Jeneponto: Citra Keras, Karaeng, dan Arkeologinya

Kultur Mar 19, 2020

Etnis.id - Jeneponto menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan, dikatakan daerah yang tertinggal? Iya. Faktor itu bisa didukung oleh data statistik yang dipakai pemerintah untuk menentukan, mana miskin dan tidak. Tapi apakah kita hanya melihatnya dari sudut itu saja?

Cuaca di sana gersang. Berhampar tanah-tanah kering dan pecah, jika melewati jalan poros Jeneponto ke Bantaeng. Pastinya tidak semua, itu yang saya lihat saja. Jika melihat watak manusianya, saya merasa tentram. Musababnya sederhana saja, kita dijadikan bak raja jika bertamu. Lagipula, peradaban mereka cukup baik.

Stigma kekerasan

Kasus demi kasus terjadi di Jeneponto. Ada orang yang mati dibunuh, dibacok dan digorok. Media bersama pembaca yang senang membaca hal yang berbau darah, secara tidak langsung, memberi stereotip bahwa masyarakat Jeneponto gampang tersulut emosi alias paemosiang.

Jika perhelatan Pilkada, Jeneponto disebut sebagai daerah merah, yang tak segan saling hantam sesama rakyat demi mengusung dan menjunjung calon-calon yang mereka andalkan.

Itu data dari kepolisian dan diamini pemerintah setempat. Jika pernyataannya begitu, setiap daerah bisa jadi "di-merah-kan". Relasi kuasa bisa membuat satu daerah damai, menjadi mencekam, dari waktu ke waktu.

Jika masih bingung apa itu relasi kuasa, lihat saja bagaimana politik uang masih bermain di desa-desa. Tak usah jauh ke kota, tempat kebijakan dibuat lebih "gila". Hal itu dibauri dengan jatah preman. Membagi jabatan pada tokoh yang "keras" demi kekuasaan, dianggap penting. Orang-orang yang dibayar rela melakukan apa saja.

Ambil contoh, Jhon Kei misalnya, mengaku bisa melakukan apa saja dulunya, jika harga cocok. Entah itu mengawal pejabat atau pengusaha atawa menjaga gudang di beberapa daerah yang rawan.

Saya menganggap, awalnya pendidikan dan apa pekerjaan orang-orang di Jeneponto beserta cuaca di sana, menjadi pemicu gampangnya terjadi konflik. Diganggu sedikit, orang-orang bisa dengan mudah mengangkat parang.

Opini saya lalu didukung dengan pernyataan mantan Sekretaris Daerah Jeneponto, Syahrir Wahab. Pemerintah Jeneponto mengaku, segala upaya sudah dilakukan, terutama untuk memanggil masyarakat kembali pulang dan membangun daerahnya.

Tetapi, mereka yang sudah telanjur frustrasi dan pesimis, enggan melirik upaya apa pun yang dilakukan Pemda. "Memang persoalannya sangat berat, terutama menyangkut masyarakat. Bayangkan, mereka lebih senang bekerja sebagai pengayuh becak atau buruh kasar, daripada mengelola rumput laut, misalnya."

"Ini karena yang tertanam di benak mereka adalah bagaimana cara mendapatkan uang cepat, tanpa harus menunggu," ujar Sekretaris Daerah Jeneponto Syahrir Wahab, yang dikutip dalam tulisan Reny Sri Ayu.

Itu pertama. Yang kedua, Syahrir mengaku lagi kalau bekas kabupaten yang pernah ia kelola bersama masyarakat itu, memang dicitrakan buruk. "Kami mengakui, selama ini citra buruk Jeneponto yakni masyarakatnya yang keras dan berbagai kasus kriminal, membuat orang enggan melirik Jeneponto."

"Tetapi, saat ini dengan upaya yang terus kami lakukan untuk menyadarkan dan memberdayakan masyarakat serta kerja keras aparat kepolisian dan TNI, persoalan seperti itu sudah bisa diatasi."

"Atas nama masyarakat, kami mengundang investor dengan tangan terbuka untuk masuk ke Jeneponto. Banyak yang bisa dilakukan di sini, dan banyak potensi yang siap digarap," kata Syahrir.

Sapaan Karaeng

Tak banyak yang bisa diandalkan dari Jeneponto. Mungkin yang membaca ini, mengira begitu. Tetapi saya tidak. Berkeliling Jeneponto dan mengenali masyarakatnya lebih dekat, adalah hal yang menyenangkan.

Sewaktu di Makassar, hampir setiap pekan medio 2017-2018, saya selalu menyempatkan diri untuk menjumpai kawan-kawan yang berada di Jeneponto dan Bantaeng. Apa sebabnya?

Sebagai warga kota, saya sumpek melihat perkembangan Makassar yang kian hari membosankan untuk saya lihat. Saya tertarik melihat pemandangan yang menakjubkan di tetangga Makassar.

Di Jeneponto, wisata alamnya patut diacungi jempol. Saya senang bersepi-sepi di salah satu tempat yang panoramanya indah di sana. Tempatnya saya tahu dari warga lokal, tentu saja.

Orang di Jeneponto, ramah-ramah. Dalam kunjungan saya ke rumah seorang kawan, saya langsung disuguhi sebotol minuman soda dan kacang kulit yang lezat. Bertanya kabar dan tak sungkan menawarkan bantuan. Senyum warga begitu ramah saat melihatku.

Saat membeli lammang (lemang) atawa buah tala, kita dipanggil dengan sapaan Karaeng. Karaeng, menurut orang Makassar, adalah sapaan untuk raja. Teori pembeli adalah raja, berlaku di Jeneponto.

Kalau dibilang orang Jeneponto adalah orang yang tertinggal dari pelbagai aspek, di sisi lain iya. Tapi dalam menghormati orang lain, saya kira mereka jauh lebih tahu daripada kita yang berpendidikan ini.

Begitulah. Orang Jeneponto adalah orang yang menghormati tamu. Ciri itu yang nyaris tidak kudapat saat membincangkan kabupaten yang disebut sebagai Turatea ini. Lalu berpengaruhkah stigma buruk yang melekat itu dalam posisi tawar orang Jeneponto dalam pusaran kekuasaan di Sulawesi Selatan? Entahlah, saya tidak punya cukup data untuk mengambil kesimpulan.

Saya pernah menulis tentang seorang mantan preman yang menguasai dunia hiburan di Jakarta. Ia lelaki asli Jeneponto. Saat kutulis namanya, ia tak mau ada embel-embel "tukang pukul" lagi di pemberitaan yang menyoal dirinya.

Satu waktu pula, saya pernah berdebat dengan seorang reporter (saat itu saya menjadi editor di salah satu media daring di Makassar). Ia memohon untuk menghapus kata mantan preman yang melengket di dekat nama objek yang ditulisnya.

"Baik orangnya. Kalau ada anak Sulawesi datang ke tempatnya dulu, malah dikasih uang pulang ke Makassar, kalau ingin buat aneh-aneh di Jakarta."

Saya mengambil kesimpulan, sepertinya predikat itu tidak dihargainya lagi. Dunia hitam sudah ingin ditinggalkannya. Ia barangkali sudah ingin hidup tenang. Penuh senyuman di kampungnya dan membantu banyak orang di Jeneponto atau Sulawesi Selatan.

Guratan seni di Jeneponto

Guratan seni yang mencolok di beberapa kuburan raja-raja Binamu (yang sekarang jadi Kecamatan) di Jeneponto, di Kompleks Makam Bataliung, membuktikan bahwa orang Turatea mahir dalam membuat simbol.

Berdasarkan peninggalan-peninggalan itu, bisa disimpulkan bahwa sinkretisme kuat pengaruhnya di Sulawesi Selatan, dulu. Bentuk arsitektur pada kompleks makam Bataliung yang berbentuk undakan, contohnya.

Nisan di Kompleks Makam Bataliaung/Flickr/Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia

Dalam gambar yang saya temukan, di pahatan nisan salah satu makam di Bataliung, ada seorang lelaki yang memegang bunga dan telanjang. Jika dilihat masa sekarang, tentu saja itu dianggap sebagai pornografi.

Merujuk pada penelitian ciamik dari Erwin Mansyur dan Indana Manik. Dulu, pembuatan simbol alat kelamin pada zaman prasejarah, kebanyakan diletakkan pada bangunan megalitik yang sangat berkaitan dengan kepercayaan kala itu.

Pada zaman klasik (Hindu-Budha), simbol genetalia paling sering digunakan. Bahkan salah satu dewa yang disembah, yaitu Dewa Siwa disimbolkan alat kelamin yang berpasangan lingga dan yoni (phallus dan vulva).

Setelah masuknya budaya Islam, penyimbolan genetalia kebanyakan dijumpai dalam bentuk ragam hias arsitektural, berupa nisan phallus dan ragam hias dekoratif baik hiasan phallus maupun vulva.

Dengan contoh di atas, beberapa dari kita sudah selayakanya mengubah pandangan tentang Jeneponto dari bingkai kekerasan, menjadi bingkai arsitektur, seni, dan perlakuan kepada tamu dengan sebenar-benarnya.

Almaliki

Senang bercerita.