Toponim Pasar hingga Perpolitikan di Dalamnya

Kultur Jan 07, 2020

Etnis.id - Gibran Rakabuming Raka tampaknya mengikuti jejak bapaknya, dari pengusaha menjadi politisi. Ia juga blusukan turut pasar seperti yang dilakoni Presiden Jokowi, tatkala menyalonkan diri sebagai wali kota, gubernur hingga presiden.

Di sana, ia bersemuka dan bercakap dengan para bakul untuk merangkul calon pendukung. Sekaligus, kulak warta masyarakat akar rumput.

Sejatinya, pasar menyimpan pengetahuan yang luar biasa, tidak saja aspek politik dan ekonomi yang mestinya dipahami para politisi dan publik.  Arena transaksi ini tercipta bukan tanpa kisah dan makna kultural.

Nyata bahwa terdapat pola umum seperti penjual dan pembeli, permintaan dan penawaran, produsen dan konsumen yang memengaruhi terjadinya sebuah pasar. Namun, karakter budaya lokal berikut cara pandang masyarakat, tidak bisa diabaikan dalam fenomena perkembangan pasar tradisional.

Umumnya, masyarakat kala itu berpedoman pada aspek waktu, guna menandai aktivitas tertentu. Demikian pula dalam proses lahirnya pasar kuno di Jawa yang merujuk hari pasaran, yakni Kliwon, Legi, Pahing, Wage dan Pon.

Pasar secara harfiah berarti berkumpul untuk jual-beli barang sekali dalam lima hari Jawa. Beda kasus di Betawi-Jakarta. Warga di sana tidak mengakrabi hari pasaran sebagaimana wong Jawa yang memegang tradisi leluhur.

Hanya saja, orang Jakarta tetap merujuk pada konsep hari yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu. Pengaruh budaya Melayu yang hidup selama berabad-abad di Batavia, rupanya berhasil merasuk dalam jantung hati penduduk setempat.

Kemudian, unsur budaya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dicomot untuk identitas pasar. Hingga detik ini, jejak toponim Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Kemis, dan Pasar Minggu masih dapat kita jumpai.

Tempo dulu, penamaan pasar dalam satu wilayah sengaja dibikin berbeda supaya tidak tabrakan. Pasalnya, banyak penjual ikut muter meramaikan pelbagai pasar di kawasan itu.

Fakta bahwa tingkat gumbrenggeng atau keriuhan suasana pasar mencapai puncaknya, ketika pas hari pasaran tiba. Misal, “kegaduhan” Pasar Kliwon di Solo kian menjadi, saat pasaran Kliwon saja.

Di hari biasa, medan ekonomi ini tidak terlalu dijubeli penjaja dan pembeli. Pasar dengan komoditas utamanya yakni kambing itu, berjejaring dengan peternak di pedesaan, perantara jual beli di tingkat kawedanan (kecamatan), serta warga yang hendak membeli kambing maupun daging kambing untuk dimasak. Ruang sosial-ekonomi tersebut menjadi tempat yang didatangi masyarakat untuk memenuhi konsumsi daging kambing.

Selain itu, terdapat jenis pasar yang tidak tergantung pada hari pasaran tertentu. Komoditas yang ditawarkan memang tidak banyak terpengaruh oleh siklus pasaran, melainkan dipengaruhi intensitas upacara ritual yang dilakoni masyarakat setempat.

Sebagai contoh, Pasar Kembang di telatah Yogya dan Solo. Dinamakan Pasar Kembang lantaran di masa lampau, pasar ini memasok kembang untuk kepentingan upacara budaya. Kenyataan itu sukar dilepaskan dari kebiasaan bangsawan keraton bersama para kawula yang sering menggelar ritual tradisional dengan memakai unsur kembang.

Ambillah misal, upacara perkawinan. Terdapat sajen aran kembang yang diwujudkan dalam bentuk sesajian berupa aran kembang (remukan kerak nasi yang sudah digoreng), kembang pari (kerak nasi yang masih mentah), serta kembang telon dan rokok cerutu. Kembang telon dan cerutu ditaruh dalam wadah yang berbahan daun pisang yang kedua sisinya diikat dengan potongan lidi.

Kemudian, toponim Pasar Telo di Magelang yang kini lenyap, menjadi kampung. Di masa lalu, kawasan tersebut merupakan pemukiman penduduk yang semula terlibat dalam niaga ketela sebagai produk lokal.

Banyak pasar tradisional yang amblas dicaplok waktu dan menjadi korban pembangunan. Kini, hanya tinggal nama. Sementara Pasar Telo di Yogyakarta kian hari kian ringkih lantaran regenerasi bakul telo melambat.

Memang, eksistensi pasar tradisional di Indonesia kian hari kian terancam. Sebab, kebijakan penguasa yang brutal dan membiarkan menjamurnya pasar modern. Situasi makin menyedihkan dengan potret generasi kekinian terbius oleh kemewahan pasar modern yang semu.

Lebih gemar nongkrong dan menjajakan uang ke pasar modern tinimbang blusukan dan menyapa simbok-simbok bakul di pasar tradisional yang kental dengan keramahan dan kultur dagang lokal.

Ya, asa terpacak bahwa pasar bukan sekadar ladang empuk yang dikunjungi para politisi ketika hendak meriah dukungan. Namun setelah berhasil duduk di kursi kekuasaan, pasar dan penghuninya dijadikan sasaran proyek demi mengeruk keuntungan.

Buahnya, malah mematikan ekosistem pasar. Bahkan, beredar cerita dari mulut ke mulut para bakul, yakni pasar terbakar gara-gara pedagangnya alot menolak proyek revitalisasi.

Editor: Almaliki

Heri Priyatmoko

Sejarawan Dan Penulis buku "Keplek Ilat"