Etnis.id - Ada atraksi penyelaman ke dalam laut tanpa alat bantu apapun kecuali sehelai celana pendek dan dada yang telanjang di daerah Lampung atau Banten. Semuanya dilakukan oleh anak-anak.

Jika Anda ingin ke sana menggunakan transportasi laut, maka Anda akan melihat hal itu di Pelabuhan Merak (Banten) dan Pelabuhan Bakauheni (Lampung) dpada waktu siang hingga sore hari. Ketika kapal-kapal bersandar di dermaga pelabuhan dan menunggu keberangkatan selanjutnya dalam tempo beberapa menit, saat itulah aksi unik itu dimulai.

Sebagian penumpang sejauh ini tertarik untuk menyempatkan waktunya berdiri di samping dek kapal. Ganjaran dari atraksi mereka adalah lemparan koin dari para penumpang yang merasa terhibur dengan atraksi yang disuguhkan.

Kegiatan ini lalu menjadi hiburan tersendiri dan dijadikan mata pencaharian. Bak gayung bersambut, jika aksi ini tak mendapat simpatik, maka ia sudah lama hilang. Para bocah itu lebih baik duduk tenang di rumahnya.

Terkadang juga ada penumpang yang melempar koin berkali-kali agar dapat melihat ulang cara para bocah menyelam. Para perenang muda itu disebut oleh masyarakat umum dengan istilah “Pemburu Koin”.

Sebenarnya, sebutan untuk mereka yang menyelam tanpa alat pengaman, tidak hanya “Pemburu Koin”, tetapi ada beberapa sebutan lainnya. Chrisila Wentiasri (2016) dalam penelitiannya tentang “anak-anak koin” di Pelabuhan Bakauheni​, menyebut mereka dengan istilah “anak-anak koin” yang berprofesi nyilem.

Salah satu stasiun televisi swasta dalam program feature Anak-anak Pemberani, menyebut dengan istilah “Anak-anak Pemungut Koin”. Perbedaan penyebutan menjadi penanda, bahwa atraksi unik dari anak-anak itu adalah atraksi yang menarik dan dianggap unik.

Dari aksinya, mereka diganjar dengan koin yang dilempar oleh pengunjung di kisaran angka Rp500 (koin) hingga Rp10 ribu (kertas). Pendapatan yang diperoleh oleh tiap Pemburu Koin mulai Rp70 ribu (jika sepi) hingga sampai Rp250 ribu (jika ramai, seperti di momen-momen arus mudik dan arus balik).

Kegiatan berburu koin di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni memang dianggap sebagai sebuah profesi oleh mereka. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Chrisila Wentisari.

Chrisila juga menyebut bahwa Pemburu Koin didominasi anak-anak usia belasan tahun, tetapi juga ada yang berusia 27 tahun (1 orang hingga 2 orang saja). Dalam sehari, kurang lebih jumlah Pemburu Koin mencapai 60 orang yang berpencar di setiap dermaga.

Dari 60 anak tersebut, sebagian masih duduk di bangku sekolah dan sisanya memutuskan berhenti sekolah. Anak-anak yang masih berusia muda memang akan lebih menyukai pekerjaan yang menyenangkan bagi mereka seperti berenang dan menyelam bersama teman-teman seusianya. Apalagi jika dapat menghasilkan uang. Makanya kegiatan berburu koin dijadikan profesi.

Atraksi penyelaman tanpa pengaman bukan hal yang mudah dilakukan. Logikanya, penyelam yang hebat pasti merupakan perenang yang hebat pula. Manusia tidak akan bisa menyelam jika tidak bisa berenang.

Pertanyaannya, jika berenang saja harus belajar terlebih dahulu, dari mana anak-anak Pemburu Koin yang masih berusia belasan tahun belajar menyelam? Bahkan penyelamannya dilakukan secara akrobatik. Jawabannya adalah belajar secara otodidak dengan cara memperhatikan teman seperjuangannya yang lebih dulu mahir dalam berenang dan menyelam dengan mode akrobat.

Tradisi berburu koin berasal dari hobi masyarakat sekitar pelabuhan yang memang suka berenang dan ada salah satu penumpang yang melihat lalu iseng melempar koin. Tanpa disadari, sikap iseng tersebut telah menjadi tradisi sekaligus profesi.

Lama-kelamaan, keunikan dan kesenangan profesi Pemburu Koin bukan berarti tanpa ancaman. Pihak pelabuhan telah mengeluarkan pernyataan bahwa kegiatan berburu koin di area pelabuhan dianggap sebagai tindakan ilegal dan melarang menjadikan kegiatan berburu koin sebagai profesi, tetapi masyarakat sekitar tetap melakukannya.

Pihak pelabuhan tidak bisa berbuat apa-apa karena yang mereka lakukan adalah hal yang berhubungan dengan urusan perut. Chrisila (2016) dalam penelitiannya pernah mewawancarai salah satu anak yang berprofesi sebagai “Pemburu Koin” dan menanyai alasannya memilih berhenti sekolah.

Anak tersebut menjawab bahwa bersekolah tidak bisa menghasilkan uang dan tidak menyenangkan, sedangkan bekerja (berburu koin) dapat menghasilkan uang sekaligus menyenangkan.

Jika pihak pelabuhan melarang dengan kasar, pihak pelabuhan khawatir larangan tersebut justru mengancam kelangsungan hidup mereka. Posisi pihak pelabuhan seperti peribahasa bagaikan makan buah simalakama. Melarang mereka berburu koin, berarti memutus sumber penghasilan Pemburu Koin, sedangkan membiarkan, berarti mengamini saja kalau nyawa Pemburu Koin terancam.

Beberapa ancaman yang bisa berakibat fatal dari berburu koin adalah:

Terpeleset ketika melompat dari dek kapal untuk memulai penyelaman. Bahkan ada beberapa anak yang nekat melompat dari cerobong asap kapal. Jika terpeleset, maka tubuh anak itu akan mengahantam badan kapal yang mampu membuat tubuhnya memar, remuk, patah bahkan hancur.

Terbentur mengenai karang di bawah laut, yang dapat merobek bagian tubuh Pemburu Koin. Jika karangnya keras dan tajam, maka luka robek yang diderita bisa menyebabkan pendarahan parah yang membuatnya tidak bisa kembali ke permukaan, sedangkan pertolongan datang terlambat. Hal yang terjadi selanjutnya adalah tangisan dan penyesalan.

Terbawa putaran arus yang dihasilkan oleh baling-baling kapal. Kondisi tubuh yang kelelahan karena bolak-balik dari darat ke laut pun sebaliknya, membuat stamina tubuh menurun. Kecepatan dan daya selam bisa saja tidak mampu mengimbangi arus dari baling-baling kapal. Jika hal itu terjadi, maka tubuh akan tertarik ke arah baling-baling kemudian mencabik-cabiknya tanpa ampun hingga habis. Yang tersisa hanyalah ucapan selamat tinggal dan pulang ke rumahnya tanpa nyawa.

Profesi Pemburu Koin memang menjadi tradisi yang unik dan hiburan bagi sebagian penumpang kapal di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni, tetapi setiap hal selalu memiliki risikonya masing-masing. Begitu pula Pemburu Koin. Semoga keselamatan dan kesehatan tetap menjadi prioritas utama.

Editor: Almaliki