Budaya Tato di Antara Konstruksi Kultural

Budaya Feb 19, 2020

Etnis.id - Kita mengenal tato sebagai suatu gambar atau simbol pada bagian (anggota) tubuh. Tato bisa dibuat pada manusia dan atau hewan dengan cara memasukkan pigmen pada kulit. Manusia biasanya menggunakan pigmen berwarna-warni sebagai sebuah bentuk ekspresi modifikasi tubuh. Pada hewan, tato berfungsi sebagai penanda/identifkasi.

Tato telah dikenal sebagai praktik kebudayaan di hampir semua tempat di dunia. Di pelbagai kalangan masyarakat, tato mempunyai fungsi sesuai adat budaya setempat, seperti sebagai pangkat, kekuasaan, kekayaan, derajat ataupun penandaan wilayah.

Smithsonian melansir bahwa kehadiran tato pada peradaban kuno diawali penemuan sebuah mumi perempuan Mesir kuno dari 2000 tahun sebelum Masehi (SM). Di bagian tangannya, terdapat goresan berwarna hitam yang menyerupai tato.

Berikutnya, temuan perempuan purba bertato dari Chincurruan, Chile yang diduga berasal dari periode 3000 tahun SM. Ada juga temuan mumi bertato di bawah geyser yang berlokasi di perbatasan Austria–Italia, yang diduga hidup pada tahun 3200 SM.

Di Nusantara, peradaban tradisional orang-orang Mentawai dikenal sebagai komunitas yang menggunakan budaya tato dalam kehidupannya sekira sejak 2500 atau 1500 tahun SM. Begitu juga dengan suku Dayak.

Bagi sebagian dari mereka, tato adalah bagian penting yang tak bisa dipisahkan dari tubuhnya. Tato adalah tubuh itu sendiri. Tato merupakan sesuatu yang penting, sakral, sehingga diperlukan tahapan prosesi dan ritual dalam pembuatannya.

Motif, warna yang digunakan, hingga penempatan tato di tubuh pun penuh perhitungan, tidak asal. Bagi suku Dayak sendiri, tato berfungsi sebagai penanda kepemilikan, jimat untuk menjaga dari roh jahat, penghargaan atas jasa pada masyarakatnya atau keberanian di medan perang, tanda sebagai perantau ulung, hingga penanda kelas sosial.

Tak jarang, tato diukir di tubuh para kepala suku sebagai bentuk penanda bahwa ia adalah seorang pemimpin dan raja di kelompoknya. Sementara tato bagi perempuan Dayak dapat berarti bahwa dirinya telah siap untuk menikah.

Lain lagi di suku Maori di New Zealand. Mereka membuat tato yang berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat sebagai tanda bagi keturunan yang baik. Di Kepulauan Solomon, tato ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus inisiasi untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama, orang-orang Suku Nuer di Sudan, memakai tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki.

Orang-orang Indian melukis tubuh mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu. Di kuil-kuil Shaolin, jika murid-murid dianggap memenuhi syarat, diharuskan menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas, agar menandakan sejauh mana tingkat kemampuan olah tubuhnya.

Setiap zaman melahirkan konstruksi tubuhnya sendiri-sendiri. Harus diakui bahwa seni tato tubuh yang dianggap tabu oleh sebagian orang, kini sudah bisa diterima dan menjadi salah satu gaya hidup yang berkembang di masyarakat. Semakin hari, semakin banyak orang yang bangga akan tato di tubuhnya.

Ada beragam alasan mengapa seseorang memilih menghiasi tubuhnya dengan tato, Seperti karena mereka ingin mencoba pengalaman baru dalam hidupnya. Tato juga dianggap mewujudkan ekspresi diri yang bahkan bisa membuat sebagian orang terpana.

Dulunya tato menjadi tren di kalangan pria. Kini, banyak perempuan yang rela menghias tubuhnya dengan beragam bentuk variasi tato yang unik. Sebab beranggapan bahwa tato telah menjadi bagian dalam hidupnya, mereka juga beralasan kalau tato cantik akan menawarkan sebuah keindahan.

Maka tato tidak hanya sekedar menjadi fenomena fisik tubuh manusia sebagai makhluk multidimensional, namun juga bentuk konstruksi kultural. Awalnya sebagai penghias tubuh dan simbol-simbol tertentu, lalu tato mengandung multi makna dan nilai sebagai simbol status kelas sosial, sekadar aksesori, atau yang lain.

Tato pernah (bahkan kerap) menjadi tanda tanya dan tanda seru dalam konstruksi sosial. Di Indonesia, pemakai tato pernah dianggap buruk. Sebelum tato dianggap sebagai sesuatu yang menarik seperti sekarang, tato identik dengan kekuasaan, kekuatan, bahkan budaya pemberontakan.

Ketika seorang individu ingin menunjukkan identitasnya yang kuat dan berkuasa, maka tato menjadi salah satu penggambaran untuk menunjukkan identitas tersebut.
Penggunaan tato yang semula menjadi penanda komunal, pun digunakan sebagai simbol individu.

Kelompok yang merasa dirinya penguasa akan mengenakan tato untuk menggentarkan lawannya. Tato menjadi bagian dari bargaining power. Tak heran, dalam beberapa penggunaannya, makna tato akhirnya tereduksi menjadi simbol "gelap" yang kerap dikaitkan dengan sikap koersif dan kekerasan.

Orang-orang yang memakai tato dianggap identik dengan penjahat, orang-orang yang hidup di jalanan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat. Itulah sebabnya pernah digencarkan penembakan misterius (petrus) pada masa Orde Baru. Mereka yang bertato dianggap penjahat.

Hal ini tentu saja memancing kontroversi dan perdebatan yang panjang. Di satu sisi kita bisa membacanya sebagai sebuah "politisasi tubuh". Tubuh dipolitisir, dijadikan alat kendali untuk keamanan (baca: kepentingan negara).

Dalam kasus cap tato yang identik dengan “penjahat” di Indonesia, tubuh yang bertato dipakai sebagai alat kendali, suatu alasan untuk menjaga stabilitas.

Anggapan negatif masyarakat tentang tato dan larangan memakai rajah atau tato bagi penganut agama tertentu, semakin menyempurnakan gambaran tato sebagai sesuatu yang tidak boleh, dilarang, bahkan haram. Memakai tato sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada. Meski demikian, di satu sisi, dalam kalangan anak jalanan, Ertanto (2000) menyebut bahwa tato merupakan satu bentuk lain dari cara menampilkan diri.

Tato merupakan penanda dari show of force sekaligus lambang "keras" dan “jantan”. "Bersih" dari tato bisa jadi justru akan mengancam kehidupan mereka di jalanan. Tato menjadi eksistensi diri.

Tato mengalami kontradiksi di lingkup lingkungan sosial, agama dan undang-undang, selain menjadi elemen ekspresif kehidupan kreatif sebagai pribadi, pelestari tradisi, moralitas dan identitas nasional sekaligus.

Tato menjadi ladang subur untuk pembentukan identitas dogmatik, tetapi juga menyimpan luka-luka sejarah dan sosial. Walau pada dasarnya tato adalah ekspresi seni budaya dalam bagian daya hidup peradaban bangsa yang multikultur.

Basis logika yang mendalam, pemahaman memandang seni budaya secara kontekstual dan bidang dada yang lebar menyikapi perbedaan, adalah sikap penting sebagai upaya membaca transformasi nilai dan memandang modernitas melalui tato.

Editor: Almaliki

Purnawan Andra

Staf di Dirjen Kebudayan Kebudayaan Kemendikbud