Etnis.id - Ada ritual yang menarik di Provinsi Sumatera Selatan, namanya ritual mandi darah di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Terdengar menakutkan, tetapi punya arti sebaliknya.

Ritual itu dilakukan sebagai bentuk kesyukuran terhadap sang pencipta dan dilakukan atas dasar nazar, apabila berhasil mencapai keinginannya, yang berharap akan mandi darah.

Contohnya begini, jika seorang mahasiswa lulus dengan nilai yang memuaskan. Ia bernazar akan mandi darah karena rezeki yang diberi. Sederhananya, sebagai ekspresi rasa syukur.

Begitu juga dengan capaian keinginan lainnya, entah mengenai usaha bisnis yang sudah sukses atau lainnya, maka ia akan mandi darah.

Ritual mandi darah di Muratara, memakai darah hewan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Darah yang diambil itu nantinya akan dilumuri dari atas kepala sampai mata kaki.

Darah yang dipakai harus disesuaikan dengan isi dompet. Misal, Anda hanya punya uang untuk membeli kambing, sebaiknya memakai darah kambing. Jika kantong cukup tebal, bisa memilih darah sapi.

Proses ritualnya tidak terlalu rumit. Kambing atau sapi yang sudah disembelih, darahnya akan ditampung dalam sebuah wadah (ember).

Nantinya, tetua yang akan memandikan orang yang bernazar itu, akan membaca doa-doa sebelum darah diguyurkan. Umumnya, mandi darah cuma dilakukan untuk lelaki saja.

Saat dimandi, lelaki tersebut telanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek agar darah hewan ternak membasahi seluruh bagian badan.

Soal muasal ritual ini, memangnya apa sejarahnya? Tak ada yang tahu pasti. Soal kapan, ritual ini sudah dilakukan sejak dahulu kala saat masyarakat wilayah Sumatra menganut agama Hindu dan Budha.

Setelah Islamisasi di daerah Sumatera Selatan, mayoritas masyarakatnya meninggalkan kepercayaan lamanya beserta ritual ini. Akhirnya, sekarang hanya dilakukan segelintir masyarakat Muratara saja.

Di sana, orang-orang menyebut mandi darah dengan sebutan Merabun Kemean. Jika ditanya ke mana daging hewan yang disembelih sebelumnya, jawabannya akan digunakan untuk syukuran dan sisanya akan dijual ke pasar.

Saya ingat satu film yang mirip dengan ritus ini. Film kolosal di channel Historis bertajuk Vikings (Skandanavia), soal sejarah penjarahan orang-orang Vikings yang dikomandoi oleh Ragnar Lothbrok ke kerajaan Wessex, Inggris.

Ketika Ragnar meninggal dunia, anak Ragnar memimpin the great army menyerang Wessex sebagai upaya pembalasan. Dalam salah satu serialnya, saat kaum Vikings berdamai dengan kerajaan Wessex yang dipimpin oleh raja Egbert. Mereka diberikan lahan yang amat luas untuk bercocok tanam di wilayah Inggris.

Mantan istri Ragnar Lothbrok yang menyembah Dewa Odin, Lagertha atau dikenal sebagai wanita perisai, melakukan suatu ritual paganisme untuk Dewa Odin, dengan menyembelih hewan ternak.

Darah hewan tersebut kemudian dibasuh ke bagian wajah, sebelum darah tersebut disiram ke tanah untuk memulai masa tanam. Darah direpresentasikan sebagai sebuah persembahan atas dewa mereka.

Namun bedanya dengan ritual mandi darah oleh masyarakat Muratara, itu dianggap sebagai wujud syukur pada tuhan pencipta alam semesta. Sementara kaum Vikings mempersembahkan kepada Dewa Odin yang bersemayam di Valhala (surga kaum vikings).

Ada juga tradisi lain yang muncul di masyarakat Jawa, yaitu mandi kembang. Ritus ini biasanya dilakukan oleh para wanita untuk memperoleh kecantikan, kebugaran, karisma dan sebagainya.

Ada juga yang digunakan pada saat melangsungkan acara pernikahan. Calon pengantin wanita akan dimandikan terlebih dahulu dengan pelbagai macam bunga yang dimasukkan ke dalam bak kolam mandi pada malam 1 syuro.

Mandi kembang juga dipercaya menyucikan hati, pikiran serta menjaga kebugaran tubuh. Di sisi lain, mandi kembang dilakukan untuk ritual memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batu yang dianggap mistis dan mengandung kekuatan ghaib di dalamnya.

Editor: Almaliki