serta suci dari haid. Selebihnya, ditambah dengan laku prihatin, tirakat dan puasa mutih.

Para penari nantinya dilatih selama 35 hari sekali. Pada saat pelaksanaannya, mereka dirias layaknya pengantin Jawa dengan memakai dodot bangun tulak yang dipadukan dengan kain cindhe kembang warna ungu.

Riasan rambut berupa sanggul bokor mengkureb lengkap dengan perhiasan yang biasa dikenakan pengantin perempuan, berupa garudha mungkur, sisir jeram saajar, centhung, cundhuk mentul, serta untaian bunga yang digantungkan di dada yang dinamakan tiba dhadha (Tanjung, 2013).

Saat menari, para penari ini harus menempati posisi urutan dari Selatan ke Utara, dengan pelbagai nama peranan masing-masing seperti:

1). Batak (simbol pikiran dan jiwa).
2). Endhel Ajeg (keinginan hati atau nafsu).
3). Edhel Weton (tungkai kanan).
4). Apit Ngarep (lengan kanan).
5). Apit Mburi (lengan kiri).
6). Apit Meneg (tungkai kiri).
7). Gulu (simbol badan).
8). Dhada (simbol hati).
9). Buncit (simbol organ seksual).

Mereka secara keseluruhan dipresentasikan sebagai kontestasi bintang-bintang yang merupakan simbol tawang atau langit yang tidak lepas dari penggambaran alam semesta melalui konsep kraton.

Leluhur Jawa menganggap, Kraton sebagai pusat kerajaan, diibaratkan sebagai inti kosmis yang mengacu kepada empat titik letak geografis penting yang mengelilingi kraton, yakni:

Di bagian Utara terdapat Gunung Merapi dengan penguasa Kanjeng Ratu Sekar; Selatan terdapat Segara Kidul atau laut Selatan dengan penguasa Kanjeng Ratu Kidul; Barat terdapat Tawang Sari Kahyangan Ndilpih dengan penguasa Sang Hyang Pramori;  Timur terdapat Tawangmangu dengan Argodalem Tirtomoyo sebagai penguasa; Gunung Lawu dengan Kyai Sunan Lawu sebagai penguasa.

Pemaknaan selanjutnya terkait representasi mengenai alam semesta adalah inspirasinya di dalam formasi tarian. Formasi itu konon menyimbolkan perbintangan yang disebut nawagraha, yaitu 2+5+2 dan gerakan ke samping kiri dan kanan, kemudian maju memutar, yang melambangkan gerakan menanam padi.

Meski tarian ini hanya dikhususkan bagi persembahan raja, namun di baliknya terelaborasi nilai-nilai agraris sebagai elemen yang turut membesarkan kerajaannya (Tanjung, 2013). Selain itu , tarian ini juga memiliki beberapa simbol bermakna manusia (Jawa) dengan segala kehidupannya untuk mencapai keselarasan hidup.

Seperti proses perjalanan spiritual anak manusia dari purwa (awal), madya (yang dijalani di dunia nyata), wasana (sebagai insan kamil atau manusia sempurna), yang kadang harus dihadapkan pada dilema kehidupan antara menurut hawa nafsu atau kebutuhan batin (Sunaryadi, 2013).

Selanjutnya tarian Bedhaya Ketawang ini pun menjadi simbol dari sembilan lubang yang terdapat di badan wadhag (jasmani) manusia, sebagai simbol mikrokosmos dari jagading manungsa yang terdiri dari dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, dubur dan alat kelamin.

Dalam dunia pendalangan, ketika manusia ingin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cara semedi (mesubudi). Maka harus menutup sembilan lubang di dalam organ manusia yang menjadi sumber dari segala hawa nafsu (amarah, lauwamah, dan supiah). Artinya, manusia harus mampu mengatasi setiap godaan yang berasal dari mulut, penciuman, pendengaran dan nafsu seks (Sunaryadi, 2013).

Makanya di dalam melakukan tarian Bedhaya Ketawang, para penari bergerak mengikuti sebuah pola atau tata rakit/formasi. Adapun pola rakit ini terdiri dari (Fitriyani, 2017):

Pola lantai rakit jalur yang menyimbolkan wujud lahiriah manusia yang terbagi menjadi tiga bagian yakni, kepala, badan, serta seluruh anggota badan.

Pola lantai iring-iringan yang menggambarkan proses hidup batiniah manusia. Yang di dalam prakteknya sebagai manusia, selalu dihadapkan kepada ketidaksesuaian antara kehendak dan pikiran.

Pola lantai ajeng-ajengan menggambarkan siklus kehidupan manusia yang selalu dihadapkan pada dua pilihan, yakni baik dan buruk. Sebagai sifat yang sudah ditakdirkan di dalam diri manusia.

Pola lantai lumebet lajur yakni simbol kepatuhan manusia terhadap norma-norma yang telah disepakati bersama.

Pola lantai endhel-endhel apit medal yakni pola yang menggambarkan ketidakpuasan manusia terhadap segala yang dimilikinya atau sifat manusia yang terkadang kurang bersyukur dan selalu ingin melepaskan diri dari aturan-aturan.

Pola lantai rakit tiga-tiga yakni pola yang menggambarkan perputaran pikiran manusia yang diawali dengan dengan tetap, kemudian goyah dan mencapai kesadaran hingga akhirnya sampai kepada kemanunggalan (penyatuan).

Di dalam perjalanannya, tarian Bedhaya Ketawang masih dilestarikan dan dipertahankan, khususnya pada saat upacara tertinggi tingkatannya di dalam kraton seperti Tingalandalem Jumenengan atau ulang tahun penobatan raja yang diperingati setiap setahun sekali.

Patut diingat, dalam sejarahnya pasca Perjanjian Giyanti 13 Februari 1755, telah terbelah dua Kasultanan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Karenanya, muncul setiap penafsiran yang berbeda-beda saat tari digelar.

Kini, tarian Bedhaya Ketawang menjadi hak milik Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sebagai bagian warisan pusaka non-bendawi Kasultanan Mataram, setelah diwariskan sebagai bentuk penghormatan berdasarkan kedudukannya yang lebih tua dari Kasultanan Yogyakarta. Sebagai gantinya, Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat menciptakan tari Bedhaya Semang.

Editor: Almaliki

R. Dimas Sigit C

Studi Perdamaian & Resolusi Konflik