Pasaran: Ruang Imaji untuk Anak Perempuan

Budaya Nov 25, 2019

Etnis.id - Dengan mimik muka serius, Putri mencampurkan pelbagai bahan ke dalam wajan kecil. Sore ini Putri akan memasak sesuatu untuk kemudian dijual.

Di sebelahnya, dengan wajah yang tak kalah serius, Fitri menuangkan air ke dalam adonan berwarna cokelat. Seperti sedang membuat minuman. Gelas-gelas kecil sudah disiapkan.

Terkadang terdengar obrolan di antara keduanya. “Aku minta tolong, garam.” Atau “Itu airnya terlalu banyak, nanti rasanya hambar.” Atau sedikit seloroh, “Ini jangan dijual murah. Nanti untung kita sedikit.”

Pemandangan yang demikian itu hampir saya dapati setiap sore hari. Dua anak perempuan, Putri dan Fitri sedang asyik bermain Pasaran persis di samping rumah saya.

Tak jarang pula mereka membuka lapak di beranda rumah. Tak hanya Putri dan Fitri, kadang juga turut serta beberapa anak perempuan. Saya tertarik dengan aktivitas yang mereka lakukan.

Permainan yang didominasi anak perempuan ini membuat saya ingin mengetahui lebih dalam. Karena secara kebetulan saya memiliki anak perempuan. Mungkin permainan tradisional ini akan berguna bagi masa depannya.

Ini yang sering luput dari perhatian tentang sesuatu yang dianggap tradisional, kuno, tinggalan leluhur. Bahwa sebenarnya tradisi-tradisi tersebut bisa saja menjadi kunci di masa depan.

Ya, permainan tradisional ini disebut Pasaran. Sesuai namanya. Pasaran dari kata dasar pasar. Tempat di mana aktivitas jual beli dilaksanakan. Secara khusus dalam pasaran yang ditonjolkan adalah aktivitas mengolah makanan atau memasak untuk kemudian dijual.

Seperti membuka kedai, warung atau kafe yang menyajikan menu khas dari anak-anak perempuan itu. Sesuka imaji mereka menggambarkan apa. Pasaran jamak kita temui dalam kehidupan anak-anak perempuan.

Untuk di Jawa, sering dikenal dengan Pasaran. Untuk wilayah lain, mungkin ada yang menggunakan nama sesuai dengan karakter daerah masing-masing.
Pasaran paling cocok dilakukan pada waktu sore hari. Setelah bangun dari tidur siang dan sebelum mandi. Kenapa? Karena tangan kotor, baju terciprat campuran air dan tanah adalah pemandangan yang biasa.

Anak-anak perempuan itu bermain penuh dengan totalitas. Bak koki andal, tangan-tangan mungil mereka cekatan menjumput tanah, menuangkan air, mengaduk-aduknya dengan penuh kesungguhan. Seakan mereka sedang benar-benar sedang memasak.

Kadang juga muncul, “Eh gasnya habis.”. Saya yang mendengar sampai tersenyum-senyum sendiri. Mana tabung gasnya? Yang ada adalah peralatan masak dengan ukuran sangat mini yang terbuat dari lempung atau tanah liat yang biasa dijual di acara Pasar Malam di acara Sekatenan misalnya.

Gelas, piring, sampai wajan, termasuk teko. Ditambah dengan kaleng biskuit bekas, botol obat yang sudah tidak terpakai, beberapa keping potong genteng atau keramik. Pokoknya barang bekas apa saja bisa digunakan untuk memantik imajinasi anak-anak perempuan itu.

Imajinasi adalah salah satu modal kuat untuk menerobos pintu pengetahuan. Dari imajinasi, timbul rasa ingin tahu yang semakin menjadi. Dari permainan Pasaran, kita bisa melihat banyak hal yang terkait paut dengan pendidikan karakter anak-anak.

Dalam Pasaran anak-anak belajar berhitung. Tidak hanya berhitung angka, lewat penjumlahan, pengurangan atau pembagian. Tetapi juga belajar berhitung akurasi bahan apa saja yang bisa digunakan.

Daun yang mana saja yang akan diolah. Atau jenis tekstur tanah yang seperti apa yang cocok dijadikan olahan yang mirip dengan sambel pecel, kuah bistik atau jenis makanan yang menggunakan bumbu berwarna cokelat gelap.

Ketika mulai memilih bahan, daun misalnya. Daun apa saja yang diperlukan. Daun pisang atau daun tumbuhan liar yang bahkan anak-anak itu tidak tahu nama jenis daun tersebut. Mereka belum peduli soal nama.

Begitu sudah ditumbuk halus, yang ada di dalam imajinasi mereka, daun itu bisa mewujud menjadi makanan apa saja. Suka-suka mereka menyebut makanan apa pada akhirnya.

Yang tak kalah membuat tersenyum adalah, seolah mereka menjadi orang yang lebih tua berpuluh-puluh tahun dari usia mereka yang sekarang. Sebutan “Yu” dari kata “Mbakyu”, atau “Mbok” atau “Budhe” juga sesekali terlontar.

Sebuah kebebasan berekspresi yang tak ternilai dan mungkin saja tidak akan terulang. Momen yang sangat berharga bagi anak-anak perempuan itu. Dalam hati kecil mereka, mungkin pada masa depan mereka sangat memimpikan memiliki kemampuan bisa memasak.

Syukur bisa sampai dengan tahap jual beli. Artinya proses simulasi dari perencanaan, produksi, sampai distribusi terkait bagaimana mereka akan mempromosikan jualannya, sudah mereka dapatkan dalam Pasaran.

Di beberapa sekolah di kota besar melaksanakan kegiatan ini melalui Cooking Class atau Market Day. Hari di mana mereka belajar menjadi koki sekaligus pengusaha andal.

Tetapi Pasaran lebih mudah dan murah dilakukan. Tidak ada aturan yang terlalu mengekang soal apa yang harus dimasak dan dijual. Karena yang mereka masak dan mereka tawarkan bukan makanan sesungguhnya.

Imajinasi mereka masih dalam koridor tahu batas. Tidak ada proses mencicipi ketika memasak. Kalau pura-pura mencicipi iya. Jadi tidak hanya soal kecerdasan ekonomikal, namun kecerdasan sadar ruang sebagaimana dalam dunia teatrikal juga didapatkan.

Secara tidak sadar anak-anak sudah mulai belajar berakting dan aktualisasi diri. Sudah mulai sadar peran sejak dini. Iya, sekali lagi berbahagialah ketika di tempat tinggalmu masih menjumpai anak-anak yang bermain Pasaran. Bukan anak-anak yang pacaran.

Editor: Almaliki

Didik W. Kurniawan

Etnomusikolog