Mengenal Gredoan, Cara Menggombal dari Suku Osing

Budaya Sep 26, 2019

Etnis.id - Di Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi, terdapat solusi untuk problematika asmara bernama gredoan. Dalam penelitiannya, Qurrotul Ainiyah (2018)  tentang menyebutkan bahwa istilah gredoan berasal dari bahasa Osing yang bermakna nggridu (saling menggoda).

Gredoan menjadi ajang pencarian jodoh suku Osing. Mulai dari jejaka dan gadis hinggapara janda dan duda. Tradisi ini sangat universal dan meratai semua golongan, tak peduli muda pun tua.

Teruntuk kalian yang bukan suku Osing, jangan berkecil hati karena khawatir tidak memiliki kesempatan menjemput jodoh di Desa Macan Putih. Meskipun gredoan adalah tradisi orang Osing,mereka juga memperbolehkan orang luar suku Osing mengadu beruntung dalam gredoan.

Toh sebagian penduduk Desa Macan Putih yang tidak memiliki anak yang masih gadis, biasanya mengundang kerabat atau sahabatnya dari luar desa agar ada wajah baru, sehingga bisa menambah keseruan acara.

Gredoan ini dilaksanakan oleh suku Osing Banyuwangi sejak tahun 1960. Namun ada beberapa tokoh yang mengatakan sebelum kemerdekaan Indonesia. Perayaannya dilaksanakan setiap setahun sekali bersamaan dengan Maulid Nabi bukan tanpa alasan, sebab masyarakat Desa Macan menganggap bulan kelahiran Nabi Muhammad merupakan bulan yang baik untuk mencari jodoh.

Perkembangan tradisi gredoan dari tahun 1960 atau sebelum Indonesia merdeka menurut Jurnal Aqlam (Journal of Islam and Plurality) hingga saat ini telah mengalami beberapa perubahan dalam pelaksanaannya.

Perbedaan yang paling mencolok antara gredoan zaman dulu dan gredoan zaman sekarang, terletak pada alat dan tempat pelaksanaan nggridu (lelaki merayu si gadis). Dulu alat yang digunakan adalah sodho (lidi), sedangkan sekarang menggunakan ponsel. Dulu tempat yang digunakan adalah gedheg (rumah berdinding bambu), sedangkan sekarang berganti menjadi bangunan batu.

Tradisi gredoan zaman dulu: Kuno, tapi romantis

Gredoan dulunya dilakukan dengan sangat sederhana, namun sangat bersahaja. Fahmi Bahar Prabowo (2017) dalam penelitiannya tentang tradisi gredoan suku Osing menjelaskan bahwa tradisi gredoan zaman dulu, pada mulanya dilaksanakan di gedheg seorang janda yang telah dipercaya oleh masyarakat sekitar.

Gadis-gadis yang telah beranjak dewasa, nantinya menginap di rumah janda tersebut, setelah sebelumnya dikode oleh lelaki yang ingin me-nggridu-inya. Selanjutnya, para perjaka tir-tir mengantre di depan rumah janda untuk melakukan gredoan dan semuanya tidak merasa terganggu dengan pasangan yang lain.

Uniknya, para perjaka tidak takut akan tertukar dengan gadis pasangan temannya. Hal ini disebabkan oleh kode rahasia yang telah disepakati sebelumnya, yakni bisa berupa suara alas kaki atau irama ketukan dinding dari sela-sela gedheg. Romantis sekali. Pernyataan ini diambil oleh Fahmi setelah mewawancara sesepuh desa.

Perkembangan gredoan hingga era kekinian

Gredoan juga dilaksanakan pada malam hari sebelum acara slametan di masjid ketika para gadis sedang membantu ibunya, bibinya atau saudaranya di dapur yang sedang memasak makanan dan kue-kue khas acara Maulid Nabi di masjid.

Sebelum melakukan gredoan, para lelaki mengincar terlebih dahulu gadis yang hendak diajak ke jenjang yang lebih serius. Setelah itu, Sang Lelaki menemui dan memanggil Sang Gadis melalui dinding gedheg dan memasukkan sodho melalui sela-sela gedheg.

Jika sodho dipatahkan, berarti Sang Gadis menerima cinta Si Lelaki. Hal yang terjadi selanjutnya adalah Si Lelaki dan Sang Gadis saling merayu dan memulai percakapan-percakapan ringan dengan tetap dibatasi oleh dinding gedheg. Sebab berduaan tanpa halangan dulunya dianggap tabu. Cara lewat sodho ini diungkapkan oleh Hasnan Singodimayan, selaku sastrawan dan budayawan asli Banyuwangi.

Berbeda dengan penelitian Qurratul Ainiyah (2018) yang menyatakan konsep yang kontradiktif tentang sodho. Dituliskan bahwa sodho yang dipatahkan menunjukkan cinta yang ditolak, sedangkan sodho yang dikembalikan sebaliknya. Perbedaan tersebut tidak menjadikan masalah, tetapi justru menambah khazanah budaya nusantara.

Setelah melakukan dodok sodho (memasukkan lidi), Si Lelaki meminta izin ke orang tua Sang Gadis untuk mengenal dan meminang. Pengumuman tentang anak gadis yang telah dipinang, dilaksanakan di acara maulid yang disusul dengan acara lamaran, kemudian pernikahan.

Hasnan Singodimayan juga menambahkan bahwa Si Lelaki biasanya sudah mengincar Sang Gadis untuk dijadikan pasangan hidup yang bermuara pada munggah kawin (pernikahan).

Konsep dari gredoan yang seperti ini sebenarnya adalah konsep yang diimpi-impikan oleh mayoritas kaum hawa. Gredoan merupakan kepastian yang ditunggu-tunggu wanita seluruh dunia.

Saat ini, tradisi gredoan teleh berkembang mengikuti arus mobilisasi. Pertemuan yang dilakukan secara langsung, tetapi tetap didampingi oleh orang tua. Penggunaan ponsel menjadi aspek yang tidak bisa dihindari. Namun mau modern atau klasik, gredoan telah banyak membantu masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya dalam menggapai pernikahan.

Editor: Almaliki

Akhmad Idris

Pendidik di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.