Memanggil Roh Leluhur dalam Tarian Hudoq

Tarian Aug 15, 2019

Etnis.id - Suku Dayak merupakan masyarakat asli yang mendiami pendalaman Pulau Kalimantan. Kehidupannya tak pernah lepas dari adat istiadat masyarakat yang turun temurun.

Salah satu corak kehidupan masyarakat asli Dayak yang mendiami pedalaman hutan belantara adalah masih primitif dan terkesan jauh dari akses informasi global.

Suku Dayak bisa dibilang masih tertutup untuk berkontak dengan dunia luar, namun sebagian lainnya sudah membaur dengan masyarakat urban dan perkotaan.

Seperti pada daerah lainnya, suku dayak itu unik. Pakaiannya banyak diberi manik-manik dari batu. Mereka juga punya rumah adat sendiri, kesenian tari dan musik, hingga ritual-ritual adat.

Dari sekian banyak kebudayaan Suku Dayak, tulisan ini akan membahas secara umum tari tradisional Hudoq yang dilakukan masyarakat Dayak Bahau dan Dayak Modang, setelah selesai manugal atau menanam padi.

Tari hudoq saat dipentaskan di TIM, 10 Agustus 2019/ETNIS/Dumaz Artadi

Hudoq berguna untuk memohon pada sang pencipta, agar tanaman padi mereka melimpah ruah dan dijaga dari berbagai serangan hama yang membuat tanaman tidak tumbuh subur.

Hudoq biasanya dimainkan oleh 11 orang bertopeng kayu yang melambangkan hama perusak tanaman. Wajah topeng bisa berbeda, disesuaikan dengan wajah hama dan satwa-satwa berbahaya lainnya. Bila babi adalah hama, maka topeng penari akan dibuat mirip babi atau hewan sejenis lainnya.

Sedangkan kostum menutup seluruh bagian tubuh yang diambil dari kulit pohon, rumbia daun pisang atau daun kelapa. Sementara di bagian atas kepala para penari, ada topi berhiaskan bulu burung enggang. Mereka semua pegang tongkat.

Saat prosesi hudoq, akan dibacakan mantra dalam bahasa Dayak oleh pawang. Gunanya, agar roh para leluhur merasuki tubuh penari. Setelah roh tersebut merasuki mereka, maka sang pawang akan berpesan agar roh tersebut menjaga tanaman mereka.

Tari hudoq saat dipentaskan di TIM, 10 Agustus 2019/ETNIS/Dumaz Artadi

Usai menyampaikan pesan pada roh yang merasuki tubuh penari, maka pawang akan membacakan kembali mantra untuk mengeluarkan roh yang merasuki tubuh penari.

Pascaprosesi ini, masyarakat Dayak percaya para roh leluhurnya akan menjadi perisai yang akan melindungi tanaman mereka dari serangan hama. Begitulah penjelasan sederhana soal Hudoq.

Pada perayaan 20 tahun Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 9-11 Agustus. Hudoq turut ditampilkan lengkap dengan iringan musik tradisional.

Kostumnya lengkap. Penari laki-laki dan perempuan bergerak mengentakkan kaki, kemudian melakukan ritual pembacaan mantra oleh pawang.

Acara yang diselenggarakan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) tidak hanya menampilkan Tari Hudoq dari suku Dayak, melainkan tarian kebudayaan Indonesia yang lain.

Editor: Almaliki

Ruslan

Penyuka kopi