Kisah di Balik Tradisi Saparan Bekakak

Ritual Sep 27, 2019

Etnis.id - Masih banyak masyarakat yang percaya akan kekuatan alam dan melahirkan pelbagai tradisi unik yang sampai sekarang masih dilestarikan. Saparan Bekakak merupakan salah satu buktinya. Upacara yang digelar rutin setiap tahun ini menarik untuk diikuti.

Masyarakat Ambarketawang, Gamping, Yogyakarta tidak pernah absen untuk melakukan perhelatan ini. Kenapa disebut Saparan Bekakak. Penyebutan Saparan ini relevan dengan pelaksanaan upacaranya, yaitu setiap bulan Sapar, bulan kedua di dalam kalender Hijaiyah, kemudian untuk bekakak sendiri yaitu korban penyembelihan. Bisa berupa hewan atau manusia.

Manusianya bukanlah manusia sungguhan, melainkan sepasang boneka pengantin yang terbuat dari ketan dan sirup gula merah. Saya pernah mengikuti langsung upacara penyembelihan boneka Bekakak ini. Kebetulan lokasi ritualnya tidak begitu jauh dari tempat saya kuliah.

Menurut beberapa sumber, upacara Saparan Bekakak ini bermula dari sebuah bencana yang melanda Kyai serta Nyai Wirosuta--pasangan suami isti dan juga abdi dalem Pangeran Mangkubumi. Saat itu, karena sedang menjabat sebagai raja baru, Sultan memiliki rencana untuk mendirikan kediaman. Tentu pembangunan kediaman tidak bisa selesai dalam waktu yang singkat.

Sembari menunggu kediamannya selesai dibangun, Sultan memilih pesanggrahan Ambar Ketawang sebagai kediamannya untuk sementara waktu. Kepindahan Sultan ke kediaman baru juga diikuti oleh beberapa abdi dalem. Konon, Kyai dan Nyai merupakan abdi dalem  kraton yang paling setia.

Pada tahun 1755 Keraton Yogyakarta akhirnya selesai dibangun. Dalam waktu yang bersamaan pula, Sultan pindah ke istana barunya. Akan tetapi, perpindahan Sultan tidak diikuti oleh kyai dan Nyai Wirosuta. Mereka memilih untuk tetap berdiam diri di pesanggrahan supaya bisa merawat tempat peristirahatan raja.

Tanpa berpikir panjang, Sultan langsung mengabulkan permintaan mereka. Akan tetapi, siapa yang bisa menduga terjadinya bencana? Tidak berselang lama dari perpindahan Sang Raja, tepatnya pada hari Jumat Kliwon, bulan Sapar, sebuah Gunung Gamping yang berada di dekat pesanggrahan runtuh. Banyak warga yang menjadi korban, termasuk Kyai dan Nyai Wirosuta.

Kejadian bencana pada bulan Sapar tidak hanya sekali saja. Sejak runtuhnya Gunung Gamping, Desa Ambarketawang sering sekali terkena musibah. Yang mengherankan, musibahnya terjadi pada bulan Sapar.

Keresahan warga akhirnya terdengar hingga ke telinga Sultan. Tidak lama kemudian Sultan bertapa di Gunung Gamping. Dalam proses pertapaan, Sultan mendapatkan wisik, yaitu sebuah bisikan dari Setan Bekasakan, penunggu Gunung Gamping.

Wisik tersebut berbunyi kalau setiap tahun, Sultan harus mempersembahkan sepasang pengantin sebagai ganti atas penggalian batu kapur.  Alih-alih mengorbankan sesaji seperti yang diminta. Sultan mengelabuinya dengan mengganti sesaji dengan boneka berwujud pengantin.

Tepung ketan dan sirup gula merah menjadi bahan utamanya. Siapa yang bisa menyangka jika tipuan ini berhasil. Hingga akhirnya, Saparan Bekakak masih terus dilaksanakan. Masyarakat setempat percaya, jika sesaji tersebut mampu mengusir roh jahat.

Prosesi upacara pengantin boneka bekakak

Sama seperti upacara pengantin yang lazim terjadi di Jawa yang selalu diawali dengan midodareni. Upacara Bekakak juga diawali dengan Midodareni Bekakak yang merupakan salah satu upacara adat yang masih dilakukan sampai sekarang oleh masyarakat Jawa.

Konon, saat malam midodareni ini nanti, para bidadari akan turun dari khayangan untuk memberikan restu kepada sepasang pengantin. Saat acara midodareni berlangsung, semua pemimpin, sesepuh hingga warga desa akan berkumpul bersama-sama. Lalu makan nasi kenduren bersama. Pertunjukan reog yang diiringi dengan uyon-uyon serta campur sari, turut melengkapi acara ini.

Tradisi pengantin Bekakak sangat meriah dan diikuti oleh banyak orang. Saat orang sudah berkumpul, upacara akan dilanjutkan dengan mengambil air amerta. Prosesi pengambilan air ini juga sangat khidmat. Pengambilan air dilakukan oleh sesepuh dengan menggunakan pakaian kejawen. Tak lupa juga, tembang Jawa dilantunkan untuk mengiringinya.

Setelahnya, upacara dilanjutkan dengan melakukan kirab ke Balai Desa Ambarketawang. Seluruh perlengkapan upacara nantinya akan diberikan kepada Kepala Desa Ambarketawang. Lalu keesokan harinya, akan diarak lagi
menuju Pesanggrahan Ambarketawang. Prosesi lalu dilanjutkan dengan menghadirkan pertunjukan wayang kulit.

Kirab boneka pengantin Bekakak ini merupakan kegiatan arak-arakan dengan membawa boneka pengantin menuju ke tempat penyembelihan. Pada saat yang bersamaan, diarak juga sesaji lain. Burung merpati serta boneka raksasa tidak absen dibawa. Upacara dilanjutkan dengan menyembelih sepasang pengantin bekakak. Sudah disediakan panggung khusus untuk acara ini.

Saat prosesi penyembelihan selesai dilakukan, upacara dilanjutkan dengan membakar kemenyan sebagai lambang terkabulnya sebuah permohonan. Jika sudah, tokoh agama akan mempin doa. Sampai di sini, ritus belum selesai. Prosesi terakhir yaitu pelepasan burung merpati jambul putih.

Kegiatan ini merupakan sebuah lambang jika semua sesaji kelak akan diterima oleh Kyai dan juga Nyai Wirosuta. Saat pelepasan merpati inilah yang merupakan puncak kemeriahan upacara Bekakak. Terakhir, sisa sesaji kemudian dibagikan kepada para pengunjung. Seusai dibagikan, maka acara kirab pun selesai.

Upacara Bekakak ini sangat mengesankan. Bagaimana tidak, saat zaman sudah terlampau modern seperti sekarang ini, masyarakat Yogyakarta masih setia menjaga tradisi. Yang tidak kalah mengesankan yaitu kesederhanaan serta keramahan warga sekitar dengan jiwa gotong royongnya.

Hal itu bisa dilihat saat semua masyarakat bersatu padu mengikuti menggelar upacara Bekakak tanpa memikirkan untung dan kerugiannya. Hingga akhirnya, keunikan upacara sarapan pengantin Bekakak ini dijadikan sebagai budaya tahunan.

Editor: Almaliki