Menyelaraskan Diri dengan Alam Lewat Sedekah Laut

Ritual Jul 19, 2019

Etnis.id - Manusia merupakan salah satu bagian dari satu kesatuan alam semesta. Olehnya, sudah selayaknya kita bisa membangun diri untuk senada, selaras dengan alam.

Tidak hanya kita, tumbuhan dan hewan juga merupakan satu kesatuan utuh dari alam. Proses penyelarasan inilah yang bermakna dan akan berlangsung selama kita hidup.

Ada petuah bijak bernada: kita bisa hidup tanpa uang, tapi kita tak bisa hidup tanpa alam. Sebagai mahkluk yang bisa berpikir, kita senantiasa melakukan hal yang bersifat teoritis dan praktis.

Teoritis akan menjelma menjadi buah pikiran, kemudian untuk praktis, ini akan menjelma kegiatan-kegiatan yang dilakukan berulang-ulang di dalam kehidupan manusia.

Membahas soal manusia dan hubungannya dengan alam, masyarakat Jawa masih berpegang teguh pada tradisinya dan merasa harus berterima kasih kepada semesta.

Mereka menyebutnya sedekah laut. Ritus ini adalah bentuk syukur atas pemberian Tuhan. Di sisi lain, dipahami sebagai pemahaman manusia atas roh atau hal berbau mistik di dalam laut.

Mitos ini sengaja didesain dengan tujuan membuat manusia ingat jika dirinya bukanlah satu-satunya pemegang kendali kuasa. Untuk itu, manusia tidak bisa berlaku semena-mena.

Sebab dianggap punya dampak besar, ritus ini dirutinkan oleh masyarakat pesisir pantai, serta sebagian besar dilakukan oleh para nelayan.

Sedekah laut tidak serta merta sama antar satu daerah dengan daerah lainnya.
Seperti Desa Gempolan, salah satu desa di Jawa, yang sampai saat ini masih rutin melakukan ritus ini.

Mayoritas masyarakat di Desa Gempolan bekerja sebagai petani. Makanya, kesadaran diri untuk menjaga dan berselaras dengan alam, masih dipegang hingga sekarang.

Di sana, sedekah laut diistilahkan dengan petik laut. Semuanya merupakan manifestasi dari rasa syukur dan permohonan agar diberkahi dan diselamati pada tahun-tahun yang akan datang.

Petik laut/FIickr/Henry Sudarman

Melihat mereka, saya sendiri terkadang masih bertanya-tanya akan korelasi ritual ini. Tetapi ketika diruntut, memang mengandung nilai yang luhur dan pesan moral.

Mengenai ritualnya, sedekah laut bukan hanya diikuti oleh nelayan saja. Lebih dari itu, masyarakat umum bahkan pemerintah setempat juga turut andil.

Sementara di Desa Gempolan, sedekah laut kerap dilakukan dengan sangat meriah. Saking meriahnya, banyak wisatawan tertarik untuk hadir. Perihal konsep, sedekah laut juga mengandung etika pada lingkungan.

Rene Char menganggap kebudayaan merupakan warisan yang diturunkan tanpa adanya surat wasiat. Jika merujuk padanya, kebudayaan merupakan sebuah nasib hingga akhirnya dipanggul menjadi tugas lalu membentuk ritual, seperti sedekah laut.

Selain di Desa Gempolan, sedekah laut yang ada di desa Gempolsewu juga bukan hanya menjadi ritual kebudayaan saja. Tradisi ini juga dianggap memiliki nilai lebih untuk melestarikan ekologi dan ekosistem laut.

Di sana, sesaji dianggap bukan hanya untuk penguasa alam saja, melainkan dianggap sebagai andil memberi makan ikan juga. Mereka percaya, jika rutin, keselarasan kehidupan akan senantiasa terjaga.

Dari sinilah kearifan lokal akan hadir dengan peran yang sangat penting di dalam proses dinamika lingkungan serta kepercayaan untuk mengurangi bencana.

Penting untuk disadari, jika ritus ini diteladani, maka mampu menjaga kelestarian lingkungan. Bisa juga berwujud disakralkan dalam bentuk penanda. Penanda itulah yang akan dipatuhi oleh masyarakat secara turun temurun.

Editor: Almaliki