Karapan Sapi Madura: Tradisi atau Penyiksaan Hewan?

Budaya Jul 29, 2019

Etnis.id - Tradisi karapan sapi adalah salah satu manifestasi penduduk Madura dari empat kabupaten: Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan sebagai bentuk eksistensi penduduk etnis Madura dalam acara event lokal.

Hampir semua penduduk Madura dan bukan, ikut berpartisipasi. Kuntowijoyo menyebut bahwa tradisi (budaya) khas Jawa Timur adalah sebuah kombinasi pesta rakyat dan pertunjukan kesehatan ternak.

Madura sebagai daerah marginal mempunyai keragaman tradisi yang unik. Pacuan sapi (kerrap) yang berlangsung turun-temurun sampai sekarang, masih menarik perhatian masyarakat.

Mungkin pacuan sapi lebih dulu ada ketimbang pacuan kelinci yang baru-baru ini sedang marak di kalangan penduduk Madura. Keduanya memiliki kemiripan dan corak khas masing-masing.

Karapan sapi tidak lepas dari kehadiran sosok Kiai Ahmad Baidawi. Dia dikenal sebagai Pangeran Katandur. Konon dia adalah kiai penyebar agama Islam di tanah Madura, yakni Sumenep sebagai daerah pertama.

Penyebaran itu merupakan perintah langsung dari seorang wali yang sangat berpengaruh di tanah Jawa dalam penyebaran Agama Islam: Sunan Kudus. Sebelum pengembaraan, Kiai Baidawi dibekali dua tunggul jagung yang masih murni oleh sang guru.

Dalam pengembaraannya di tanah Madura, sang kiai berhati-hati dalam mewujudkan tujuan utamanya yaitu menyebarkan ajaran agama Islam. Mula-mula ia memilih untuk berbaur dan mendekatkan diri dengan masyarakat.

Sang kiai mengajak dan mengajarkan masyarakat cara bercocok tanam sementara dua tunggul jagung yang dipegangnya dibacanya sebagai isyarat ke arah ajakan untuk menanam.

Hal yang tak biasa. Kita tentu tergoda untuk bertanya-tanya sebab Madura kan panas? Hal itu didukung dengan ulasan Empat Zaman-nya Huub de Jonge yang menyebut tanah Madura itu kering dan beriklim panas.

Saya simpulkan, Sunan Kudus membekali Kiai Baidawi dengan dua tunggul jagung untuk ditanam di tanah Madura. Namun persoalannya bagaimana jagung itu dapat tumbuh subur?

Dalam menjawab pertanyaan itu, pertama-tama kita harus mengetahui latar belakang Sunan Kudus dan Kyai Baidawi. Dari sisi ini, ada praktik ritual yang bernuansa metafisik.

Mohammad Kosim, seorang dosen IAIN Pamekasa menjelaskan keunikan Kiai Baidawi dalam pandangan masyarakat Madura. Ia religius dan apa yang dikerjakannya kadang melampaui rasionalitas manusia–ihwal bercocok tanam di atas tanah yang gersang.

Dalam setiap bercocok tanam, ia tidak lupa menyelipkan ajaran Islam. Misalnya, sang kiai membimbing dan mengajarkan masyarakat tani agar sebelum tongkat ditancapkan ke tanah, mula-mula petani mengawali dengan bacaan bismillah.

Selanjutnya setelah jagung mau dimasukkan ke tanah yang sudah dilubangi, diawali dengan membaca dua kalimat syahadat. Pada musim panen, sang kiai mengajarkan masyarakat tani cara bersyukur kepada yang maha pengasih dan penyang (Allah). Dia juga mengajarkan ritual salat lima waktu.

Ide baru tumbuh. Kiai Baidawi juga memikirkan alat yang dapat membantu tenaga petani. Pilihannya jatuh pada kerbau atau sapi. Kiai akhirnya memelihara sepasang sapi dengan diberi aksesoris yang dimanfaatkan dari alam sekitar.

*

Asal-usul kata kerapan atau karapan itu berasal dari kata ‘garapan’. Kiai Baidawi–dengan mempergunakan sepasang sapi atau kerbau itu–mula-mula menggarap di sawah atau di alun-alun, agar menarik perhatian dan membuat petani terhibur.

Hampir tiap musim panen, selalu digelar adu kecepatan sapi yang ditunggangi para petani sambil membajak tanah. Dengan gelaran ini, makin tumbuh antusiasme petani, sehingga banyak dari mereka memelihara sapi.

Dulunya, nyaris setiap petani di Madura punya sapi yang tidak hanya dijadikan sebagai alat tani, tetapi dijadikan alat dagang, transportasi atau bahasa lain disebut dokar. Sapi ini sebagai penghasilan kedua setelah jagung.

Karena misi dari Kiai Baidawi berhasil, ia melapor kepada Sunan Kudus. Hasilnya, ia tetap ditugaskan menyebarkan Agama Islam dan disuruh menetap di Madura. Sebelum balik kembali ke tanah Madura, Sunan Kudus dan muridnya berdoa agar umur jagung yang awalnya ditanam dan bisa panen dalam sehari, berubah seratus hari. Akhirnya doa beliau dikabulkan.

Di tanah Madura, Kyai Baidawi menjelaskan kembali kepada masyarakat petani tentang perubahan umur jagung. Tetapi tidak menjadi masalah bagi petani. Sebab efek bertani dan memelihara sapi bisa membantu mereka secara finansial.

Ada Pelintiran Tradisi

Secara historis, penyebutan pacuan sapi disebabkan karena sepasang sapi adalah jantan yang diadu lari. Setiap pasang sapi, dikendalikan oleh joki yang disebut tokang tongko’.

Sapi betina juga dijadikan hiburan masyarakat Madura yang dikenal sapi hias atau sapeh sono’ yang diadu kecantikannya dengan diberi aksesoris di bagian punggung dan kepalanya secantik mungkin.

Peran musik lokal seperti saronen juga dijadikan atraksi penggelaran hiburan masyarakat Madura, dibarengi dengan penari kampung yang ayu sebagai tontonan penduduk setempat dengan ciri khasnya masing-masing. Secara postur, sapi Madura kecil. Beda dengan sapi lainnya. Sapi Madura tidak menghasilkan susu.

Pada masa Belanda, sapi Madura dilarang dieksploitasi untuk dikirim ke luar Madura, karena sapi yang berbulu coklat sudah cocok dengan tanahnya yang gersang. Sementara sapi yang di luar Madura tidak dibolehkan berada di Madura, sebab takut tidak cocok dengan iklimnya dan bisa menggangu kelestarian orang-orang Madura.

Menurut Glenn Smith, sapi Madura berasal dari perkawinan silang antara banteng lokal (bos javanicus) dengan jenis Sinhala atau Ceylon dari Zebu yang sudah dijinakkan (bos indicus).

Kini, ada perbedaan yang sangat jauh dari semangat penggelaran pacuan sapi di masa dulu dan sekarang. Di masa Kiai Baidawi, karapan sapi sekadar dijadikan hiburan masyarakat tani. Tak lebih.

Masyarakat dulu lebih manusiawi dalam memperlakukan sapi termasuk dalam gelaran pacuan binatang tersebut. Saya katakan ‘manusiawi’ sebab orang-orang mempertimbangkan aspek-aspek penting untuk tidak menyakiti sapi.

Bedanya, saat ini kita menyaksikan betapa sadisnya orang-orang kepada hewan (hanya demi mengintai kemenangan dalam kerapan sapi). Contohnya, sapi-sapi yang diikutkan karapan mesti diolesi rheumason di sekitar matanya, pantatnya dilukai dengan menggunakan paku.

Praktik-praktik semacam itu menjadikan sapi tampak kesurupan. Matanya melotot. Napasnya mendesis. Apa yang terjadi? Saya menganggap itu bukan lagi penghiburan dan bukan lagi mewarisi semangat yang diberikan Kiai Baidawi.

Begitulah karapan sapi yang sekarang. Penyiksanaan kini dibalut dengan pesta budaya. Jika hal-hal semacam ini masih dipertahankan, saya sendiri tidak sepakat. Kebudayaan semacam ini lebih banyak mudaratnya bagi hewan.

Jika kebudayaan karapan sapi dengan cara ini tetap dipertahankan, itu berarti kita menutup mata pada penyiksaan terhadap hewan yang selama ini banyak membantu petani.

Bila kita sepakat bahwa karapan sapi sebagai ikon kebudayaan Madura yang patut untuk dipertahankan, tak ada jalan lain kecuali kita kembali mempelajari sejarah karapan sapi pada awal tulisan ini.

Editor: Almaliki

Moh Alim

Philosophy student