Etnis.id - Memiliki keanekaragaman dari segi seni, budaya, agama, hingga aliran-aliran kepercayaan, telah menjadi berkah tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dari hal itu, sedikit banyaknya membentuk karakter masyarakat tertentu.

Tetapi pertanyaannya, dari mana asal karakter itu? Mengapa karakter setiap orang di daerah tertentu dalam Indonesia, nyaris semua berbeda-beda? Tak jarang, orang mengaitkan itu bermula dari simbol yang menjadi ciri khas dari masing-masing kebudayaan setempat. Tokoh perwayangan salah satunya.

Perwayangan di Indonesia sudah tidak asing. Dalam perjalanannya, wayang sebagai sebuah pertunjukkan telah dikenal masyarakat Jawa sejak 1500 tahun yang lalu. Dalam perjalanannya, wayang sudah digunakan untuk media dakwah, penyebaran agama dan penggambaran karakter manusia.

Dari sana, lahirlah tokoh-tokoh wayang seperti Bawor atau Carub dari daerah Banyumas. Bawor atau Carub ini nantinya dianggap sebagai salah satu karakter wong Banyumas.

Mayoritas orang Banyumas menganggap, tokoh-tokoh besar hingga nyaris seluruh wong Banyumas, berkarakter seperti Bawor yakni jujur, lurus dan blak-blakan. Beda dari tokoh wayang Panawakan seperti Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.

Bawor atau Carub sendiri merupakan pakem pendalangan Banyumasan yang mengambil pedoman dasar dari cerita ‘Layang Purwacarita’ karya Prabu Wisayaka raja Kediri Daha 1104-1115.

Sama dengan Bawor atau Carub, orang Banyumas mempunyai gaya bicara ngapak. Seperti karakter cablaka, yang secara etimologis berarti ‘balaka’ atau ‘walaka’ yang bermakna blak-blakan.

Mirip wayang/FIickr/Baiaou

Ngapak pun secara tidak langsung mengambarkan kondisi geografis Kabupaten Banyumas. Mengingat sejak era kerajaan Mataram Islam, Banyumas menjadi wilayah yang jauh dari kehidupan kraton di Jawa bagian Selatan.

Hasilnya, Banyumas secara bahasa berbeda dari yang lain. Apa itu? Mayoritas masyarakatnya tidak menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil sebagai hasil dari apa yang diistilahkan dengan ‘adoh ratu cedhak watu’ (jauh dari raja dan tetap dengan batu).

Soal di balik karakter yang cablaka, sosok Bawor atau Carub juga digambarkan sebagai bayangan dari sosok sang Semar. Sebagaimana dikatakan Budiono Herusatoto (Herusatoto, 2008), kehadiran Bawor atau Carub dengan bentuk tubuh yang besar, perut bulat berpusar bodong, suara besar dan berat.

Dilahirkan dari hasil ciptaan bayang-bayang Semar oleh Sang Hyang Tunggal untuk menjadi teman seperjuangan dan hidup menuju tempat tugas Semar di Ngarcapada (alam dunia para wayang), maka lahirlah sosok yang bentuknya seperti Semar, yakni Bawor atau Carub.

Bawor secara etimologis berasal dari bahasa Kawi, yaitu ‘Ba’ artinya ‘Sunar’ (cahaya atau sinar), dan ‘Wor’ artinya ‘Awor’ (campur). Demikian juga dengan kata Carub, artinya campuran--campuran dari cahaya terang dan gelap--cahaya terang yang terhalang oleh suatu benda, sehingga bercampur dengan cahaya gelap dan memunculkan bentuk berupa bayang-bayang.

Dari sifatnya ini, terlahirlah norma-norma kehidupan yang memiliki nilai tinggi yang akhirnya melekat pada pribadi Bawor seperti: Sabar lan narima; berjiwa ksatria; cancudan (rajin serta cekatan).

Lebih jauh, Bawor diibaratkan sebagai raga (badan) dan Semar ibarat roh (jiwa). Artinya, dalam hidup harus bisa menyatukan yang baik meski dalam keadaan susah (menghadapi masalah) maupun senang (bisa menguraikan masalah).

Bagi orang Banyumas, seseorang lebih bisa dihargai ketika di dalam pergaulan sehari-hari, ia menegur lawan bicaranya dengan menyebut namanya tanpa meninggalkan sikap sopan santun.

Hal ini tampak ketika wong Banyumas lebih sering menyebut ‘inyong’ untuk dirinya sendiri dan ‘kowe’ untuk orang lain. Berbeda dari krama ingggil bukan? Hadirnya sikap gaya bahasa ini, melahirkan filosofi tersendiri bagi wong Banyumas seperti tenimbang pager wesi, mendhingan pager tai.

Wayang dan dalangnya/FIickr/Jay Sim

Arti dari kalimat itu adalah berarti daripada pagar besi, lebih baik pagar tahi. Inilah prinsip orang Banyumas. Untuk mendapatkan rasa aman, ciptakanlah ketentraman dalam bertetangga, yang berarti saling menjaga dalam kehidupan kolektif.

Bagi wong Banyumas, semua manusia sama kedudukannya di mata Tuhan. Itu yang membuat mereka egaliter. Sifat lainnya, seperti yang digambarkan oleh sosok Bawor, adalah bersikap cancudan, yakni suka bekerja keras.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap kerja keras merupakan sikap hidup manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sungguh-sungguh. Seperti gambaran kepala dan kaki, yang menunjukkan simbol kehormatan.

Bagi wong Banyumas, bekerja itu tidak hanya mengandalkan otak semata, meski dalam realitasnya kerja otak selalu dibayar mahal. Mereka beranggapan, jika hanya mengandalkan kerja otak, akan menimbulkan ketidaksempurnaan dalam bekerja keras. Olehnya, dibutuhkan juga keterpaduan dengan kerja otot untuk hasil yang maksimal.

Wong Banyumas, sebagaimana citra sosok Bawor adalah berjiwa ksatria yang dalam sejarahnya, jiwa ini terbentuk oleh lingkungan geografis Kabupaten Banyumas yang hidup di luar kuasa kerajaan Jawa dan Sunda.

Sikapnya yang anti hegemoni sebagaimana yang disimbolkan melalui bahasa ngapak ‘adoh ratu cedhak watu’, telah melahirkan jiwa-jiwa ksatria yang selalu kritis dengan keadaan dan hegemoni. Sebagaimana sejarah Kabupaten Banyumas pada masa Raden Tumenggung Yudonegoro V yang ngilani (menantang) Raja Kraton Surakarta, sebab dianggap berani menanam pohon beringin kurung kembar di alun-alun Banyumas.

Penanaman pohon beringin kurung ini sendiri adalah simbol kewibaan kraton-kraton Jawa dan tidak ada yang berani melanggarnya dikarenakan takut kualat. Namun keberanian dari sikap Yudonegoro V ini, justru telah membawa kebanggaan bagi wong Banyumas.

Karena dengan sikap demikian, Yudonegoro V diangkat sebagai orang andalan kraton Surakarta yang ditakuti oleh pihak kolonial yakni Sir Thomas Stamford Raffles (Herusatoto, 2008).

Karakter sabar dan menerima yang hadir dalam sosok wong Banyumas melalui simbol Bawor, adalah tidak adanya sikap sebagaimana ungkapan ‘wong sing kagetan, gumunan, dadi melik lan klepyan’.

Karakter tersebut membuat wong Banyumas selalu hati-hati di dalam bertindak, hingga tidak mudah terjebak pada harta dan kedudukan yang membuat dirinya lupa.

Makanya sikap itu telah menjadikan wong Banyumasan sebagai masyarakat yang penuh dengan kejayaan yang selalu menjadi penyeimbang dalam kehidupan sebagaimana karakter Bawor, seperti bayang-bayang.

Editor: Almaliki