Saat Orang Bugis Menjadi Spion di Tanah Jawa

Tarian Mar 18, 2020

Etnis.id - Di Kota Cirebon, ada tarian unik yang menyimbolkan kedekatan orang Sunda dan Bugis ratusan tahun silam, yakni Tari Ronggeng Bugis, atau Tari Telik Sandi.

Tari Ronggeng Bugis merupakan pergelaran tari komedi yang dimainkan oleh penari laki-laki, tapi menggunakan busana perempuan yang mirip badut, wajahnya dirias layaknya perempuan, hanya saja perpaduan riasnya sangat unik sehingga terlihat lucu.

Ada kata Bugis di dalam tarian asli Cirebon ini. Bagaimana mulanya? Jika dipikir, Suku Bugis berasal dari Sulawesi Selatan, mereka berjarak sangat jauh dari kepulauan Jawa. Keduanya dibelah lautan luas.

Sejarah Ronggeng

Saat Pangeran Walangsungsang Cakrabuana membuka Cirebon pada Tahun 1448 Masehi, jumlah warga yang telah mendiami wilayah ini terdiri dari macam-macam suku, ras dan agama. Di antaranya Jawa, Sumatera, semenanjung Malaya, Bugis, Siam (Thailand), Arab dan Cina.

Berdasar Babad Cirebon, peristiwa merdekanya Cirebon dari kekuasaan Pajajaran, terjadi pada tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra Masa Sahasra Patangatus Papat Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Cirebon. Penggagas kemerdekaan ini adalah keponakan dari Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana, yaitu putera Nyai Subanglarang yang bernama Syarif Hidayatullah.

Tahun 1482, setelah Syarif Hidayatullah atau Sunan Jati menjadi Sultan Cirebon, ia kemudian membuat maklumat kepada Raja Pakuan Pajajaran untuk tidak mengirim upeti lagi, karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi negara yang merdeka.

Selain itu, Sunan Jati melalui lembaga Wali Sembilan telah berulang kali memohon kepada Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk agama Islam, tetapi tidak ditanggapi. Sunan Jati lalu menyatakan Cirebon sebagai negara merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran (Dahlan 2012).

Pada tahun yang sama, untuk mengetahui reaksi dari pernyataan kedaulatan penuh Negara Islam Cirebon. Sunan Jati membentuk pasukan Telik Sandi (prajurit Sandi Yuda) yang melakukan kegiatan spionase di wilayah Pajajaran.

Pasukan Telik Sandi ini dipilih dari orang-orang yang berani, bermental kuat, cerdas serta pandai menyamar. Menurut sumber lisan yang dituturkan secara turun-temurun oleh para tetua di sana, perjalanan panjang terbentuknya Kerajaan Cirebon atas bantuan prajurit-prajurit Bugis.

Pasukan tersebut bertugas untuk memata-matai wilayah Pajajaran. Caranya, menyamar sebagai seorang penari ronggeng. Orang yang melakukan itu berasal dari Bugis yang menetap di Cirebon.

Pasukan Telik Sandi ini dipimpin oleh panglima wanita yang cantik, cerdas dan gagah perkasa, yaitu Nyi Mas Gandasari yang berasal dari Kerajaan Aceh, murid Ki Sela Pandan, pendiri Cirebon.

Baik di era Galuh, masa Portugis, maupun masa Kolonial, peranan Bugis tergolong penting, sehingga diabadikan pada seni pertunjukan wayang dengan tipe sepasukan prajurit perang yang disebut Krodhan Bugis.

Maknanya adalah prajurit Bugis yang menakutkan bagi musuh. Ketika bantuan orang-orang Bugis tidak diperlukan lagi, mereka kembali ke Sulawesi Selatan. Sebagian kecil sisanya, tetap berada di Cirebon, karena merasa betah dan diikat perkawinan dengan penduduk setempat.

Ronggeng Bugis di Mataram

Pada tahun 1674 sampai 1978, Ronggeng Bugis kembali memainkan perannya sebagai tarian spionase saat intrik politik terjadi di Mataram, pada waktu itu, huru-hara terjadi kisruh perebutan kekuasaan.

Penyebabnya adalah ketika Raden Trunajaya memberontak melawan Sunan Amangkurat I yang memerintah dengan tangan besi. Pasukan Trunajaya  yang berasal dari pelbagai etnik, bersatu menghadapi hegemoni Amangkurat I yang berafiliasi dengan VOC.

Dalam pemberontakan itu, Trunajaya mendapat bantuan dari Banten serta pasukan Makassar pimpinan Karaeng Galesong, yang memainkan peran penting, sehingga berakibat hampir separuh pulau Jawa dikuasainya.

Mataram lalu mengadakan hubungan kerjasama dengan VOC, sebagai afiliasai kesatuan agar mampu memblokade serangan-serangan Trunajaya. Namun kompeni rupanya tidak ingin berhadapan dengan kekuatan Makassar. Hingga Aru Palakka bersama pasukan Bugis-nya, kembali ditugaskan untuk menumpas gerakan Karaeng Galesong yang ikut terlibat dalam intrik politik Trunajaya.

Dalam kondisi tegang, Mataram memanfaatkan penari Ronggeng Bugis yang memainkan tugasnya sebagai hiburan spionase dengan tujuan menyelidiki kekuatan pasukan dari Makassar, Banten, dan Madura.

Tugas penyamaran ini dilakukan oleh orang-orang dari Bugis yang khusus didatangkan oleh VOC untuk membantu Mataram meredam pemberontakan Trunajaya. Karena orang-orang Bugis yang menjadi penari, maka tarian ini dinamakan Ronggeng Bugis.

Informasi yang diperoleh dari pelatih tari Ronggeng Bugis, bahwa pada masa-masa berikutnya, tari Ronggeng Bugis dipentaskan masih sesuai dengan peruntukannya sebagai mata-mata. Tetapi penampilan itu tidak lagi dilakukan oleh orang-orang Bugis, melainkan putera-putera Cirebon yang tetap menggunakan nama Ronggeng Bugis.

Tradisi ronggeng sebagai tari spionase ini, masih berlangsung ketika masa Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945-1950 dan masa penumpasan DI/TII dengan ciri khas tarian massal.

Pementasan Ronggeng

Tarian ini termasuk tarian masyarakat pesisir, mungkin karena dahulu diperankan oleh orang-orang Bugis yang memang merupakan wangsa pelaut yang lebih banyak bermukim di pesisir.

Tariannya tergolong sederhana dan menghibur, karena mengikuti pola tradisi masyarakat nelayan sebagian pelaut yang lugas. Gerak yang ditampilkan mudah diikuti sehingga mampu mengajak penonton ikut bergoyang menikmati irama gerakan.

Pementasan Ronggeng Bugis diiringi oleh gamelan atau waditra yang terdiri atas: Kelenang, gong kecil, kendang kecil, kecrek, dan saron. Para penari semuanya laki-laki yang menggunakan kebaya berwarna mencolok dan terang.

Sanggul kecil ditempelkan di belakang kepala pada posisi miring. Make up menyolok dan gambar bibir yang miring, sehingga perpaduan seluruh hiasan yang digunakan memunculkan kesan lucu yang mengundang tawa.

Tata rias dan pakaian yang digunakan tidak selamanya baku. Semua dapat berubah-ubah sesuai dengan bayangan kesan yang akan mengundang gelak tawa penonton (Irianto 2012).

Rias yang mencolok dimaksudkan agar penari yang sesungguhnya mata-mata itu, tidak mudah terdeteksi, sehingga memudahkannya mengintai sebagai mana tugasnya menjadi mata-mata.

Peran laki-laki sebagai penari tampaknya juga disengaja, sebab mereka mempunyai tugas berat. Apabila penyamarannya ketahuan, ia dengan mudah melarikan diri atau melawan.

Jumlah penari tidak ditentukan secara khusus. Rata-rata berjumlah antara empat sampai dengan sembilan orang, atan bahkan lebih banyak lagi. Banyaknya jumlah penari akan disesuaikan dengan luas arena pertunjukkan, karena dilangsungkan dengan gerakan lincah, atraktif dan dilakukan oleh beberapa penari, maka tarian ini memerlukan arena cukup luas.

Pertunjukan ini memakan waktu sampai 5 menit. Pada penampilan pertama di atas panggung, gerak tari diaminkan dengan gerakan lincah dan dinamis, semua anggota tubuh termasuk mata, mulut dan rambut digerakan dengan lucu.

Dominasi pola gerakannya seperti sedang mengintai dan mengawasi. Apabila telah dianggap cukup waktunya, maka pertunjukan diakhiri dengan gerak tari berjalan. Setiap individu penari bisa melakukan improvisasi gerak sesuai dengan gaya masing-masing. Gerakan lucu ini berfungsi menyamarkan pengintaian sebagaimana tugasnya menjadi mata-mata.

Saat ini, tarian Ronggeng Bugis tidak lagi berfungsi sebagaimana sejarah diciptakannya. Tarian ini lebih banyak mengikuti perkembangan seni sesuai keadaan pada saat akan ditampilkan.

Meskipun tarian menyesuaikan dengan tema event yang sedang berlangsung, unsur jenaka dan busana mencolok dengan aneka warna serta rias wajah lucu penarinya tetap dipertahankan.

Tarian ini adalah warisan kultural, sejarah lahirnya diperagakan oleh orang Bugis dan dipimpin orang Aceh. Artinya, pada masa itu, persatuan Nusantara telah terbentuk jalinan kekerabatan dan kerjasama sebelum VOC mengusai Nusantara.

Editor: Almaliki

Zulkifli Mappasomba

Menulis dan mencari tahu jejak sejarah kebudayaan nusantara. Pendiri Komunitas “Sejarawan Muda Nusantara”.