Gimbalnya Bocah di Dieng, Hal Gaib atau Turunan Genetik?

Budaya Jan 15, 2020

Etnis.id - Dataran tinggi Dieng yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, telah dikenal akan keindahan topografi alamnya dan peninggalan sejarah dari peradaban Hindu pada masa lampau.

Dieng juga memiliki keunikan tersendiri yang sulit diterima akal yaitu munculnya anak-anak yang memiliki rambut gimbal layaknya penyanyi reggae. Masyarakat lazim menyebutnya gémbél, sebab rambut anak itu tampak seperti rambut yang tak terurus.

Fenomena ini menjadi semakin unik karena tidak bisa ditentukan secara pasti soal anak mana yang akan mewarisi tumbuhnya rambut kusut nan menggulung tersebut. Tumbuh rambutnya secara acak, tanpa terhubung oleh garis keturunan khusus dari orangtuanya. Siapa saja anak-anak Dieng, rambutnya berpotensi menjadi gimbal.

Gimbal itu tumbuh dengan sendirinya di kepala anak-anak Dieng saat baru mereka menginjak usia balita hingga masuk usia sekolah dasar. Anak yang digimbal juga bermacam-macam, ada yang menjadi gimbal seluruhnya seperti Bob Marley, ada yang gimbalnya hanya terselip di antara rambut lainnya yang lurus.

Masih sulitnya fenomena tersebut untuk diterima secara konsep berpikir ilmiah, membuat masyarakat tetap berpegang pada pemahaman dan kepercayaan supranatural.

Masyarakat Dieng memercayai bahwa anak-anak tersebut merupakan titipan dari leluhur mereka yang bernama Kyai Kolodété dan istrinya Nyai Roro Rence. Para anak dianggap sebagai medium komunikasi bahwa sang leluhur selalu hadir untuk menaungi masyarakat Dieng.

Konon, pada abad ke-17, Kerajaan Mataram Islam menugaskan tiga orang Kyai yakni Kyai Karim yang bertugas di daerah Kalibeber (Mojotengah); Kyai Wirogati/Walik di Wonosobo; dan Kyai Kolodété di daerah Dieng.  Ketiganya berdakwah sekaligus mengislamkan masyarakat di daerah dataran tinggi Jawa Tengah.

Sebagaimana kyai yang gemar mendalami ilmu tirakat, Kyai Kolodété sering bertapa di dalam pohon besar yang berongga. Saking lamanya bersemadi, rambut sang kyai sampai kusut dan menjadi gimbal. Syahdan, sang kyai meninggalkan sebuah wasiat bahwa kelak anak cucu masyarakat Dieng harus memiliki rambut gimbal sepertinya.

Pesan berikutnya adalah, anak-anak berambut gimbal tersebut jangan sampai dimunasika (jangan di-bully dan dikucilkan). Sebisanya, orangtua si anak harus menuruti dan menyediakan apa yang diminta oleh si anak, sampai tiba saatnya untuk melakukan ritual pemotongan rambut-rambut gimbal tersebut.

Beberapa penelitian terkait psikologis anak menyebutkan, umumnya anak-anak berambut gimbal tersebut akan tumbuh menjadi anak yang lebih aktif bahkan lebih nakal dibanding anak-anak sepantarannya. Sebabnya, ada perlakuan khusus dari orangtua mereka seperti dimanja dengan selalu dituruti segala keinginannya.

Anggapan lain bahwa anak yang berambut gimbal itu memiliki nilai keramatnya tersendiri, juga membuat teman-teman sepantarannya tidak berani menakali atau membuatnya bersedih hati.

Upaya ‘menghilangkan’ rambut gimbal

Semakin tingginya tingkat pendidikan dan kesadaran akan kesehatan di masyarakat Dieng, upaya menghalau dan mencegah munculnya anak-anak berambut gimbal sempat dilakukan dengan meningkatkan kadar gizi dan tingkat kesehatan bagi ibu-ibu hamil dan anak bayi yang dilahirkannya.

Alasannya, sebelum anak-anak tersebut ditumbuhi rambut gimbal, mereka akan diserang sakit demam yang bisa berlangsung hingga beberapa hari lamanya. Usai sembuh, rambut anak-anak akan mulai berubah menjadi kusut dan gimbal.

Walau begitu, usai diupayakannya peningkatan gizi pada ibu hamil di Dieng, tetap saja anak-anak balita terserang demam tinggi dan diiringi dengan perubahan pada bentuk rambut mereka.

Akhirnya, masyarakat tetap kembali pada kepercayaan lama bahwa fenomena rambut gimbal adalah bentuk hadirnya kekuatan supranatural dari leluhur yang mendiami dan menjaga wilayah Dieng. Anak-anak lalu dibiarkan saja bergimbal.

Jika ingin rambut anak tersebut dipotong, maka harus dilakukan ritual pemotongan rambut yang didahului dengan upacara ruwatan menggunakan sesaji serta dipimpin oleh pemimpin adat.

Sebelum ruwatan, pemimpin adat harus berkomunikasi secara gaib dengan sosok yang dipercaya sebagai Kyai Kolodété untuk meminta izin, apakah upacara sudah dapat dilaksanakan serta anak-anak yang dipotong rambutnya apakah akan terbebas dari rambut gimbal nantinya.

Selanjutnya, pemimpin adat akan membakar kemenyan. Apabila kemenyan tersebut dapat meleleh dan menetes, maka dianggap upacara telah mendapat izin dari leluhur. Jika tidak, berarti pemotongan tak dapat dilakukan.

Hak anak-anak gimbal juga wajib dipenuhi. Mereka dengan segala permintaannya, oleh orang tua dan para tetua adat lainnya, harus disediakan sebagai syarat berlangsungnya ritual.

Permintaan dari si gimbal umumnya bermacam-macam, seeprti minta disediakan makanan atau aneka jajanan; mainan; dan ada juga yang minta ditampilkan pagelaran seni budaya seperti Wayang Kulit serta tarian Topeng Lengger. Semakin lama, permintaan yang harus disediakan untuk anak-anak gimbal juga sudah berupa hadiah-hadiah kekinian, seperti laptop dan ponsel pintar.

Sebelum itu, permintaan tersebut akan ditanyakan secara berulang sebanyak tiga hingga empat kali. Apabila permintaan si anak kukuh, maka penduduk meyakini, itu bukanlah permintaan dari si anak sendiri, melainkan permintaan dari Kyai Kolodété yang diperantarai si anak.

Belakangan, fenomena di atas menjadi daya tarik dan komoditas wisata berbasis budaya bagi masyarakat Dieng. Keduanya, ruawatan dan pemotongan rambut, dijadikan sebagai agenda festival tahunan, lengkap dengan panggung pergelaran seni budaya rakyat, bahkan pentas musik jazz.

Omong-omong, mungkinkah leluhur Dieng telah menyesuaikan keinginannya dengan mengikuti tren terkini atau mungkin ini memang bentuk lain dari bagaimana leluhur menyejahterakan masyarakat Dieng?

Editor: Almaliki

Danang Lukmana

Alumnus UI, Cultural Studies