Tradisi Mantu Kucing di Pacitan, Melunturkan atau Mempertebal Iman?

Ritual Aug 20, 2019

Etnis.id - Tradisi Mantu Kucing di desa Purworejo, Pacitan, Jawa Timur, terbilang unik. Ini didasari dari sejarah leluhur, ihwal ritual yang harus dijalankan agar kemarau panjang berhenti di sana.

Awalnya, sebab kekeringan di Pacitan, petunjuk atau ilham turun kepada sesepuh. Dalam pesan itu, ia diminta menjalankan upacara pernikahan antara mempelai putri (kucing betina Desa Purworejo) dan mempelai pria (kucing jantan dari Desa Arjowinangun).

Uniknya lagi, kucing betina harus dalam keadaan masih perawan tir-tir dan kucing jantan juga harus dalam keadaan masih perjaka. Konon, setelah melakukan ritus ini, hujan yang dinanti datang.

Sampai kini, Mantu Kucing di Desa Purworejo Kecamatan Pacitan masih dilaksanakan, meski tradisi dan agama seringkali dianggap sebagai dua hal yang kontradiktif.

Saya menganggap, perbedaan itu tidaklah menjadi jurang pemisah yang dalam antara keduanya. Keberadaan tradisi seharusnya tidak menggoyahkan agama, tetapi justru mengokohkan keimanan manusia.

Apa dasar saya? Pertama, dalam perspektif islam, tradisi Mantu Kucing telah merefleksikan anjuran nabi Muhammad. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Turmudzi, disebutkan bahwa nabi Muhammad pernah mengatakan:

“Orang-orang Pengasih akan disayangi oleh Sang Maha Pengasih. Jadi, sayangilah makhluk-makhluk di bumi, maka Penghuni Langit akan menyanyangimu”.

Menikahkan kucing betina dan kucing jantan selayaknya pernikahan manusia dalam tradisi tersebut, menjadi bukti bahwa penduduk desa Purworejo dan Arjowinangun melaksanakan anjuran agama Islam.

Dampak/hasil/balasan dari tradisi Mantu Kucing adalah kasih sayang dari penghuni langit yang diwujudkan lewat turunnya hujan sebagai obat dari kemarau panjang.

Tradisi Mantu Kucing mengisyaratkan dua hal sehubungan dengan anjuran Nabi Muhammad di atas, yakni upacara menikahkan kucing jantan dan betina sebagai refleksi bentuk kasih sayang terhadap makhluk-makhluk di bumi.

Kedua adalah, harapan hujan yang turun sebagai tanda akhir musim kemarau, dipercaya merupakan refleksi bentuk balasan kasih sayang Penghuni Langit atas upacara pernikahan tersebut.

Pemilihan kucing yang masih gadis (perawan) dan perjaka dalam tradisi Mantu Kucing juga merefleksikan anjuran agama Islam untuk merawat hewan peliharaan, khususnya kucing.

Dalam hadits riwayat Bukhori dijelaskan, bahwa ada seorang wanita yang dimasukkan ke dalam neraka karena tidak memberikan makan pada seekor kucing yang ia ikat.

Dari sana, penduduk Desa Purworejo dan Arjowinangun, Pacitan, memelihara kucing jantan dan betina yang hendak dinikahkan dengan baik seperti layaknya manusia. Mulai dari pemberian makanan hingga perawatan sehari-hari.

Tradisi-tradisi baik seperti ini yang membuat penduduk Desa Purworejo dan Arjowinangun berharap kebaikan-kebaikan dari Pemilik Semesta menaungi penduduk desa.

Selain penentuan keperawanan dan keperjakaan, pemilihan ‘kucing’ sebagai media ritual tradisi juga merefleksikan anjuran agama Islam. Sejarah Islam punya cerita tentang para pecinta kucing seperti Abu Huroirah (Sang Perawi Hadis) dan Abu Bakar As-Syibli (Masyhur dengan julukan Mahkota Cinta Para Sufi).

Abu Hurairah sebenarnya bukan nama asli, tetapi nama julukan. Julukan Abu Hurairah diperoleh karena kasih sayangnya terhadap kucing. Nama aslinya adalah Abdul Syam, kemudian berganti nama menjadi Abdur Rohman setelah masuk Islam.

Abu Hurairah memiliki makna Ayahnya Kucing sebagai tanda betapa sayangnya ia kepada para kucing. Julukan tersebut dilatarbelakangi oleh kebiasaanya sehari-hari menggendong anak kucing di lengan bajunya, sehingga ia sudah seperti orang tua dari anak kucing tersebut.

Abu Bakar As-Syibli atau dikenal dengan sebutan Imam Syibli juga memiliki kisah hebat tentang kucing. Diceritakan oleh Nawawi (Mufti dari Banten) dalam karyanya Nashoihul Ibad. Syibli dimasukkan surga bukan karena amal ibadahnya, seperti salat, puasa, haji, umroh, dll. Tetapi, karena kasih sayangnya terhadap kucing.

Suatu malam di Baghdad, Syibli melihat seekor kucing yang meringkuk kedinginan, kemudian ia mengambilnya dan memasukkannya ke dalam jubah yang ia pakai agar kucing tersebut tidak kedinginan. Dari momentum inilah, Syibli dimasukkan ke Surga.

Tradisi Mantu Kucing, secara tersirat menyampaikan pesan-pesan religius terhadap masyarakat ihwal rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk di bumi, khususnya kucing. Saya berharap semoga tradisi tidak dianggap sebagai penghalang antara hamba dan Pencipta, tetapi justru sarana mendekatkan diri terhadap Penguasa Semesta.

Editor: Almaliki

Akhmad Idris

Pendidik di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.