Lombok dan Tradisi Berburu Nyale

Boga Jul 17, 2019

Etnis.id - Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), bukan cuma Pantai Kuta, Senggigi, Gili Trawangan dan beberapa pulau-pulau kecil lainnya. Ada tradisi unik di sana yaitu berburu nyale atau bau nyale.

Nyale merupakan satwa laut sejenis cacing berukuran kecil berwarna-warni yang dominan berwarna hijau. Mereka hidup bergerombol dan keluar dari bibir pantai pada waktu-waktu tertentu. Saat musim nyale menggeliat tiba, warga Lombok pun bau nyale sekali setahun.

Musim inilah yang dipercaya mampu mendatangkan kesuburan, hasil panen berlimpah, tanah-tanah menggembur dan masyarakat akan dibukakan rezeki. Begitulah kepercayaan masyarakat setempat, boleh percaya dan tidak.

Nyale tidak ditangkap begitu saja tanpa diapa-apa. Nyale akan berakhir di sebuah piring untuk disantap. Lalu apa sih yang mendasari orang bau nyale? Ternyata ia punya sejarah berbau cerita rakyat pada umumnya.

Cerita ini diawali dari legenda kerajaan Tanjung Bitu. Kerajaan tersebut hidup tentram dan damai. Warga dan kerajaan hidup harmonis dan berkecukupan. Kerajaan tersebut memiliki putri mahkota yang cantik nan jelita.

Sang putri mahkota kerajaan itu bernama Putri Mandalika. Kecantikannya merepresentasikan perbuatannya. Perempuan Tanjung Bitu tersebut memikat tutur katanya dan perbuatannya ramah.

Banyak pemuda dan pangeran yang ingin menjadikan dirinya sebagai istri. Segala cara pernah ditempuh, termasuk datang melamar langsung ke orangtuanya. Sayangnya, Putri Mandalika selalu menolak.

Mereka yang melamar kerap terlibat perselisihan antarsesama, hingga memicu lahirnya konflik. Melihat itu, kerajaan Tanjung Bitu yang tak ingin ada kekacauan dan pemberontakan karena memperebutkan Putri Mandalika.

Akhirnya dibuat sayembara: siapa yang menang, akan dipilih untuk dijadikan sebagai suami. Selesai. Pemenangnya muncul, namun Putri Mandalika masih enggan untuk menikah dengan siapa pun.

Desas-desus di desa tentang siapa yang akan menjadi suami Putri Mandalika hingga mengapa Putri tak ingin diperistri, menjadi bahan perbincangan mulai dari anak kecil, pemuda, hingga orang tua.

Bimbang menyelimuti. Putri Mandalika berpikir, jika dirinya memilih salah satunya, maka yang lain akan cemburu. Ia tak ingin membuat orang yang mencintainya merasa kecewa dengan keputusannya.

Lalu pada suatu malam, Putri mengundang semua pemuda dan pangeran ke sebuah tempat di atas bukit, dekat dengan bibir pantai. Di sana, ia berencana mengumumkan siapa yang akan berhak mendapatkan dirinya.

Semua warga kampung yang mendengar, datang berbondong-bondong. Mereka ingin menyaksikan siapa gerangan pemuda beruntung yang dipilih oleh Putri.

Saat diumumkan, Putri berjalan ke depan tebing dan berdiri menghadap semua warga. Ia menyampaikan keputusannya: tidak memilih siapa pun. Mengapa? Ia menganggap dirinya adalah milik semua orang.

Milik semua orang? Begitu pertanyaan semua warga yang hadir saat itu. Lebih jelasnya, ia khawatir, bila memilih salah satu, akan melahirkan permusuhan yang tak kunjung selesai.

Maka ia putuskan untuk terjun ke dasar laut bersama para pengawalnya dan menghilang di tengah ombak. Warga hendak menyelamatkannya. Sayang, Putri tak bisa ditemukan, kecuali nyale. Warga yang melihat binatang kecil itu menganggap sebagai perwujudan sang putri.

Sampai sekarang, nyale masih dianggap sebagai jelmaan Putri. Omong-omong, nyale muncul sekitar Februari setiap tahun. Saat itu, banyak warga yang memburunya untuk disantap.

Selain di Lombok, di kampung saya, Bima, banyak warga yang memanfaatkan musim nyale. Mereka biasanya membawa satu keluarga dan menginap di pantai sambil menunggu nyale menggeliat di bibir pantai.

Nyale sendiri hanya muncul di beberapa wilayah saja dan di tempat-tempat tertentu. Seperti di Bima, ia hanya muncul di Pantai Tanawu, sedangkan Pantai di sekitarnya tidak ditemukan Nyale. Di tempat Anda barangkali ada?

Editor: Almaliki

Ruslan

Penyuka kopi