Cara Interaksi Orang Jawa dengan "Penunggu" Sawah

Ritual Aug 13, 2019

Etnis.id - Saat mudik, saya tiba-tiba teringat akan hal unik yang ada di kampung saya. Ternyata, sampai saat ini keunikan masih dipertahankan oleh sebagain masyarakat.

Seperti yang  terjadi di kampungku. Tradisi menthik pari ini masih dijalankan masyarakat setempat. Bahkan di beberapa tempat di Jawa, masih banyak juga yang melakukan tradisi satu ini.

Di kampungku sendiri, menthik pari biasanya dilakukan setiap enam bulan sekali.  Hal ini mengingatkan saya dengan pelajaran saat sekolah dasar dahulu, sewaktu belajar ilmu pengetahuan sosial sering sekali mendapatkan tulisan, “Makanan pokok negara Indonesia adalah padi.”

Saya berpikir, jika menjadi makanan pokok, tentunya harus berkualitas. Untuk mendapatkan kualitas bagus, sudah pasti hal ini erat kaitannya dengan hasil panen yang bagus pula.

Demi itu, maka dilakukan selamatan. Sebagian masyarakat Jawa percaya, jika sawah merupakan sebuah lahan yang tidak hanya lahan. Lebih dari itu, ada "penunggu" di dalamnya.

Selamatan dilakukan dengan tujuan untuk membayar si empunya lahan karena sudah menjaga sawah serta berbagai tanaman lain yang tumbuh di atasnya. Jika kita amati secara lebih jauh, menthik pari menyimpan berbagai hal menarik. Salah satunya sebagai bentuk penghayatan agama asli orang Jawa.

Tentu kita mengetahui jika dalam kehidupan orang Jawa ini masih ada kepercayaan animisme dan dinamisme, yang merupakan keyakinan asli orang Jawa. Saat agama Hindu masuk ke Pulau Jawa, lahirlah berbagai simbol-simbol religi, seperti kepercayaan kepada dewa serta dewi yang menjaga alam semesta.

Meski demikian, tradisi menthik pari ini tetap mendapatkan tempat khusus bagi masyarakat Jawa tanpa melihat sungguh bentuk keyakinan atau agama.

Tradisi Menthik Pari ini, akan dilaksanakan saat padi sudah mulai menguning dan juga berisi. Mengenai harinya, akan ditetapkan hari khusus yang menurut kepercayaan orang Jawa merupakan hari yang bagus.

Saat proses pelaksanaan, maka dipersiapkan berbagai kelengkapan atau uborampe. Uborampe  yang harus dipersiapkan di antaranya nasi, ikan asin, telur rebus, sayuran yang  sudah diurap dan berbagai kue khas tradisional. Bukan hanya uborampe, dipersiapkan juga sesaji seperti sisir, benang, kemenyan, kaca dan ani-ani yaitu alat pemotong padi.

Setelah sesajen lengkap, maka masyarakat akan beriring-iringan membawa sajen dan juga uborampe yang sudah disiapkan. Jika yang memiliki hajat adalah orang yang beragama Islam, maka doanya akan dipimpin oleh tokoh adat beragama Islam. Sebaliknya, jika yang memiliki hajat adalah orang beragama Hindu atau agama lain, maka doanya juga disesuaikan dengan keyakinan mereka.

Setelah tokoh agama selesai mendoakan sajen, maka sajen dibawa ke bagian tepi sawah yang sudah siap untuk dipanen. Ritual dilanjutkan dengan membakar kemenyan dan juga seikat jerami padi.

Tokoh agama kemudian melanjutkan ritual dengan meletakkan seikat padi yang siap panen di bagian sisi uborampe. Ritual dilanjutkan dengan menyiramkan sebotol air putih dibagian pojok lahan sembari mengiriminya doa-doa.

Ritual diakhiri dengan membagikan takir kepada para pengunjung. Takir ini merupakan sebuah wadah yang didalamnya berisi makanan lengkap dengan lauk-pauk yang kemudian dibagikan secara merata.

Selanjutnya padi yang dipotong tadi dibawa pulang dan dilanjutkan dengan melakukan hajatan di rumah. Jika sudah, maka takir boleh dimakan.

Jika ditarik benang merahnya dengan kehidupan sehari-hari, tradisi ini merupakan wujud orang Jawa dalam menjaga kehidupan yang seimbang serta selaras antara manusia serta roh-roh, yaitu dengan cara membersihkan dan memberikan penghormatan kepada penjaga padi.

Editor: Almaliki