Belajar Gotong Royong dari Sinoman

Budaya Sep 19, 2019

Etnis.id - Saya terlahir akrab dengan tradisi. Terlebih saya dilahirkan di sebuah desa yang masih memegang adat istiadat Jawa. Hampir seperempat abad tinggal di sana, tentu membuat saya hapal dengan pelbagai tradisi unik masyarakat Jawa.

Bisa dikatakan, tradisi Jawa ini sangat lengkap dalam menyertai kehidupan sehari-hari. Dari kelahiran sampai kematian, semua tidak bisa dipisahkan dari tradisi. Di tengah perkembangan dunia modern saat ini, masih ada tradisi Jawa yang masih dipertahankan sampai sekarang seperti Sinoman.

Sinoman merupakan wujud dari budaya Jawa yang paling mendasar, yaitu gotong royong. Di Jawa, terdapat juru laden saat ada orang yang sedang memiliki hajat seperti pernikahan. Juru laden dikenal dengan nama Sinoman.

Para Sinoman adalah tetangga, khususnya para pemuda. Di desa saya, lebih dikenal dengan sebutan Karang Taruna. Kalau kalian melihat, para Sinoman ini akan bekerja keras layaknya pramusaji. Saat hidangan sudah siap, mereka bergegas membagi hidangan kepada para tamu hajatan.

Saat para tamu telah usai menikmati hidangan, para Sinoman akan bergegas lagi mengambil bekas peralatan makan. Hap hap hap, mereka bergerak dengan gesit. Dalam diri mereka, sudah tertanam motto kalau semua tamu harus mendapatkan pelayanan yang baik.

Pengalaman tinggal di desa dulu, membuat saya sudah khatam dengan kegiatan ini. Kegiatan ini sangat melelahkan. Terlebih kalau si empunya hajat merupakan orang penting yang mengundang tamu lebih dari 1000 orang. Meski melelahkan, namun penuh pembelajaran.

Coba kita bayangkan, manakala di sebuah hajatan pernikahan si empunya hajat mengundang 500-an tamu. Artinya, saat acara tersebut berlangsung, akan dijumpai 500 hidangan yang harus sampai ke tangan tamu undangan.

Dengan demikian, jika dihitung satu kali sesi makan, maka akan ada 500 piring yang diantar dan ada juga 500 piring yang diambil lagi. Itu baru satu kali sesi makan lo. Sangat mustahil sebuah acara pernikahan hanya menyajikan satu kali sesi makan.

Rata-rata, di kampung saya akan ada tiga kali sesi makan. Sesi pertama yaitu hidangan pembuka berupa snack dan minuman teh panas, sesi kedua hidangan pokok, bisa nasi soto, terakhir hidangan penutup bisa berupa es buah atau jenis hidangan lain.

Tidak mengherankan jika saat ada tetangga yang akan memiliki hajat, semua Sinoman dikerahkan. Saking pentingnya peran mereka, terkadang si empunya hajat sampai menyesuaikan jadwal hajatan dengan kesanggupan Sinoman. Mereka akan berupaya untuk membuat hajat di waktu libur, agar Sinoman yang memiliki kesibukan kerja atau sekolah, bisa terlibat aktif.

Saat zaman saya masih sekolah dulu, banyak tetangga saya yang absen masuk sekolah supaya bisa berpartisipasi dalam kegiatan Sinoman. Mulia sekali. Mereka rela mengorbankan kepentingan pribadinya, demi bisa ikut andil membantu tetangganya.

Sama halnya ketika banyak yang merantau, mereka akan berbondong-bondong pulang ke kampung untuk bisa ikut andil membantu tetangga. Ibu saya sering sekali mengingatkan kepada saya saat ada tetangga yang hendak memiliki hajat.

Ndhuk, Pakdhe Saman arep nduwe gawe tanggal 21 Oktober, awakmu mulih ya, ewang-ewang, nyinom”. Dalam bahasa Indonesia seperti ini bunyinya “ Nak, Pakdhe Saman akan punya hajat di tanggal 21 Oktober, kamu pulang ya, Nak. Bantu-bantu, nyinom juga."

Sinoman juga sangat unik. Mereka yang terlibat menggunakan seragam tertentu. Dahulu di desa saya, para Sinoman memakai seragam kemeja kotak-kotak dengan motif yang sama, baik atasan maupun bawahan. Kini, terakhir seragam yang saya pakai masih kemeja, namun motifnya berubah, batik. Pemakaian seragam bertujuan supaya para Sinoman semakin mudah untuk dikenali oleh pemilik dan panitia hajat.

Sinoman merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela, gratis, tanpa bayaran. Pemilik hajat tidak diberikan beban berupa invoice atau tagihan pembayaran jasa pramusaji. Untuk lelaki, hanya diberikan rokok.

Perubahan zaman memang tidak bisa dielakkan. Hal ini juga berlaku dalam Sinoman. Belum lama ini, saya baru saja pulang kampung, karena ada saudara bikin hajatan. Sangat berbeda dengan tujuh tahun silam. Saat rapat acara hajatan, hanya segelintir pemuda yang datang.

Si empunya hajat membuat perkiraan tamu yang cukup besar yakni 700 kepala. Yang membuat khawatir, yaitu hanya 12 sinoman saja yang hadir. Bayangkan dengan perkiraan tamu sebanyak 700 orang dan tenaga sebanyak 12 orang. Saya geleng-geleng.

Kekhawatiran benar terjadi. Saat kegiatan berlangsung, jumlah tamu melebihi dari perkiraan. Kejadian semakin diperparah dengan jumlah tenaga pencuci piring yang juga terbatas. Alhasil, gelas dan piring kotor semakin menumpuk.

Waktu itu semua orang menjadi tergesa-gesa. Para sinoman dan semua tetangga yang terlibat tidak henti-hentinya hilir mudik menyajikan makanan serta mengambil bekas perlengkapan makan. Semua kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh terburu-buru.

Untungnya hal tersebut tidak berimbas kepada tamu undangan. Dari sekian ratus undangan yang hadir, tidak ada satupun yang melontarkan kekecewaan. Ya, meski barangkali dalam hati mereka tetap ada rasa kecewa.

Saya membatin, "Kok beda banget ya dengan tujuh tahun lalu. Kalau bisa
jangan sampai membuat tamu undangan menjadi kecewa. Bukankan acara pernikahan itu sakral dan semua orang berhak untuk berbahagia?"

Dengan jujur harus saya akui kalau Sinoman nyaris terlupa. Terlebih fenomena catering yang semakin marak, membuat peran sinoman semakin tergeser. Kalau mau mengambil pelajaran, banyak sekali.

Sinoman secara tidak langsung mengajarkan kepada kita semua untuk bisa ikhlas dalam membantu sesama. Dari Sinoman, saya juga banyak belajar untuk bisa lebih dekat dengan para tetangga. Memberikan semangat tanpa pamrih. Ya, seharusnya tradisi inilah yang harus selalu dipupuk oleh masyarakat Jawa.

Editor: Almaliki