Gelap dan Terang Festival Reog Nasional

Tarian Sep 02, 2019

Etnis.id - Memasuki Kota Ponorogo, kita akan disambut dengan tulisan yang kokoh dan cukup megah, “Ponorogo Kota Reog”. Seolah menjadi momen penting, menyiratkan jika beberapa tahun lalu Reog pernah berpolemik di Tanah Air. Ponorogo (Indonesia) dan Malaysia sempat saling klaim soal seni satu ini. Akibatnya, Reog menjadi terkenal.

Kesenian tradisi yang awalnya tertatih-tatih dalam mempertahankan denyut hidup, seolah menemukan oase menyegarkan dalam menyambung detak eksistensinya. Reog tak semata kesenian yang berusaha mencirikan Ponorogo sebagai jejak sebuah kisah, namun menjelma sebagai ciri Indonesia. Eksistensinya dapat dilihat dihampir seluruh wilayah Nusantara.

Hal inilah yang mengilhami Festival Reog Nasional diberlangsungkan tiap tahun. Kata “nasional” mengguratkan arti, bahwa kesenian ini telah tumbuh subur dan berkembang biak di berbagai lokus Indonesia.

Tahun ini, festival itu dilangsungkan dari tanggal 26-30 Agustus 2019. Diikuti oleh perwakilan setiap kota dan provinsi di Indonesia. Gelaran itu bukan semata festival, namun juga ajang perlombaan.

Setiap kelompok mempertontonkan kebolehannya dalam menata gerak, kostum dan musik. Terdapat dewan penilai yang memberi kuasa bagi kemenangan suatu kelompok. Masing-masing peserta berlomba-lomba mendatangkan para koreografer dan komposer ulung demi mendapat predikat juara.

Persoalannya, kehadiran festival yang diperuntukkan bagi pesta keberagaman Reog di Nusantara itu, akhirnya menjadi ajang kontestasi. Perlombaan mengharuskan peserta bermain menuruti “buku panduan” yang dibuat panitia, baik dalam konteks tari, gerak maupun estetika lainnya. Yang muncul kemudian seringkali keseragaman penampil.

Kisah Reog adalah representasi detak kultural masyarakat Jawa bahkan Indonesia. Melihat Reog berarti melihat timbunan makna tentang Jawa yang terkandung di dalamnya.

Reog tidak semata fenomena kebendaan atau fisik seperti gerak, musik dan kostum. Namun juga bertaburan mitos, esensinya sebagai ruang pengharapan, tujuan dan cita-cita, serta “komunikasi maya” yang hanya dapat dipahami dan dirasakan oleh masyarakat pendukung kesenian itu.

Sebelum Islam masuk, Reog adalah ritus sakral. Tak semua orang mampu dan terpilih untuk menarikannya. Adalah orang-orang yang dianggap suci, bersih diri dan hati, sehingga tubuhnya layak menjadi persemayaman para dewa dan roh leluhur (Soerjo Wido Minarto: 2007).

Makanya Reog mampu berbicara banyak tentang sejarah perjalanan
masyarakat Indonesia. Yang tampak bukanlah apa yang bisa dilihat dan didengar, namun apa yang bisa dirasakan. Reog adalah simbol yang berusaha menarasikan “sesuatu tentang sesuatu”.

Dikisahkan, penari jatil dengan genitnya mengiringi sang Prabu Sewandana melamar hati sang Dewi Sangga Langit. Gegap gempita sang prajurit jatil itu menunjukkan sebuah prosesi yang megah, namun sarat akan aura ritus yang sakral.

Di tengah jalan, niat yang tulus itu dihalangi oleh Singo Barong (manusia berwajah singa) yang merasa layak pula untuk memiliki dewi dari Kediri itu. Tak berselang lama, pertempuran di antara keduanya tak terelakkan.

Titik kulminasinya terjadi saat Singo Barong bersatu dengan merak, burung pemakan kutunya. Ia pun menjadi Dadak Merak, manusia singa yang di atas kepalanya terdapat merak dengan bulunya yang lebat. Menjadi manusia dwi rupa, berkepala singa dan merak. Dalam pertemputan itu, ia kalah oleh Sewandana dan menjadi sesaji yang dipersembahkan bagi sang dewi.

Di atas hanya salah satu mitos yang berkembang dalam denyut hidup Reog. Masih banyak timbunan mitos yang tumbuh subur di bumi Ponorogo sendiri. Bahkan antardaerah dan kampung, bisa mempersepsikan secara berbeda.

Otomatis, ragam mitos itu banyak mempengaruhi sajian Reog yang memungkinkan antarkelompok di daerah bisa berbeda. Varian reog begitu unik, baik dalam konteks musikal maupun gerakan tari. Juga setiap daerah memiliki kekhasan dan tipikal tersendiri. Namun saat ajang festival digelar, keunikan-keunikan itu berangsur hilang.

Zaman kiwari, Reog adalah ragam kesenian akar rumput yang mencoba diangkat menjadi seni populis dengan tata panggung yang begitu gemerlap mengalahkan sajian konser musik pop dan rock. Reog tak lagi bertamu untuk mengetuk pintu dari rumah ke rumah. Di panggung yang megah itu, kedudukannya kini telah berbeda.

Mengkritik Hasil dari Lomba Reog

Festival Reog Nasional tidak hanya dikhususkan sebagai benteng pelestari kesenian Reog, tapi juga menjadi ajang kontestasi. Sajian Reog menjadi beku dari tawaran alternatif dalam memunculkan wacana dan prospek horizon pemikiran bagi denyut hidup kesenian itu ke depan.

Kelompok pemenang festival dianggap panutan sebagai figur yang berkualitas tinggi mengalahkan yang lain. Dengan segera akan ditiru dan diacu oleh kelompok yang lain di daerah. Lalu ditampilkan di gelaran tahun berikutnya.

Rasa dan bentuk setiap kelompok dapat menjadi seragam alias sama. Kelokalan bisa jadi menjadi hilang, keunikan menjadi sirna. Padahal tidak mustahil kesenian Reog yang terbentang di penjuru Indonesia memiliki warna kelokalan yang khas.

Reog di Papua dengan basis (seni) kepapuaannya, di Makassar dengan kemakassarannya, di Ambon dengan keambonannya, serta di Jawa
dengan kejawaannya.

Tak hanya berhenti sampai di situ, jual-beli pemain pun diberlangsungkan. Jangan heran kemudian jika kita melihat peserta dari kota A dihuni oleh pemain yang sama dengan peserta dari kota C di tahun sebelumnya, atau sebaliknya.

Yang tampil bukan lagi pemain asli Reog dari daerah basis yang diperkenalkan oleh pembawa acara. Nama daerah asal Reog hanya sekedar nama, pemainnya adalah orang-orang (seniman) profesional yang telah “dibeli”. Semua bersua untuk satu tujuan, yakni memenangkan perlombaan dan membawa harum daerahnya.

Terlepas dari masalah di atas, akan sangat membanggakan jika dalam forum itu dapat dilihat kenyataan bahwa gerak tubuh dan bunyi yang mengguratkan keragaman keindonesiaan, turut andil menjadi bagian dari sebuah ide, gagasan serta tujuan yang mulia dalam memperkenalkan sekaligus memamerkan Reog dengan pelbagai variannya.

Sebagai titik peristiwa yang masih akan berkelanjutan dalam perjalanan seni pertunjukan Indonesia ke depan, Festival Reog Nasional digadang mampu memancing semangat untuk mulai mencintai kesenian tradisi Indonesia. Semoga!

Editor: Almaliki

Aris Setiawan

Etnomusikolog, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta