Jenis-jenis Cendol dan Segelintir Filosofinya

Boga Oct 30, 2019

Etnis.id - Es cendol dawet cocok diminum saat cuaca panas. Gurihnya santan, manisnya gula jawa, yang dipadukan lembutnya cendol, satu sruputan meluncur mulus ke tenggorokan menghilangkan rasa dahaga.

Es cendol dawet ini biasanya dijajakan di pinggir jalan oleh abang-abang yang terlihat gagah di depan gerobaknya bertopi dan berkalung handuk. Dengan kelincahan tangannya meracik dan meramu bahan es cendol, ia menolong kita dari dahaga. Biasanya segelas cendol/dawet dipatok dengan harga Rp5 ribu.

Ternyata es cendol dawet ini banyak macamnya.  Seperti es cendol Sunda, dawet Banjarnegara, dawet ireng Purworedjo, dawet Jepara, dan dawet selasih Solo. Dawet tiap daerah ini memiliki kekhasan dan keunikan sendiri.

Es Cendol Sunda. Cendol dipercaya berawal dari minuman khas Sunda yang terbuat dari tepung hunkwe. Cendol ini disajikan dengan es serut, gula merah dan santan. Rasanya manis dan gurih. Kata cendol sendiri dipercaya dari kata jendol yang merujuk sensasi jendol-an saat menyantap butiran cendol. Masyarakat Sunda biasa menyebut ‘nyendol’. Cendol khas Sunda sekarang dibuat dengan tepung beras dan biasanya disajikan dengan tambahan potongan nangka. Buah nangka matang biasa dipotong kecil dan dicampurkan dalam saus gula merah.

Es Dawet Banjarnegara. Di Jawa, cendol populer dengan sebutan dawet. Es dawet paling enak diakui berasal dari Banjarnegara. Adonan dawet ini terdiri dari tepung beras dan air. Setelah jadi adonan yang lentur, dawet lalu dicetak menjadi bentuk panjang-panjang. Saat disajikan, dawet dicampur dengan santan dan gula merah. Makin segar lagi jika dinikmati dengan es batu.

Dawet Banjarnegara ini paling mudah ditemui di pasaran dengan sebutan dawet ayu. Dawet ayu biasanya dijual oleh lelaki yang membawa dengan gerobak dorong atau yang tradisional dengan alat angkut yang terdiri dari dua gentong, satu wadah cendol atau dawet, satu wadah es santan. Dan tak kalah uniknya terdapat dua tokoh Punokawan, yaitu Semar dan Gareng di bagian atasnya.

Dawet Ireng Purworejo. Dawet yang satu ini sedikit aneh karena warnanya ireng atau hitam. Butiran dawet berwarna hitam, karena diperoleh dari abu bakar jerami yang dicampur dengan air, sehingga menghasilkan air berwarna hitam. Air ini kemudian digunakan sebagai pewarna. Dalam penyajiannya, menu ini mengunakan gula jawa cair dan santan serta ditambahi es.

Dawet Jepara. Dawet satu ini cukup unik dan berbeda. Kalau pada umumnya dawet terbuat dari tepung beras atau ketan, maka Dawet Jepara menggunakan tepung sagu aren jadi teksturnya lebih halus dan kenyal. Untuk penyajiannya, menggunakan gula jawa dan santan, serta ditambah dengan toping irisan nangka, alpukat dan durian yang disajikan dengan es batu.

Dawet Selasih Solo. Bijih selasih atau biasa disebut dengan telasih, merupakan salah satu bahan campuran dawet di Solo. Es ini banyak dijumpai di kawasan Pasar Gedhe. Seporsi es dawet telasih ini terdiri dari tape ketan, bubur sumsum, dawet hijau dan tak lupa bijih selasih. Kemudian dicampur dengan santan dan cairan gula putih. Ditambah dengan es batu akan membuat rasanya makin segar. Jika Anda sedang bermain-main di kota Solo, rasanya kurang lengkap, jika belum melipir sejenak merasakan sensasi kesegaran dawet selasih di kota solo.

Menurut Fadly Rahman, seorang peneliti yang banyak sejarah pangan dan boga. Cendol dan dawet dinilai memiliki sejarah yang sama, hanya saja penyebarannya yang berbeda. Katanya, cendol lebih dekat dengan masyarakat Jawa Barat atau pada kuliner Sunda. Sedangkan dawet lebih akrab terdengar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan cendol dan dawet ternyata berbeda. Dawet pada umumnya menggunakan tepung beras. Sedangkan cendol menggunakan hunkwe (tepung kacang hijau). Meski saat ini cendol maupun dawet dapat menggunakan bahan lain sebagai inovasi produk, namun pada intinya bahan baku utamanya merupakan bahan yang mampu membentuk tekstur gel.

Sebenarnya ada makna filosofis dari minuman tradisional yang segar ini, yang menarik untuk kita ulik. Pada pernikahan di Solo, yang mana saya sendiri lahir di kota Solo, adalah tradisi Dodol Dawet, yakni saat orangtua sang pengantin wanita berjualan dawet kepada para tamu undangan.

Tahukah kalian makna di balik tradisi tersebut? Bentuk dawet yang bulat pun memiliki makna dan filosofi tersendiri. Bulatnya dawet merupakan perlambang kebulatan hati dan kesiapan orangtua untuk menjodohkan anaknya.

Sementara sisi menarik dalam prosesi Dodol Dawet adalah para undangan yang membeli dawet harus menggunakan kereweng atau pecahan genting, bukan uang. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia sejatinya dimulai dan ‘dinafkahi’ dari bumi.

Kemudian, yang bertugas melayani pembeli adalah sang ibu dan yang menerima pembayaran adalah sang bapak. Ini sekaligus untuk mengajarkan pada sang anak, bahwa dalam kehidupan berumah tangga dengan suami, haruslah saling membantu.

Sedangkan pada Dawet Banjarnegara ada angkringan dawet ayu terdapat gambar Semar dan Gareng. Makna simbol Semar dan Gareng adalah pengharapan musim mareng atau kemarau. Ini artinya, dengan adanya simbol Semar dan Gareng pada pikulan, pedagang dawet ayu mengharap pembeli datang untuk membeli dawet ayu.

Fungsi kepercayaan dari penggunaan simbol Semar dan Gareng yaitu penggunaan kayu kembang kanthil sebagai media pembuatan simbol Semar dan Gareng, karena kayu tersebut bersifat magis dan dapat dipercaya sebagai pelaris. Tak hanya itu, cendol dawet menjadi bakcsound lagu-lagu campursari maupun dangdut.

Cendol dawet, cendol dawet seger, lima ratusan gak pake ketan. Ji, ro, lu, pat, limo, enem, pitu, wolu. Tak kintang-kintang, tak kintang-kintang, tak kintang-kintang, lololo, ngono lho!

Cendol dawet ini pertama kali dikenalkan oleh Abah Lala, pria asal Boyolali yang merupakan pentolan dari orkes MG86. Lirik ini dibuat untuk mengubah tampilan musik dangdut yang terkesan kurang bagus jika didengar oleh anak-anak dan khalayak umum.

Gara-gara cendol dawet, hampir seluruh lapisan masyarakat kaum bisa bersatu setelah mengatakan cendol dawet sambil berjoget ria, dengan penuh kebahagiaan. Dengan bersenjatakan cendol dawet, maka semakin menguatkan persatuan bangsa Indonesia. Begitu ampuhnya, cendol dawet tak hanya sebagai minuman pelepas dahaga di panas yang terik, namun bisa menjadi alat pemersatu bangsa.

Editor: Almaliki

Ary Indah Mustikasari

Alumnus Sastra Dan Pengajar Di Kota Solo