Bawe Anjat dan Wajah Perempuan di Kutai Barat

Budaya Jul 18, 2019

Etnis.id - Kutai Barat atau Kubar punya tradisi untuk membesarkan seorang perempuan. Di salah satu Kabupaten di Kalimantan Timur ini, lahir istilah bawe anjat.

Mayoritas penduduk di Kubar adalah orang Dayak asli. Dayak sendiri punya beberapa bagian, ada Dayak Bahau, Benuaq, Tunjung, Kenyah. Selain Dayak, di Kalimantan ada suku Kutai.

Berbicara tentang bawe, kata ini berasal dari yaitu bahasa Benuaq yang berarti perempuan. Sementara di suku Dayak lain, yaitu Bahau, perempuan disebut roh dan bahasa Tunjung disebut waweq.

Perempuan dalam konteks pada umumnya, masih dianggap sebagai mahluk kelas dua. Mereka hanya patut disimpan di dapur, kasur, dan sumur. Begitulah, mayoritas dari kita memandang perempuan.

Mayoritas juga memandang maskulinitas lelaki hanya bisa dilakukan oleh lelaki saja. Perempuan dianggap belum atau jangan sampai menjangkau pekerjaan lelaki. Seperti menafkahi keluarga, jadi buruh bangunan, dan sebagainya.

Tetapi, sebagai manusia, sebenarnya tersimpan sisi maskulin dan feminin yang sama-sama besar. Jika diasah, malah bisa membentuk karakter yang timpang di mata masyarakat.

Remaja dayak - foto: pantastik/twitter

Contohnya adalah perempuan yang memimpin sebuah geng motor yang beringas dan lelaki perancang busana perempuan. Banyak dari kita membelalak menerima kenyataan itu dan menganggap itu hal yang tabu.

Pernahkah kita melihat sejarah perempuan pendiri bangsa yang heroik pada zamannya? Ada Cut Nyak Dhien dari Aceh, Maria Walanda Maramis dari Minahasa, dan masih banyak lagi.

Lantas mengapa pandangan masih harus selalu menempatkan perempuan di tempat terbelakang? Nah, perempuan Dayak di Kubar, mengambil peran lelaki dalam kehidupan sehari-hari dan merasa tak ada yang aneh dari itu.

Di sana, mudah kita temui perempuan menjadi seorang petani, pekebun, bahkan nelayan. Mereka dituntut menjadi seorang perempuan yang kuat bekerja sesuai tradisi yang ditinggalkan leluhur.

Bawe Yang Mempertahankan Tradisi

Perempuan Dayak di Kubar juga masih diberi tempat untuk menari hudoq, belian, dan upacara kuangkai atau wara (buang bangkai), serta melakukan ritual besapaq atau besawei yang biasanya dilakukan untuk kelancaran suatu acara di Kubar.

Mengapa perempuan harus diikutkan? Agar tradisi tidak lapuk dan usang. Perempuan disamakan dengan lelaki. Dari contoh di atas, tujuannya adalah menghormati dan meniscayai roh leluhur sebagai bagian kehidupan alam semesta.

Tradisi memang harus diturunkan oleh semua orang tanpa mengenal gender. Jika lelaki sudah tidak bisa, maka masih ada perempuan. Sebagai orang Dayak, saya percaya nilai-nilai kebudayaan mengajarkan perempuan dengan mempertahankan kebudayaan lokal, sama saja mereka mempertahankan identitas kedaerahan.

Anjat atau tas rotan - foto: mithahastanti/twitter

Sampai di sini, jangan salah menilai. Meski tradisi masih dipegang teguh, pemikiran perempuan di Kubar sangatlah maju. Mereka giat dalam membuat asap dapurnya mengebul dan bertahan hidup.

Jika Anda mengunjungi Kubar, banyak pedagang perempuan yang berdagang manik atau rotan. Pembuatan oleole itu masih dilakukan secara tradisional.

Jika berlama-lama, Anda akan menemukan perempuan yang lebih banyak eksis dalam event besar seperti Festival Dahau. Di sana, banyak sekali digelar pameran pernak-pernik khas Dayak.

Di sana, kita bisa melihat langsung bagaimana mereka dengan lihai menggerakkan tangan membuat kerajinan seperti menganyam sebuah anjat (tas) dari rotan.

Anjat itulah yang membuat Kubar dikenal di banyak daerah. Anjat bukan hanya berbentuk seperti ransel, tapi diciptakan untuk bisa dijinjing, diselempangkan, sehingga terlihat cocok dengan zaman.

Dan hal ini membuktikan bahwa betapa besar peran seorang perempuan bagi Kubar. Jika ditanya apakah mampu mengadapi daya saing yang sangat modern, sedangkan lingkungan masih sangat tradisional, jawabannya sudah jelas: iya.

Diibaratkan seperti sebuah anjat, walau terbuat dari rotan, anjat sangat kuat karena bisa menampung berbagai macam benda, berat maupun yang ringan. Begitulah perempuan Dayak atau Kubar.

Ibu-ibu suku dayak - foto: UN Photo/Yusuf Ahmad

Mereka berhasil membuktikan, dengan masih mempertahankan warisan kebudayaan leluhur, bukan berarti pemikiran serta ide mereka sama seperti orang-orang pada zaman dahulu dan tertinggal.

Jika para penari dari Dayak menari di Sendawar dan dikelilingi rumah lamin, serta Festival Dahau digencarkan di media, wajah Kalimantan akan dikenal secara luas. Selain itu, masih ada banyak lagi tradisi yang lain.

Sayangnya, berita tentang Kalimantan hanyalah menyoal pembangunan infrastuktur, tambang, dan sawit. Yang viral, hanya berbicara tentang kota-kota besar.

Penting, iya. Tetapi kapan Kubar diberi kesempatan menunjukkan eksistensinya? Sebagai seorang perempuan dan pemudi Dayak yang lahir pada tahun 1999, saya menginginkan dukungan serta perhatian, bukan hanya dari pemerintah daerah, namun dari pemerintah pusat juga.

Walaupun Kubar termasuk daerah pedalaman serta jauh dari Jakarta, kita bisa lihat sendiri betapa besar potensi dari Kubar. Apalagi peran perempuan. Berminat menyusuri Kubar?

Editor: Almaliki