Di Pacitan, Saling Lempar Kelapa Dijadikan Tradisi

Ritual Oct 08, 2019

Etnis.id - Di Desa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan, tradisi bersih desa dilaksanakan dengan cara adu lempar buah kelapa oleh para pemuda. Masyarakat Pacitan menyebutnya dengan istilah Ceprotan.

Ceprotan dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan Dzulqaidah (Longkang). Hari pelaksanaannya ditetapkan pada Senin Kliwon. Jika tidak ada Senin Kliwon di dalam penanggalan Jawa, maka diganti dengan Minggu Kliwon.

Pemilihan bulan Dzulqaidah (penanggalan Islam atau Hijriah menyebutnya dengan bulan Dzulqo’dah) sebagai bulan pelaksanaan Ceprotan, didasari oleh kepercayaan masyarakat Desa Sekar bahwa bulan Dzulqaidah adalah bulan keramat.

Kepercayaan ini sesuai dengan anjuran dalam agama Islam. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, Nabi Muhammad mengatakan bahwa satu tahun terdiri atas dua belas bulan dan dari dua belas bulan tersebut, terdapat empat bulan yang mulia. Tiga di antaranya berurutan dan satu lainnya terpisah, yakni Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rajab.

Tri Utomo (2008) dalam penelitiannya tentang studi kasus masyarakat Desa Sekar​, menjelaskan bahwa Ceprotan memiliki arti melempar. Maksudnya adalah melempar buah kelapa muda (masih cengkir atau berusia kira-kira 3 bulan) yang telah dikupas kulitnya.

Penggunaan buah kelapa sebagai media tradisi, berasal dari cerita nenek moyang tentang asal-usul desa dan sumber mata airnya yang dipercaya oleh masyarakat memiliki hubungan yang erat dengan Kyai Godeg (yang dipercaya sebagai pendiri Desa Sekar) dan Dewi Sekartaji (yang dipercaya sebagai pembuat sumber mata air).

Syahdan, di sebuah hutan ada Kyai Godeg. Ia ditugasi untuk mengembangkan agama Islam. Ia membabat hutan untuk dijadikan sebuah padepokan. Di tengah-tengah hutan, ia bertemu Dewi Sekartaji yang sedang mencari kekasih hatinya, Panji Asmarabangun atau Raden Kertapati.

Kedatangan Dewi Sekartaji membuat Kyai Godeg terheran-heran. Dewi Sekartaji lalu mendekai Kyai Godeg, kemudian mengutarakan maksudnya. Ia mencari Panji Asmarabangun. Karenanya, ia merasa lelah dan haus. Dewi meminta tolong kepada Kyai Godeg untuk diberi minuman sebagai pelepas dahaga.

Sayangnya, di hutan, minuman sulit dicari, karena di dalam hutan tidak ditemukan sumber mata air. Akhirnya, Kyai Godeg menyuruh Dewi Sekartaji menunggu. Ia akan berusaha mencari air. Tak lama, Kyai Godeg memutuskan bersemedi di sebuah teleng (semacam saluran air di bawah tanah). Selepas semedi, ia mengambil dan membawa buah kelapa muda.

Kyai Godeg segera mengupas kulitnya dan memberikannya kepada Dewi Sekartaji. Air kelapa muda segera diminum oleh Dewi. Ia menyisakan beberapa tetes. Sisa air kelapa itu lalu ditumpahkan ke tanah oleh Dewi dan di titik itulah, selanjutnya muncul sebuah sumber mata air.

Kyai Godeg terkagum-kagum dengan kejadian ajaib di depannya, Dewi Sekartaji akhirnya berpesan pada Kyai Godeg agar memberikan nama pada padepokan Kyai Godeng dengan nama Sekar. Setelah itu, Dewi pamit untuk mencari Panji Asmarabangun. Sepeninggal Dewi Sekartaji, Kyai Godeg selalu menggunakan sumber mata air tersebut untuk membuka hutan dan membangun padepokan.

Lama-lama, padepokan berubah menjadi pedukuhan yang ramai dan pedukuhan tersebut diberi nama Desa Sekar. Ketika Kyai Godeg dalam usia lanjut, sebelum meninggal, ia berwasiat kepada generasi-generasi penerusnya untuk melaksanakan upacara Ceprotan.

Intinya, masyarakat Desa Sekar diimbau untuk bersyukur atas limpahan rezeki lewat perantara sumber mata air yang mengairi sawah, ladang dan hutan mereka serta wujud pelaksanaan wasiat leluhur terdahulu.

Adapun rangkaian Ceprotan dilaksanakan di halaman rumah Kepala Desa Sekar, tepatnya di Dusun Krajan Lor. Tiga hari sebelum Ceprotan dilaksanakan, warga dusun Krajan Lor dan Krajan Kidul memetik buah kelapa muda sebanyak 15 hingga 25 biji yang telah dikupas kulitnya dan dibiarkan lunak (gembut). Selain kelapa muda, perlengkapan sesaji seperti ayam panggang, jadah, tompak, salak, tumpeng, sayur menir daun kelor, buah asam, kacang panjang, dan lain sebagainya harus disiapkan.

Ceprotan diawali dengan upacara selametan mulai dari pagi sampai siang hari. Untuk masyarakat Dusun Krajan Lor dan Krajan Kidul, jika ingin berangkat ke tempat tradisi, haruslah membawa seekor ayam yang masih mentah, nasi giling, kerupuk, rengginang dan jadah sebagai sesaji dalam upacara selamatan.

Nantinya ayam yang masih mentah tersebut akan dimasak oleh kaum Adam dan dimakan bersama-sama di rumah tempat sesaji. Upacara selametan dipimpin oleh Juru Kunci sumber mata air Desa Sekar dengan ucapan mantra-mantra (warisan dari nenek moyang) dan dilanjutkan dengan doa menurut agama Islam.

Setelah upacara selametan selesai, acara puncak yang ditunggu-tunggu akan segera dilakukan yakni Ceprotan. Sebelum mulai, ditampilkan atraksi-atraksi kesenian dan tarian sebagai hiburan. Para peserta tradisi ceprotan diharuskan memakai pakaian adat Jawa. Acara puncak ini juga dihadiri oleh para pejabat pemerintah, karena Ceprotan telah dianggap sebagai aset budaya daerah Pacitan.

Setelah tampilan atraksi selesai dan sambutan dari tokoh-tokoh penting telah disampaikan, para peserta Ceprotan (pemuda atau orang yang telah dewasa) mulai
memasuki arena dengan diiringi Gendhing Dandang Gula.

Peserta dibagi menjadi dua kelompok dengan jumlah kira kira 50 orang. Setiap orang membawa 15 hingga 50 biji buah kelapa di dalam sebuah keranjang. Seluruh peserta bersiap-siap di posisinya masing-masing, lalu iring-iringan sesaji masuk ke dalam arena dengan iringan Gendhing Ladrang Wilujeng.

Bersamaan dengan mulai tenggelamnya matahari (kira-kira pukul 16.00/16.30), juru kunci mulai memimpin persembahan sesaji dan doa. Setelah doa selesai dan pengiring sesaji meninggalkan arena, para peserta ceprotan mulai berteriak dan dua orang dari peserta berlari ke tengah arena untuk mengambil ayam panggang (bagian dari sesaji).

Sebelum salah satu dari mereka berdua berhasil mendapatkan ayam panggang, para peserta lain mulai saling melempar (ceprotan) buah kelapa muda yang ada di keranjang hingga habis.

Hal unik dari tradisi ini adalah para peserta tidak merasakan sakit ketika terkena lemparan buah kelapa muda. Ketika buah kelapa semua peserta habis, semua peserta berkumpul ke tengah arena dan saling berpelukan. Ceprotan lalu ditutup dengan ucapan hamdalah bersama-sama.

Editor: Almaliki

Akhmad Idris

Pendidik di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.