Pertarungan Kebaikan Melawan Kejahatan dalam Tari Barong

Tarian Oct 31, 2019

Etnis.id - Tari Barong merupakan salah satu jenis tarian tradisional yang ada di Bali. Tarian ini menggunakan topeng dan kostum yang dipakai satu sampai dua orang penari dalam pertunjukan. Topeng itu juga berwujud hewan.

Barong memiliki beberapa karakter yakni Barong Ket, Barong Macan, Barong Bangkung, Barong Gajah, Barong Asu dan masih banyak lagi. Dan biasanya, karakter yang dimiliki Barong ialah karakter hewan berkaki empat, tapi saat ini ada juga perwujudan hewan berkaki dua.

Saat pentas, kedua penari yang ada di dalam kostum berbagi tugas untuk memainkan kostum karakter. Penari bagian depan menjadi penggerak dan pengendali bagian topeng kepala dan kaki bagian depan. Kemudian penari bagian belakang bertugas mengendalikan badan dan ekor Barong, sesuai dengan pergerakan kepala Barong. Para penari Barong dikenal dengan sebutan Juru Saluk dan Juru Bapang.

Tari Barong juga memuat nilai-nilai spiritual sekaligus nilai kesenian dalam setiap komponen yang dimilikinya. Dia dipercaya sebagai seni yang termasuk dari kekayaan budaya pra Hindu di Bali, seperti tari Sanghyang yang juga bersifat religius dan sakral.

Tari ini menggambarkan peperangan antara dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan). Dalam pertarungan ini, kebaikan diwujudkan dengan penari Barong, sedangkan keburukan atau kebatilan ditampilkan oleh sesosok Rangda yaitu raksasa seram bertaring panjang.

Pertunjukan tari Barong

Dalam pertunjukan, kostum dan topeng hewan yang dipakai oleh penari, juga diyakini sebagai simbol pelindung. Ragam jenis karakter hewan yang terdapat dalam tari Barong, biasanya memuat ciri khas cerita yang berbeda-beda. Lain hewan, lain cara menarikannya.

Yang sering saya lihat, Barong yang sering ditampilkan dalam pertunjukan seni yaitu Barong Ket atau Barong Keket. Barong Ket menggunakan komponen kostum dan tata laksana tarian yang lengkap dari perbendaharaan gerak tariannya. Saat ditampilkan, Barong Ket berwujud kolaborasi antara bentuk singa, macan dan sapi.

Kostumnya, pada bagian badan, terbuat dari kulit yang diukir dan juga berhiaskan potongan cermin berukuran kecil sebagai detail. Pernak-pernik ini membuat badan Barong seperti ditempeli permata dan berkilau saat terkena cahaya. Barong Ket juga biasanya dipasangkan dengan Rangda, sosok yang menggambarkan kejahatan atau keburukan.

Selama pertunjukan, tarian ini diiringi oleh alunan gamelan khas Bali yang membuat pertunjukan semakin memukau. Tak ketinggalan, saat jalannya pertunjukan, para penonton juga disuguhkan dengan selingan adegan lucu hingga atraksi yang memukau. Seperti atraksi tari Keris yang menunjukkan adegan penusukan keris pada para penari. Laiknya debus, penampilan atraksi mempertontonkan kekebalan yang terdapat di Pulau Bali.

Saat pertunjukan tari Barong, memang terdapat nuansa dan hawa mistis yang dapat dirasakan penonton. Hal ini juga berasal dari material kostum Barong itu sendiri. Dalam proses pembuatannya, bahan utama yang digunakan merupakan kayu-kayu tua dan keramat. Tak heran, tari Barong masih dianggap sebagai tarian yang sakral meski sudah ada beberapa pertunjukan yang dimodifikasi dan dapat ditonton sebagai pertunjukan umum.

Salah satu ragam variasi bentuk Barong yaitu Barong Bangkung yang memiliki karakter hewan babi/Etnis/Maya Arina

Sejarah dan perkembangan tari Barong

Soal muasal, tari Barong punya beberapa versi. Dalam versi mitologi Hindu, diceritakan bahwa kata Barong berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari kata bahruang yang merupakan hewan dengan kekuatan gaib dan dimaknai sebagai pelindung kebaikan.

Pada versi yang lain, tari Barong dianggap sebuah perwujudan dari penguasa alam gaib yang terdapat di Bali. Hal ini yang membuat orang Bali pada zaman dulu memakai tari Barong untuk mengusir energi negatif dan melindungi warga dari gangguan mahluk halus.

Ada pula yang menyebutkan bahwa tari Barong berasal dari kisah para raja dan ksatria pada masa lampau, khususnya kisah tentang perjalanan Dewa Siwa mencari Dewi Uma. Hal ini kemudian dikaitkan dengan cerita Barong dan Rangda.

Di sisi lain, ada sumber yang menyebutkan bahwa tari Barong merupakan adaptasi dari kesenian Barongsai milik budaya Tionghoa. Namun ini diperdebatkan, sebab masyarakat menilai bahwa dalam tari Barong terdapat perbedaan yang sangat jelas dari segi cerita dan nilai filosofisnya dengan Barongsai.

Meski punya banyak versi tentang asal mulanya. Yang pasti, masyarakat tetap percaya tentang kehadiran tari Barong di Bali merupakan warisan nenek moyang yang sakral dan memiliki nilai filosofis di dalamnya.

Tari Barong juga dipercaya sebagai media untuk mengusir berbagai penyakit yang disebabkan Leak (roh jahat) dan tidak, atau energi buruk yang dapat mengganggu manusia.

Dalam tarian ini, intinya ada pesan bahwa kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Hal ini tergambar jelas saat Barong menang melawan Rangda, meski harus melalui pertarungan sengit.

Kini, sesuai perkembangan zaman, tari Barong banyak berubah model tersebab pengaruh dari lingkungan sosial masyarakat di Bali. Dari yang mulanya hanya ditarikan saat upacara keagamaan, sekarang sebagai sarana hiburan dan pertunjukan seni pariwisata.

Walau zaman bergerak, tetap ada perbedaan dari fungsi tari Barong itu sendiri. Agar tetap sakral, orang Bali memberi batas yang tidak boleh dilewati oleh tari Barong yang sifatnya menghibur dan memuat pertunjukan seni. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan tempat pelaksanaan, gerakan, cerita, hingga ritual yang dilaksanakan.

Saat Tari Barong berperan menjadi sarana hiburan, tarian ini akan memuat penampilan seni pertunjukan yang sangat indah diselingi adegan-adegan lucu yang memancing gelak tawa penonton. Saat tari Barong ditampilkan saat upacara di dalam pura, maka tarian ini akan dibawakan dengan sangat serius. Dengan batasan dan aturan seperti itu, kita atau masyarakat Bali bisa membuat tari Barong dapat dinikmati siapa saja.

Editor: Almaliki