Etnis.id - Sebagai orang Sulawesi Selatan, sejak kecil, saya akrab dengan mantra dan azimat. Lingkunganku dekat dengan hal-hal yang berbau klenik. Saya tumbuh di Makassar. Jika libur dan punya waktu senggang, saya tetirah ke tanah lahir Bapak, yakni Kajang, Bulukumba.

Orang-orang di Kajang karib dikenali "orang berbahaya" sebab pandai mempelajari ilmu hitam dan punya banyak baca-baca (mantra). Begitu orang-orang menstigma Kajang.

Ada benarnya, ada juga salahnya. Salahnya adalah, tidak semua orang Kajang pandai mengirim jin atau setan untuk merusak tubuh orang yang tak kita sukai. Tidak semua pula memiliki mantra untuk membuat lawan jenis takluk. Kajang, sejauh ini, sudah bergerak--meski lambat--menuju modernisasi akibat silang pendapat politik dan kebijakan pemerintah pusat, pemda, dan korporat.

Benarnya adalah, ada orang Kajang yang sampai sekarang, masih percaya dengan praktik teluh. Bukan cuma di Kajang Dalam, tempat Ammatoa tinggal, tapi di Kajang Luar juga.

Sudah menjadi rahasia umum di Makassar, bahwa jika ingin mengirim santet atau doti, maka masuklah ke pedalaman-pedalaman Kajang. Di sana masih banyak yang menjalani laku transaksi dan tradisi seperti itu. Akibat informasi "gelap" melulu yang beredar, maka Kajang dianggap sebagai tempat tumbuh kekolotan. Lokasi dedemit bersarang.

Menjadi orang Kajang, saya kerap ditoyor pertanyaan perihal azimat. "Ada orang Kajang punya ini?" Satu kali, kawan saya menunjukkan jimat yang dikeluarkan dari dompetnya. Sebuah kertas yang banyak kaligrafi dari Arab dan ada sebuah pedang menyilang seperti pedang Zulfikar.

"Jimat apa ini sede? Sambarangnu kau," kataku.

"Ilmu kebal, ini."

Saya melihatnya dengan seksama. Percaya dan tidak percaya dengan hal itu. Toh, saya bukan lelaki yang gemar mengoleksi barang-barang berbau "gaib" alias saya mau tahu, tetapi bukan untuk dipuja-puja apalagi jadi kolektor.

Lama-lama, kawan saya yang lain, menginfokan hal penting tanpa pernah saya minta buah cakapnya. Ternyata, azimat-azimat yang banyak beredar di Sulawesi Selatan, banyak berhubungan dengan Syiah.

"Lihat saja dalam jimat yang banyak dipakai orang. Ada pedang. Ada juga gambar harimau yang garisnya dibuat dari huruf-huruf Arab. Itukan simbol dari Ali. Bisa dibilang, itu berbau Syiah."

Tentang harimau, saya ingat sepotong ’Syair perang mengkasar’ berbunyi: Keempat sahabat baginda Ali lagi menantu kepada Nabi, gagahnya indah tidak terperi
harimau Allah ia dinamai.

Saya tidak langsung percaya. Pertama, siapa saja bisa membuat gambar pedang Zulfikar serta harimau yang identik dengan Sayyidina Ali. Tetapi makin dalam pertanyaan, saya diusik, "dari mana mereka belajar kaligrafi seperti itu? Budaya dari mana?"

Toh, tiang ritus beraroma agamais seperti itu, tidak tumbuh sendiri di Sulawesi. Ada yang membawanya. Makin hari, saya makin banyak bertanya dan orang-orang yang menjawabnya mengiyakan dengan sumir.

Suatu ketika, saya melihat jurnal yang dikirim otomatis lewat surelku. Kutemukan jurnalnya berjudul Jejak Ajaran Syiah (Persia) di Sulawesi: Studi Awal Kasus Suku Bugis, Makassar dan Mandar; Supha Atha'na.

Menarik, meski isinya masih bisa diperdebatkan, tentu saja. Awal mula tulisannya, tersebutlah bahwa Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra, disebut sebagai orang Persia, ulama besar yang merupakan kakek dari para wali songo, yang datang ke Sulawesi Selatan, jauh sebelum Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang, serta Datuk Di Tiro menginjakkan kakinya di Kerajaan Tallo.

Sumbernya dari Martin Van Bruinessen (1995) yang mengemukakan bahwa anak-anak Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-saudaranya, diduga mengembara ke Asia Tenggara. Jamaluddin awalnya menginjakan kaki di Kamboja lalu ke Aceh kemudian berlayar lagi ke Semarang, dan menghabiskan bertahun-tahun waktunya di pulau Jawa. Akhirnya, ia menyambangi Pulau Sulawesi pada 1452 Masehi, tinggal di sana tepatnya di Tosora, Wajo, sampai ia wafat.

Jejak inilah jadi awal munculnya pengaruh Persia atau mungkin corak keislamannya, dalam kehidupan orang-orang Bugis-Makassar terdahulu. Catat! Belum tentu Sayyid Jamal yang menyebarkan pemahaman klenik.

Selain jimat, ada juga pesan-pesan leluhur berupa mantra yang menyebut nama Ali berulang-ulang seperti dalam Assikalaibineng, kitab bersetubuhan Bugis.

Berikut cuplikannya:

Pannessaengngi bicaranna Allaibingengnge/Yinae pangissengenna Bagenda Ali ri wettu maelona pasitai alenae y-Ali na Patima/Wenni Jumai nabauwwi apa kuwai mmonro maninna/Sattui nabaui ulunna APA kuwai mmonro maninna/wenni Aha'i
nabauwwi matanna apa 'kuwai mmonro maninna/Wenni seneng nabauwwi pallawangeng enninna/Salasai Wenni nabauwwi inge'na apa kuwai mmonro maninna/ Wenni Araba'I nabauwwi olona apa kuwai mmonro maninna.

Terjemahan bebasnya: Ini adalah pengetahuan dari Baginda Ali ketika ia ingin melakukan hubungan dengan Fatimah/Pada malam Jumat ia mencium kepala mahkotanya karena di situ pusat sensitifnya/ Sabtu ia mencium kepalanya karena di situ pusat sensitifnya/Minggu malam dia mencium matanya karena di situ pusat sensitifnya/Senin malam, ia mencium di antara alisnya di situ pusat sensitifnya/Selasa malam, ia mencium hidungnya karena di situ pusat sensitifnya/Rabu malam, ia mencium dadanya karena di situ pusat sensitifnya.

Dalam Assikalaibineng, hubungan intim dari pasangan yang menikah secara esensial adalah simbolik kegiatan keagamaan atas nama Sayyidina Ali dan Sayyidah Fatimah Az-Zahra. Maknanya, untuk mengajak para pasangan mengikuti dan mematuhi etika yang dilakukan oleh keluarga Ali dan Fatimah Az-Zahra, yang kemudian disebut 'Nikah Bathin'.

Aturannya sebagai berikut:

"...Naiya bunge sitako makkunraimmu tapakkoro'ko riyolo/Mupakkitai mata atimmu ita alemu Alepu/Muita lapaleng Ba-aku makkunraimmu/Muinappa kkarawai limanna makkedae muberesellenggi/Assalamu alaikum aku y-Ali makkarawa Fathimah rikarawa/Narekko muwarekkenni limanna sahadae powadani/Asyadu ilaaha Allaa illaahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah/Nakkedana atimmu Ajiberaele panikaka Muhamma walliya uwallie sabbiya pangelorenna Alla Taala/Kumpayakung/Muinappa ppalani pabbaummu cule-culemu iyamaneng/Makkonitu tarette'na riasengnge pakena parellu gauku Ali na Patima.”

Artinya: "... Jika Anda ingin melakukan hubungan seksual untuk pertama kalinya dengan istri Anda, harus berkontemplasi. Lihatlah bagian dalam diri Anda sebagai Alif dan melihat istri Anda sebagai Ba. Kemudian genggaman tangannya, lalu katakan salam: "Assalamualaikum, Ali memegang, Fatimah digenggam."

"Jika Anda pegang tangan istri Anda, katakan,'Asyhadu Allaa ilaaha illaahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah' Katakanlah dalam hatimu, 'Malaikat Jibril yang menikahkan saya pada istri saya, Muhammad adalah wali saya, semua orang suci saksi saya untuk kehendak Allah. Kunfayakum (Jadilah, maka jadi-lah)."

"Lalu berikan ciuman kepada istri Anda, termasuk segala macam permainan Anda. Itu adalah aturan wajib milik perilaku Ali dan Fatimah."

Tentu saja pesan ini tidak lahir dari ruang kosong. Ada sejarah panjang yang melatari dan menyangkutpautkannya dengan Sayyidina Ali serta Sayyidah Fatimah Az-Zahrah. Namun, apakah sumbernya dari Sayyid Jamaluddin Husain al-Kubra kah atau orang selain dia?

Saya menggarisbawahi, bahwa tulisan ini tidak berniat memburukkan satu corak keislaman tertentu. Hanya diskursus agar terjadi perbincangan yang lebih panjang. Ide-ide perihal sejarah mantra dan jimat semoga tidak lagi mampat dan sensitif dibicarakan di ruang publik.