Mencoba Antiseptik Leluhur dari Kulit Kayu Secang

Budaya Nov 30, 2019

Etnis.id - Tiba-tiba saja siang itu gawai saya berdering. Dari seberang, terdengar suara parau istri saya. Dengan sedikit isak tangis ia mengabarkan bahwa putri kami yang baru berusia lima belas bulan terkena penyakit ‘aneh’.

Beberapa saat setelah mendengar hal itu, saya tancap gas pulang menuju rumah. Benar saja, begitu tiba, saya langsung cek kondisi tubuh anak saya. Kulitnya dipenuhi dengan luka bakar dan hampir merata seluruh tubuh.

Tangis bocah itu tak kunjung berhenti. Tangannya menggaruk-garuk. Mungkin gatal yang terasa. Beberapa titik sudah menjadi seperti luka bercampur darah akibat terlalu kuatnya garukan tangannya dan masih tipis kulitnya.

Setelah berdiskusi, kami memutuskan segera membawanya ke rumah sakit. Karena awalnya penyakit itu seperti titik kecil biasa di lengan tangan kiri. Kurang dari tiga hari sudah merata ke sekujur tubuh.

Menurut dokter spesialis kulit, anak saya terkena infeksi bakteri. Tidak diperjelas berasal dari mana bakteri itu. Apakah dari makanan serupa alergi? Atau karena sengatan hewan kecil.

Setelah menerima diagnosa tersebut, kami diberi resep obat yang antara lain terdiri dari antibiotik dan salep untuk obat luarnya. Sudah lega, tapi masih agak kurang marem kata orang Jawa. Rasa penasaran masih meliputi pikiran saya. Sesepuh di dekat rumah kami memberikan beberapa diagnosa dengan pengetahuan ‘lama’.

“Oh, itu mungkin bajunya bayi ada yang nggak sengaja ikut terbakar.” Saya mencari-cari di dekat tempat sampah. Apakah ada baju anak saya yang ikut terbakar di tempat sampah. Namun nihil. Logika saya masih belum bisa menerima. Bagaimana ada hubungan antara baju yang dibakar dengan infeksi yang dialami anak saya.

“Begini," lanjut sesepuh itu.

"Iya. Itu mungkin terdengar aneh untuk zaman sekarang. Sebenarnya ada nilai kandungan moral. Sederhananya daripada dibuang atau dibakar, lebih baik kalau itu masih pantas pakai yang disumbangkan saja. Itu mengajak kita sedekah dan kalau membeli baju secukupnya saja.” katanya.

Mendengarnya saya lega. Lalu ia menanyakan apakah sudah diperiksakan ke rumah sakit. Saya jawab sudah dan sudah ada perbaikan. Kondisi anak saya berangsur membaik. Dari kejadian itu kemudian saya juga diberi pengetahuan tentang bagaimana orang Jawa menamai atau mendiagnosa suatu penyakit yang cukup beragam jenisnya.

Ada dabaghen, gudhik, mbrontok, cangkrangen, keringet buntet, nanahen, udunen dan dompo. Ada yang disebabkan karena penyakit atau alergi makanan. Namun dari beragam penyakit itu, ada satu ramuan yang murah meriah dan sangat sederhana sekali cara pembuatannya. Ramuan itu berfungsi sebagai antiseptik untuk kulit.

Ramuan itu terbuat dari rebusan kayu secang yang dikeringkan. Dan hampir semua orang yang saya sambat-i terkait apa yang menimpa anak saya, menyarankan hal yang sama kepadaku.

Iya, kalau dibandingkan dengan antiseptik pabrikan, memang harganya jauh lebih murah. Saya membeli sebungkus plastik di pasar tradisional, harganya seribu rupiah. Dapat digunakan untuk tiga kali pakai.

Caranya, rebus air kemudian masukkan kayu secang kering. Tunggu sampai mendidih dan berwarna merah. Ramuan itu siap untuk digunakan. Dalam kasus anak saya, ramuan itu pergunakan untuk memandikan si kecil.

Mengutip artikel yang ditulis oleh Shrishailappa Badami dan rekannya dari J.S.S Collage of Pharmacy, kayu secang memiliki beberapa manfaat untuk tubuh manusia. Salah satunya adalah sebagai antibakteri.

Infeksi bakteri adalah salah satu penyebab penyakit menular yang paling umum. Rebusan kayu secang ikut meningkatkan kerja sistem imun tubuh untuk melawan berbagai jenis bakteri.

Contohnya basil subtilis (penyebab muntaber/gastroensteritis), staphylococcus aureus (penyebab bakteremia), endokarditis, osteomielitis, serta penyakit kulit, salmonella typhi (penyebab tipes) dan ecoli (penyebab diare dan gangguan pencernaan umum).

Saya bersyukur, ternyata leluhur kita meninggalkan pengetahuan yang begitu luar biasa di bidang medis. Di balik fenomenologi yang kelihatannya hanya othak-athik gathuk dan terdengar aneh seperti hubungan baju terbakar dan penyakit kulit, ternyata mengandung nilai moral yang sebenarnya sangat berguna bagi anak keturunan kita di masa depan.

Pendidikan karakter begitu kuat bersemayam di dalam ajaran para leluhur kita. Menjadi pribadi yang gemar berderma dan hidup sederhana. Tak terkecuali obat antiseptik alias antibakteri yang sangat mudah diracik sendiri.

Sekarang, anak saya mulai rutin mandi dengan campuran antiseptik ala leluhur kami. Dari sana, saya mulai merasakan manfaat dari antiknya antiseptik dari kayu secang.

Editor: Almaliki

Didik W. Kurniawan

Etnomusikolog