Mengapa Orang Jawa Diajari untuk Tidak Bersikap Blak-blakan?

Kultur Aug 07, 2019

Etnis.id - Kemampuan mengolah kata dalam sebuah peradaban merupakan salah satu simbol menonjolnya peradaban tersebut. Hal ini mengingatkan saya ketika belajar filsafat bangsa Yunani. Bangsa Yunani memiliki kemampuan yang tinggi dalam ilmu sastra.

Makanya Bangsa Yunani menjadi terkenal di seantero dunia. Hal ini juga berlaku dengan Pulau Jawa. Pulau Jawa menyimpan logat bahasa yang khas dan sarat akan makna. Filosofi Jawa yang merupakan warisan leluhur ini jika diselami lebih dalam, ternyata berlaku terus sepanjang hidup.

Warisan pemikiran Jawa seperti eling lan waspodo yang berarti ingat dan waspada, merupakan sebuah petuah yang kaya akan nilai kebijaksanaan. Beberapa sumber menyebutkan, jika filsafat Jawa merupakan perbuatan mental yang lebih menitikberatkan pada gejala dan pengalaman supaya menjadi jelas.

Dengan hal ini, kemampuan berpikir serta pengasahan budi orang Jawa senantiasa bertujuan untuk mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan, yang akhirnya termanifestasi dalam wujud pandangan hidup manusia Jawa itu sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa memiliki pola pikir yang sangat khas.

Konsep Othak-athik Mantuk

Othak-athik Mantuk atau OAM merupakan sebuah prinsip yang sudah melekat kuat di dalam diri masyarakat Jawa. Awal mulanya, OAM berasal dari 'kerata basa' ,yaitu sebuah seni untuk menerjemahkan atau memberikan makna kata dari salah satu unsur bunyi. Hingga akhirnya menjadi etimologi rakyat yang merupakan ilmu pemaknaan kata sebagai wujud dari pikiran rakyat.

Berkat keluwesan berpikir masyarakat Jawa, akhirnya lahirlah beragam penafsiran aksara Jawa. Dengan adanya prinsip di atas, lahirlah aksara Jawa (carakan) serta sandangan yang merupakan bagian dari falsafah hidup.

Beberapa falsafah hidup yang lahir seperti.

(1) Sangkan paraning dumadi, yaitu bahwa manusia berasal dari Tuhan yang pada akhirnya juga akan kembali pada-Nya.

(2) Manusia harus senantiasa memayu hayuning bawana, yang berarti memilihara ketentraman hidup, turut andil dalam pelestarian budaya, menyelamatkan dunia hingga mengetahui kewajiban yang harus dilakukan dalam hidup.

(3) Manusia sebaiknya mengenal sifat-sifat Tuhan.

(4) Manusia bisa mengetahui eksistensi Tuhan serta dirinya

(5) Kehidupan manusia sudah ditentukan oleh takdir.

Wong Jowo Nggone Semu

Wong Jowo nggone semu bisa diartikan orang Jawa memiliki kecenderungan terselubung dalam menyabarkan segala hal. Jika ditarik lebih detail lagi, yaitu orang Jawa tidak akan mengungkapkan hal dengan apa adanya begitu saja.

Segala hal akan diungkapkan dalam bentuk samar-samar hingga akhirnya menjadi sebuah ungkapan simbolik. Jika bermanka simbolik, maka yang mengetahui simboliknyalah yang bisa menemukan kebenaran.

Namun inilah luhurnya falsafah Jawa. Seseorang hanya akan menerapkan simbolisme pada orang yang sudah mengetahuinya. Budaya semu ini hadir untuk memberikan rasa enak hati kepada sesama manusia.

Seperti halnya saat ada pengemis yang datang. Untuk mengatakan "tidak" saja, orang Jawa menggantinya dengan simbol menggelengkan kepala atau berkata maklume mawon.

Maklume mawon merupakan perwujudan lain dari kata maafkan saja. Itulah wujud ungkapan semu. Hal itu dilakukan tidak lain supaya saling enak hati antara satu dengan yang lainnya, tanpa perlu mengatakan secara eksplisit.

Falsafah Madya

Pandangan luhur akan hidup dalam masyarakat Jawa dapat dilihat dari falsafah madya. Madya memiliki arti tengah-tengah. Wujud dari falsafah madya ini yaitu peryikapan hidup yang selaras serta seimbang.

Dalam artian sederhana, hidup selaras dan seimbang ini maksudnya hidup yang tidak berlebihan, tidak kekurangan dan pas. Ungkapan “ngono yo ngono nanging ojo ngono” merupakan salah satu sikap hidup falsafah madya.

Ungkapan tersebut memiliki arti, begitu ya begitu akan tetapi jangan begitu. Jika ditelaah lebih dalam lagi, ungkapan tersebut meminta kita untuk bisa angon mangsa saat mengambil keputusan, yaitu dengan bertindak tanpa membuat perasaan orang lain tersinggung.

Dalam hal ini secara tidak langsung orang Jawa harus mampu melihat keadaan dan waktu. Lebih dari itu adalah sebagai wujud penyadaran diri jika ia dan orang lain memang terlahir berbeda.

Dengan adanya perbedaan ini, maka orang Jawa harus bisa menempatkan diri serta tidak terlalu menonjol.
Untuk bisa menerapkan ungkapan ngono yo ngono nanging ojo ngono, tentunya dibutuhkan kepekaan batin supaya bisa menilai situasi dengan sadar dan tepat.

Dengan ini maka orang Jawa harus senantiasa melakukan olah batin dengan tujuan akhir, roh paling dalam di jiwa manusia bisa terlepas dari roh yang tercampuri urusan duniawi.

Editor: Almaliki