Sepenting Apakah Pertunjukan Wayang dalam Budaya Jawa?

Budaya Dec 12, 2019

Etnis.id - Sudah banyak ilmuwan budaya yang mendefinisikan pertunjukan wayang. Setiap definisi yang ditawarkan, tidak ada satu pun yang bersifat mutlak, bergantung dari aspek mana si ilmuwan memaknai pertunjukan wayang, apakah dari aspek literal, kultural atau spiritual.

Namun ada satu kesepakatan dari alam bawah sadar yang tidak dapat diganggu gugat, bahwa pertunjukan wayang merupakan pertunjukan teater tradisi Jawa yang memainkan bayang-bayang. Tidak peduli apakah dinikmati dari depan maupun belakang kelir.

Van der Tuuk dan Brandes menyalin prasasti tembaga yang ditemukan di Bali, hasil salinan menunjukkan prasasti tersebut berasal dari tahun 1058 M, di dalamnya tertulis "...hanabawal atapukanaringgit". Kata ringgit hingga saat ini masih menjadi sinonim dari wayang (Sri Mulyono,1982).

Secara lebih mendetail, Timbul Haryono, 2008, menyatakan bahwa pertunjukan wayang telah muncul sejak abad 9 M. Dapat ditelusuri melalui prasasti Kuti 840 M yang memuat istilah 'haringgit'. Sementara padanan kata untuk 'ringgit' bisa dijumpai di prasasti Tajigunung 910 M.

Di dalam prasasti Tajigunung, istilah 'haringgit' digunakan secara bergantian dengan 'awayang'. Informasi lebih lengkap terkait wayang, dihadirkan oleh prasasti Wukajana dari abad 10 yang menuliskan kalimat "...mawayang bwat hyang" (Timbul Haryono, 2008).

Berdasarkan teknis penyajian pertunjukan wayang yang penuh dengan kompleksitas, maka sudah tepat Jan Mrazek, seorang peneliti wayang dalam kaitannya dengan media teknologi dari NUS (National University of Singapore), menyatakan bahwasanya:

"...wayang is the most important and highest form of Javanese art, one that express central tenets of Javanese culture and worldview, and they celebrate the 'multimedia' nature of wayang, the way it combines painted and carved puppets, verbal arts, complex movement, and music." (Jan Mrazek & Morgan Pitelka, ed, 2008, What's The Use of Art? Asian Visual and Material Culture in Context).

Berikut terjemahan bebas kalimat di atas: Wayang adalah bentuk seni Jawa yang tertinggi dan paling penting, yang mengekspresikan prinsip sentral budaya dan pandangan dunia Jawa. Dan mereka merayakan sifat 'multimedia' wayang dengan cara menggabungkan wayang yang dilukis dan diukir, seni verbal, gerakan kompleks dan musik.

Sri Mulyono, yang mengutip dari Over de Oorsprong van Het Javaansche Tooneel, 1931, W.H. Rassers, percaya bahwa wayang adalah pertunjukan ajaib. Sebuah sintesa kebudayaan manusia yang tidak mungkin dijumpai di belahan dunia lain.

Terkait fungsi, pertunjukan wayang yang lebih komperhensif, Douglas Storey, 2009, dalam artikelnya di Asian Journal of Communication berjudul Mythology, Narrative, and Discourse in Javanese Wayang Towards Cross-Level Theories For The New Development Paradigm, menguraikan pertunjukan wayang ke dalam wilayah: Hiburan, edukasi/Propaganda, ritual/upacara, ekspresi kebudayaan, transmisi sosial/sosialisasi dan koneksi sosial.

Douglas Storey mendasarkan rumusan fungsi pertunjukan wayang pada pendapat jalinan makna budaya, bahasa dan kebiasaan yang diajukan Geertz, serta anggapan citra wayang sebagai refleksi pengetahuan budaya dan ideologi yang diajukan Mangkunegara dan Ben Anderson. Lebih lanjut lagi, Franz Magnis Suseno, 1982, menulis bahwa wayang merepresentasikan keambiguan dan beragam pertentangan dalam hidup.

Nicola Levell menyebut, puppets are storytellers and transporters. They bring the past into present. The supernatural into the real. The satirical into the social sphere in a playful way. Yang kira-kira, begini terjemahan bebasnya: wayang adalah pendongeng dan pengangkut. Mereka membawa masa lalu ke masa kini. Membuat supernatural menjadi nyata. Ia menyampaikan satir ke ranah sosial dengan cara yang menyenangkan.

Apabila ditarik simpulan dari semua pendapat tentang fungsi pertunjukan wayang di atas, maka hasilnya akan bermuara menuju kesadaran bahwa pertunjukan wayang merupakan memori penyimpanan kebudayaan masyarakat Jawa dari masa lampau, yang terus-menerus bermutakhir sesuai jalannya peradaban.

Tak sebatas memori penyimpanan, akan tetapi sebuah sistem yang melekat pada ruang material dan immaterial masyarakat Jawa. Sehingga kalau ditautkan terhadap sebuah konstruksi komputer atau laptop, pertunjukan wayang bukanlah hard disk, melainkan motherboard.

Sekilas tentang pertunjukan wayang hari ini

Pertunjukan wayang lazimnya pertunjukan teater modern, bersifat aktif serta responsif. Merekam serta melakukan koreksi atas berbagai peristiwa sosial, ekonomi, politik, lingkungan, hingga mistik. Namun, pertunjukan teater modern tidak akan mampu menyerupai teknik komunikasi layaknya pertunjukan wayang, yang sanggup melintasi sekat dimensi sosial bahkan dimensi kehidupan antarmakhluk.

Merujuk pada statement Ki Mantep bahwa pakem bukan harga mati. Maka boleh saja pertunjukan wayang dimodifikasi, melahirkan jenis-jenis pertunjukan wayang kontemporer yang nganeh-anehi, seperti adanya Wayang Bocor, Wayang van Java, Wayang Komik dan lain sebagainya.

Kehadiran rupa-rupa kontemporer tersebut nyatanya tidak pernah mampu
menjadi representasi sejati masyarakat dan hanya bertahan dalam satu kurun waktu momentum belaka. Semata mengemas estetika wayang yang diselaraskan terhadap tuntutan modernisme, tapi melupakan unsur paling mendasar pertunjukan wayang, yakni peran pertunjukan wayang selaku indikator sekaligus motherboard budaya Jawa.

Di dalam rangkaian utuh pertunjukan wayang, bisa dilihat sebuah garis kronologis imajiner peradaban masa Jawa kuno yang berharmoni dengan masa Jawa modern saat ini. Mulai dari bahasa, guyonan, sampai tata cara bersikap, pertunjukan wayang menyimpan semua anasir kebudayaan di masing-masing peradaban.

Mungkin contoh yang paling tepat untuk mewakilkan pernyataan di atas adalah pertunjukan wayang Ki Seno Nugroho. Secara pribadi. saya menilai sajian wayang Ki Seno berbeda sekali dengan teknis penyajian Ki Sudjiwo Tejo yang, entah sengaja atau tidak, semata menyasar kawula muda, merombak tatanan pakem cerita wayang, lalu membuat sanggit secara ekstrem sehingga agak kurang digemari orang-orang tua.

Sedangkan Ki Seno menghadirkan pertunjukan wayang yang benar-benar seimbang. Ia tahu di mana harus menempatkan 'kebaruan' dan di mana menempatkan pakem tatanan. Hasilnya, Ki Seno diterima oleh banyak kalangan, baik dari kawula muda maupun orang-orang usia tua.

Menjaga pertunjukan wayang

Seperti yang telah dikemukakan, pertunjukan wayang menyimpan ingatan kolektif kebudayaan masyarakat Jawa. Orang boleh lupa bagaimana cara hidup yang berbudaya Jawa, namun orang tidak perlu khawatir akan kelupaan-nya, karena bisa sewaktu-waktu mengakses memori kebudayaan yang terlupa dengan cara menonton motherboard (pertunjukan wayang).

Layaknya kain yang senantiasa kering, itulah wayang. Menyerap dan lalu menyimpan segala macam ideologi serta budaya masyarakat. Tidak percaya kalau pertunjukan wayang juga menyimpan ideologi? Cari saja di internet pertunjukan wayang yang digelar PKI pada tahun 50'an dengan membawa lakon Gusti Sampun Seda (Geertz, 2014).

Oleh karena pertunjukan wayang menyimpan bahasa, etika, ideologi, spiritual, teknologi dan budaya Jawa, maka pertunjukan wayang juga berposisi sebagai 'sumber air' kebudayaan Jawa. Seandainya pertunjukan wayang terlalu dimodifikasi dan mencampakkan pakem-pakemnya, bukan tidak mungkin hal itu menjadi tanda bahwa budaya Jawa mengalami destruksi.

Selebihnya, andaikata pertunjukan wayang tidak lagi ada, maka itu adalah tanda pasti matinya intelektualisme kebudayaan Jawa. Melalui maraknya penggunaan Youtube dan sosial media, para dhalang secara cerdik mengunduh pertunjukan wayang yang ia mainkan. Atas dasar tujuan ingin mengamankan motherboard budaya Jawa. Sehingga dapat diakses sewaktu-waktu oleh masyarakat Jawa yang ingin mengakses isi motherboard budaya Jawa itu.

Tanpa adanya tindak preventif semacam itu, bisa jadi masyarakat sama sekali kehilangan jejak akan kebudayaannya sendiri. Menjaga pertunjukan wayang tidak hanya menjadi tanggung jawab dhalang beserta kru, akan tetapi tanggung jawab masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, seutuhnya.

Editor: Almaliki

Fajar Laksana

Sastra Jawa, UGM