Belajar Kepemimpinan dari Lagu Dolanan "Gundul-gundul Pacul"

Etnomusikologi Sep 02, 2019

Etnis.id - Kebudayaan merupakan salah satu perangkat berfungsi untuk mengatur tingkah laku manusia, agar bisa memahami bagaimana seharusnya bertingkah laku di dalam kehidupan masyarakat.

Soerjono Soekamto mengatakan kebudayaan adalah sesuatu yang kompleks yang mencakup kepercayaan, pengetahuan, adat istiadat, moral dan juga kebiasaan lain, yang didapatkan oleh manusia dalam kehidupan masyarakatnya.

Kebudayaan yang bisa kita amati dan pelajari dalam kehidupan sehari-hari ini merupakan ajaran luhur dari nenek moyang. Banyak laku hidup yang diajarkan oleh mereka, bahkan cara mengajarkannya juga beragam. Bisa melalui nasihat, tulisan, tingkah laku.

Tidak sedikit pula yang mengajarkan nasihat melalui musik. Musik merupakan salah satu media yang paling mudah diterima masyarakat. Kehadiran lirik serta alunan nada yang indah menjadikan kita bisa menikmati setiap alunannya.

Karena berisi nasihat, sudah pasti nenek moyang kita tidak akan sembarangan dalam membuat lagu. Salah satunya lagu Gundul-gundul Pacul yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga.

Lagu ini sangat familiar pada masa kecil saya. Bagaimana tidak, di zaman saya dahulu, lagu ini banyak sekali didendangkan anak-anak ketika sedang dolanan. Liriknya sederhana serta mudah diingat.

Karena mengandung kata “gundul” lagu ini kerap dijadikan lagu plesetan juga. Akan tetapi, siapa sangka jika lagu yang hanya terdiri dari satu bait dan enam baris lirik ini, sarat makna.

Gundul gundul pacul-cul
Gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul
Gembelengan
Wakul ngglimpang
Segane dadi sak latar

Dalam bait pertama, terdapat kata "gundul gundul pacul-cul”, kata ini bisa kita maknai secara terpisah. “Gundul” merupakan arti kata dari kondisi kepala yang botak. Kita semua tahu jika kepala adalah simbol dari kehormatan serta kemuliaan seseorang. Sementara rambut merupakan perlambangan dari mahkota.

Dalam hal ini, sudah pasti kehormatan sacara otomatis melekat dalam diri seorang pemimpin.  Akan tetapi, kehormatan akan sia-sia jika tidak diiringi dengan mahkota. Mahkota yang dimaksud adalah sikap adil, jujur serta empati. Tanpa ada mahkota, sikap kepemimpinan sia-sia belaka.

Dilanjutkan dengan penggalan lirik "pacul”. Di Jawa, pacul merupakan sebuah alat pertanian yang terbuat dari lempengan besi segi empat. Secara tersirat, pacul merupakan representasi masyarakat Jawa yang mayoritasnya petani.

Di Jawa, pacul bukan hanya menjelma sebuah alat pertanian semata. Lebih dari itu, ada makna tersirat di dalamnya. Pacul  berarti “papat kang ucul”,  yaitu empat yang lepas.

jika dikorelasikan dengan makna kehormatan, pacul merupakan simbol
kehormatan yang sempurna. Papat kang ucul ini merupakan kesatuan dari mata, hidung, mulut dan telinga. Keempatnya adalah indera yang akan menuntun laku hidup sehari-hari.

Ketika seseorang tidak bisa menggunakan mulutnya untuk berkata jujur, menggunakan matanya untuk melihat penderitaan, menggunakan hidungnya untuk mencium kebenaran dan juga menggunakan telinganya untuk mendengarkan keluh kesah, maka kehormatan seseorang bisa lepas begitu saja.

Empat hal tersebut merupakan kunci pokok seseorang bisa memimpin. Bukan berarti harus menjadi pemimpin dengan jabatan tertentu, namun yang paling pokok dari semua itu adalah memimpin diri sendiri.

Dilanjut dengan potongan lirik “gembelengan”. Kata tersebut merujuk pada arti sembarangan, sombong, congkak dan sembarangan. Manakala seseorang tidak bisa menggunakan mahkotanya dengan benar, maka yang muncul hanyalah laku di atas yang membuatnya tidak bisa menjadi pemimpin dengan benar.

Ketika akan menjadi pemimpin, maka seseorang juga harus siap untuk mengemban amanah ke mana pun melangkah. Untuk itu, bait selanjutnya “nyunggi nyunggi wakul-kul” yang secara bahasa berarti membawa bakul di atas kepala.

Dalam hal ini bakul merupakan jelmaan dari kata amanah. Bakul di atas kepala berarti kehormatan sangat lekat dengan bagaimana sikap seseorang mengemban amanah.

Terkadang, karena memburu nafsu, amanah yang diemban lepas tak terkendali. Seperti penggalan lirik selanjurnya “gembelengan”,  yang berari sembarangan. Dikarenakan banyak hal yang dilakukan dengan ngasal, maka semua hal yang diupayakan hanya berakhir sia-sia.

Seperti penggalan lirik selanjutnya “Wakul ngglimpang segane dadi sak latar”. Wakul nglimpang berarti bakul yang tumpah serta segane dadi sak latar, yang berarti nasinya menjadi satu halaman. Sangat tepat untuk melambangkan sebuah kesia-kesiaan.

Betapa mulianya petuah yang bisa kita ambil. Dalam hidup, manakala kita tidak bisa bertanggung jawab dengan mahkota yang kita miliki, akan akan berakhir menjadi kesia-siaan. Tampilan saja.

Sudahkah kita memahami makna sederahan dari lagu ini? Ataukah selama ini kita hanya melakukan kesia-siaan?

Editor: Almaliki