Membudayakan Udeng, Kini dan Nanti

Kultur Dec 06, 2019

Etnis.id - Udeng adalah ikat kepala yang terbuat dari kain. Hampir semua wilayah di Jawa dan Bali memiliki udeng atau iket. Bentuknya beraneka ragam, tergantung dari mana udeng itu berasal.

Awalnya udeng adalah selembar kain (kurang lebih panjang dan lebarnya setengah hingga satu meter), yang dibentuk dan diolah secara manual untuk dilekatkan di kepala.

Membuatnya membutuhkan kejelian, keterampilan, ketekunan, kesabaran dan rasa estetika yang tinggi dari pemakainya. Namun, karena merangkai udeng terlalu sulit dan kompleks, maka saat ini udeng bisa dibeli langsung jadi, tinggal dipakai layaknya topi.

Namun udeng bukanlah topi, memakainya sarat akan beban-beban makna. Udeng mempresentasikan kultur dan karakter. Memakai udeng berarti sebuah proses untuk menjadi masyarakat native (gugum gumelar, 2013).

Memahami detail nilai-nilai budaya masyarakat di mana udeng itu berasal. Dengan demikian, memakai udeng Ponorogo berarti mencoba meresapi keagungan kebudayaan Ponorogo. Memakai udeng ala Sunda berarti meresapi nilai-nilai kesundaan, begitupun udeng dari daerah yang lain.

Lelaki di Bali memakai udeng sewaktu menjalani ritual Melasti/Etnis/Maya Arina

Jika ditelisik secara historis, masyarakat pribumi memakai udeng untuk perayaan ritual adat dan perkumpulan adat. Pada zaman dahulu kala, penggunaan udeng bagi pria yang telah akil balik merupakan suatu keharusan.

Hal itu dipercaya guna menjauhkan diri dari pengaruh roh-roh jahat, santet dan teluh. Udeng ditaruh dan disimpan di tempat keramat, diberi wewangian dan mantra khusus. Ia bertugas melindungi kepala, terutama otak dari sihir dan pengaruh negatif lain.

Udeng kemudian tak sebatas kain. Ia memiliki warna dan motif yang khas. Di Bali misalnya, untuk kepentingan ibadah di pura, bisanya memakai udeng dengan warna putih. Warna itu perlambang kesucian, ketulusan dan kemurnian diri.

Warna putih sengaja dipilih untuk mempresentasikan makna yang dalam. Udeng dipakai di kepala, membukus harta terpenting manusia yakni otak. Memakainya menambah kepercayaan diri dan mengembalikan fitrah, mengingatkan kembali dari mana kita berasal dan hidup.

Udeng di Bali, walaupun telah menjamur dan diperjual-belikan secara bebas, namun kandungan nilai yang terkandung tidaklah pernah padam. Di Ponorogo, udeng yang dipakai berwarna hitam pekat dan terdapat motif batik putih di setiap tepinya.

Warna hitam menandakan dunia yang sakral, mistis dan gaib. Kehadirannya seringkali berdampingan dengan kemenyan dan bunga tujuh rupa. Biasanya dipakai oleh para warok ataupun pemain reog.

Kesenian tradisi adalah rumah sebagai eksistensi udeng di Ponorogo. Pertunjukan Reog misalnya, hampir mustahil untuk dipisahkan dari udeng. Terdiri dari berbagai macam bentuk dan lipatan. Hal ini juga mempresentasikan tingkat dan golongan kasta.

Konon antara bangsawan dengan rakyat jelata dapat dilihat dari bentuk dan jenis iketnya. Pemain warok yang sakti mandraguna akan berbeda bentuk dan warna iket dengan jangganong atau pemain jatilan.

Sementara di kebudayaan yang lebih dekat dengan keraton (istana), udeng identik dengan masyarakat akar rumput. Para penghuni istana atau keraton jarang memakai iket, namun blangkon dengan aneka corak yang khas, sesuai kedudukan dan pangkat.

Udeng tetua di Samin/Etnis/Lesli Citra

Udeng dapat dibuat menyerupai blangkon, namun udeng bukanlah blangkon. Udeng lebih fleksibel, dalam bentuknya yang lain dapat digunakan untuk membasuh keringat, sajadah salat bagi yang beragama Islam.

Di Surabaya, udeng (disebut iket) berwarna merah dengan motif batik hitam. Menandakan keberanian dan keteguhan diri. Dipakai oleh penari Remo dalam pertunjukan ludruk. Sebuah tarian yang berkisah tentang kepahlawanan (heroisme), atau perjuangan dalam menentang penjajah dan kesewenang-wenangan.

Jika hendak menceritakan sosok pahlawan daerah Surabaya dan sekitarnya (Untung Suropati, Sakerah, Sogol, Sarip Tambak Oso), udeng menjadi penanda yang tak dapat ditiadakan. Memakai udeng Surabaya seperti Cak Lontong dan Sujiwo Tejo di layar kaca, seolah berusaha agar tak putus dari akar tradisi dari mana mereka berasal.

Walaupun hidup di rantau, udeng menjadi benda berharga yang mengingatkan kultur di kampung halaman. Ia sebagai pelepas rindu dan sekaligus jati diri pemakainya.

Udeng mempresentasikan masyarakat kultur bawah. Ia menjadi simbol dari suara dari akar rumput. Banyaknya ragam dan jenis udeng di nusantara laksana etalase keragaman kultur Indonesia, yang berbeda tetapi tetap satu.

Udeng bukan hanya semata aksesoris. Berusaha mempertautkan manusia masa kini dengan penggalan sejarah dan kebudayaan yang dimilikinya. Udeng mengajarkan tentang arti kebersamaan, kerukunan, kesucian, kesabaran, kesantunan dalam menghargai perbedaan.

Dari udeng, sejatinya kita bisa belajar tentang banyak hal. Kini, udeng juga menjadi benda cindera mata. Sebagai oleh-oleh dari suatu daerah tertentu. Udeng menjadi hiasan di tembok dan di dinding rumah.

Namun sayang, kajian-kajian ilmiah yang mengulas fungsi dan makna udeng tidak banyak dilakukan. Oleh karenanya, jangan heran jika ke depan udeng dengan berbagai variasi dan bentuknya tak lagi dapat dimengerti kandungan unsur filosofisnya.

Kita pun bisa membuat ragam pola baru dengan udeng. Di kepala orang-orang kreatif, udeng bisa menjadi hiasan kepala yang unik dan memukau. Dengan demikian, keberadaan udeng dapat menambah sisi kreativitas bagi pemiliknya.

Sudah selayaknya kini kita budayakan kembali pemakaian udeng, seperti memakai songkok dan sarung bagi umat musim. Zaman boleh saja berubah, namun udeng tetap mengikat kencang di kepala sebagai simpul yang menandakan keragaman
kultur dan identitas bangsa.

Bukankah identitas nasional dibangun dari puncak-puncak kebudayaan daerah? Udeng, walaupun hanya selembar kain, tentu akan mampu memberi sumbangan berarti dalam konteks ini.

Editor: Almaliki

Aris Setiawan

Etnomusikolog, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta