Guna Kepala Kerbau dalam Larung Sesaji ke Gunung Merapi

Ritual Sep 03, 2019

Etnis.id - Siapa yang tidak mengenal sakralnya tanggal 1 Suro khususnya masyarakat di tanah Jawa? Pelbagai upacara adat dilakukan, seperti kirab pusaka di Keraton Yogyakarta serta di Keraton Mangkunegaran.

Beberapa orang Jawa juga masih melakukan prosesi Siraman dengan air yang dicampur kembang setaman. Sementara yang mempunyai pusaka, juga melakukan jamasan pusaka.

Hal lain yang dilakukan saat malam 1 Suro, adalah larung sesaji. Menurut orang Jawa, banyak makna dan ajaran yang baik di dalamnya. Larung sesaji masih dilakukan di sebuah desa kecil di bawah lereng Gunung Merapi, yaitu Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali.

Beberapa warganya mempersembahkan kepala kerbau untuk dibawa ke atas puncak Merapi. Ada pun tradisi ini sudah dikembangkan isian rangkaian acaranya, tetapi inti dari larung sesaji masih tetap seperti dulu.

Tahun ini, hajatan dimulai sejak pagi hingga sore yang diawali dengan penyembelihan satu ekor kerbau. Sebelumnya, tak ada penyembelihan. Warga Lencoh hanya membeli kepala kerbau saja.

Sebab pengembangan, warga mulai membeli seekor kerbau untuk disembelih pada pagi hari. Setelah lehernya dipotong dan mati, dagingnya dimasak oleh warga dan dimakan bersama. Makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan dan kerukunan warga Desa Lencoh.

Selanjutnya, kepala kerbau kemudian dibalut dengan kain kafan dan diberi bunga untuk dipersembahkan kepada Gunung Merapi. Sebelumnya, saat siang hari, digelar karnaval budaya yang diikuti oleh perwakilan semua desa di Kecamatan Selo.

Warga desa hingga masyarakat di luar desa seperti turis, antusias berkarnaval dan menonton gelarannya. Tak hanya itu, digelar juga kesenian rakyat khas Boyolali seperti Topeng Ireng dan Gedrug.

Acara berakhir sekisar pukul 5 sore. Alasannya, ketika tari Topeng Ireng melewati jam 5 sore, dipercaya akan berdampak buruk kepada penari dan penonton yakni mereka bisa kesurupan. Pun pada malam hari, pertunjukan juga disarankan jangan sampai melewati jam 12 malam.

Larung Sesaji

Inti dari ritus ini adalah larung sesaji. Acara ini diawali di lokasi pertama yaitu Pendapi Setunggal (satu) dengan membawa hasil bumi seperti palawija, tumpeng dan kepala kerbau.

Sesaji yang akan dibawa dalam kirab/Etnis/Mukhlis Anton

Saat mengantar sesaji, pengantarnya ditugaskan mengenakan busana adat Keraton Surakarta. Hal menarik selanjutnya, tumpeng yang disediakan tidak lancip bagian atasnya. Mengapa? Tumpeng yang tidak lancip tersebut ternyata gambaran dari Gunung Merapi yang sekarang tumpul.

Nasi tumpeng tumpul/Etnis/Mukhlis Anton

Setelah sesaji sudah terkumpul di atas meja, selanjutnya diadakan prosesi umbul donga (doa-doa) yang dipimpin oleh tokoh adat. Setelahnya, sesaji dibawa dalam kirab menuju Pendapi Kalih. Urutan terdepan adalah kepala kerbau yang dibawa menggunakan papan seperti keranda dan dibawa oleh empat orang.

Sesampainya di Pendapi Kalih (dua), sesaji ditata lagi di atas meja dan kembali didoakan menggunakan cara Islam. Setelah berdoa, diserahilah kepala kerbau itu dari tokoh adat kepada pembawa kepala kerbau yang nantinya ia akan angkat hingga ke puncak Gunung Merapi.

Sementara hasil bumi, palawija dan tumpeng menjadi rebutan oleh warga yang datang. Yang percaya, jika mendapatkan sesaji yang sudah didoakan, mereka akan diberkahi.

Pukul 00.18, kepala kerbau diberangkatkan dari Pendapi kalih menuju puncak Gunung Merapi oleh seorang petugas saja. Kepala kerbau itu diletakkan di atas kepalanya sampai ke puncak.

Kepala kerbau dibawa seorang petugas/Etnis/Mukhlis Setno

Di belakang petugas pengangkat kepala kerbau itu, ada 10 orang yang mengikuti. Tak hanya itu, mereka diawasi beberapa tim SAR. Dalam momen ini, warga atau masyarakat pendatang tidak diperbolehkan ikut sampai ke puncak Gunung Merapi. Alasannya, situasi Gunung Merapi sedang sangat aktif.

Lagipula, sesaji itu hanya dibawa sampai Pasar Bubrah yaitu tepat di bawah puncak Gunung Merapi. Pasar Bubrah adalah pos terakhir tepat di kaki puncak Gunung Merapi yang berupa tanah padat berpasir yang tandus. Disebut Pasar Bubrah, karena konon katanya di situ menjadi tempat berkumpulnya makhluk halus.

Arti dari Sesaji

Larung sesaji mempunyai nilai filosofis, bahwa manusia hidup di dunia perlu memiliki kesadaran makrokosmos yang bersifat horizontal, yaitu manusia harus bisa menghargai alam semesta, sumber penghidupan bagi manusia.

Sesaji hasil bumi merupakan bentuk rasa bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang melimpah dari hasil bumi. Sementara kepala kerbau menjadi simbol dialog romantis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta yang dalam hal ini jagat metafisik.

Cerita tentang mbah Petruk penjaga Gunung Merapi tentu bukan menjadi hal yang asing lagi. Di dalam doa pun selain menyebut Allah Tuhan yang Tunggal, juga menyebut nama Mbah Petruk sebagai penjaga Gunung Merapi.

Cerita yang lain tentang Pasar Bubrah sebagai tempat berkumpulnya makhluk gaib, cerita Nyai Gadung Melati, hingga cerita Keraton Merapi selalu menjadi penghias aroma mistis gunung ini.

Percaya atau tidak percaya, sebagai sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, keharmonisan hidup antara manusia dan semua unsur alam semesta ini masih dijaga hingga sekarang melalui “Larung Sesaji Gunung Merapi”.

Editor: Almaliki

Mukhlis Anton Nugroho

Etnomusikolog