Dari Kisah Kasih dan Gerak Kera, Tarian Kethek Ogleng Tercipta

Tarian Oct 17, 2019

Etnis.id - Tulisan ini sedikit banyak masih berhubungan dengan tentang tradisi ceprotan masyarakat Pacitan di Desa Sekar. Jika ceprotan bersumber dari kejadian ajaib saat pertemuan Kyai Godeg dengan Dewi Sekartaji yang mencari kekasihnya (Panji Asmarabangun), maka tulisan saya kali ini berisi tentang kisah cinta Dewi dan Panji yang direpsresentasikan dalam Kethek Ogleng.

Segala hal tentang cinta selalu menjadi pembahasan yang menarik. Film, sinetron, dan berita hampir tidak pernah meninggalkan unsur cinta di dalamnya. Begitu juga inti dalam kesenian Kethek Ogleng di Desa Tokawi Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan.

Sebutan Kethek Ogleng berasal dari dua kata, yakni kethek (dari bahasa Jawa yang berarti “Kera”) dan ogleng yang diambil dari suara iringan tari yang berbunyi gleng. Bunyi gleng berasal dari tabuhan gamelan yang menghasilkan bunyi Neng Nang Nong Gleng. Kesenian kethek ogleng merupakan ragam kesenian yang memadukan antara seni tari dan seni drama.

Tari yang disajikan adalah tarian yang menirukan gerakan seekor kera, sedangkan lakon drama yang ditampilkan adalah kisah cinta Dewi dari Kerajaan Jenggala dan Panji dari Kerajaan Kediri (legenda yang telah terkenal di masyarakat Pacitan).

Criza Asri Suseno (2013) dalam penelitiannya tentang kesenian Kethek Ogleng di Pacitan​ menyebutkan bahwa dalam tarian tersebut terdiri atas dua penari inti, yakni Kethek dan Roro Tompe yang diiringi dengan sepuluh pengrawit dan sinden. Untuk lakon dramanya, diawali dengan cerita Dewi dan Panji yang saling mencintai, tetapi tidak direstui oleh Ayah Dewi.

Drama pelarian dan penyamaran diri menjadi bumbu penyedap cerita dan diakhiri dengan pertemuan kembali yang berujung bahagia. Ceritanya. konon Raja Jenggala memiliki seorang putri bernama Dewi Sekartaji. Saat dewasa, Dewi berkasih dengan Panji (putra dari Raja Kediri).

Tahu hal itu, Raja Jenggala tidak setuju atas hubungan anaknya, karena Raja Jenggala telah memilih pria lain sebagai calon suami putrinya. Dewi menolak mentah-mentah keinginan Ayahnya itu. Protes, ia meninggalkan kerajaan secara diam-diam.

Pada malam hari, Dewi meninggalkan istana dan memilih pergi ke arah barat bersama beberapa dayangnya. Jauh dari sana, di Kerajaan Kediri, Panji Asmarabangun mendengar kekasih hatinya kabur dari istana. Ia lalu memacu kudanya mencari Dewi.

Sebelum membelah hutan, Panji mampir sejenak ke rumah seorang pendeta untuk meminta wejangan (nasihat). Oleh pendeta, Panji disarankan pergi ke arah barat dan menyamar menjadi seekor kethek. Kondisi Dewi Sekartaji tidak jauh berbeda dengan Panji Asmarabangun. Di tengah perjalanan, Dewi merasa kelelahan dan memilih beristirahat di pondok Mbok Rondo Ndadapan Sumbigo. Seorang kenalan Dewi dari jauh hari.

Di pondok, Mbok Rondo menyarankan Dewi Sekartaji untuk menyamar menjadi Roro Tompe (gadis bertompel besar) agar bisa selamat dari kejaran prajurit istana dan berhasil mencapai tujuan.

Sama-sama tidak saling mengetahui dalam menyamar, menjadi ujian cinta mereka. Baik kethek (Panji) dan Roro Tompe (Dewi) sama-sama senang berkelana di dalam hutan. Suatu saat, Roro Tompe melihat seekor kethek sedang bermain di tengah-tengah hutan. Roro Tompe mendekati kera tersebut dan mengajaknya bermain bersama.

Lama-lama, mereka berdua menjalin keakraban satu sama lain dan semakin hari semakin dekat. Akhirnya, Roro Tompe memperlihatkan wujud aslinya dan si kethek juga menunjukkan wujud aslinya. Betapa terkejutnya mereka berdua melihat wujud
asli masing-masing. Dewi dan Panji akhirnya melepas rindu. Mereka berdua memutuskan kembali ke istana untuk meminta restu Raja Jenggala.

Makna tentang asmara yang dapat dijadikan bahan renungan adalah hakikat cinta mereka. Cinta adalalah kesetiaan, meski diuji dengan jarak & waktu, atau meski digoyahkan oleh situasi & keadaan.

Kini, karena kisah itu, Kethek Ogleng biasa dipentaskan di acara pernikahan, hajatan penduduk setempat dan hari jadi Kota Pacitan. Kethek Ogleng harus dipentaskan di tempat yang luas, seperti lapangan. Sri Dwi Ratnasari (2016) dalam penelitiannya tentang Kethek Ogleng​ menyatakan tarian ini menjadi satu-satunya kesenian yang ada di Desa Tokawi Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan. Makanya, pelestariannya harus diupayakan. Bentuknya seperti memasukkan kesenian Kethek Ogleng sebagai salah satu ekstrakurikuler di sekolah-sekolah.

Kethek Ogleng sendiri diciptakan pada tahun 1962 oleh seorang petani yang bernama Soekiman. Ide menciptakannya didasari dari hasil pengamatan terhadap binatang kera di hutan Pacitan. Ketika Soekiman sedang bersantai setelah kelelahan bertani, ia mengamati sekelompok kera yang sedang bermain.

Aktivitas yang dilakukan kera-kera tersebut adalah loncat dari satu pohon ke pohon yang lain, kemudian duduk bersama Induknya. Dalam hati Soekiman, ia membayangkan manusia menirukan gerakan seekor kera. Esoknya, Soekiman lebih fokus dalam mengobservasi gerakan-gerakan kera, mulai dari saat kera duduk, berjalan dan melompat.

Selain gerakan umum, Soekiman juga mengamati gerakan sesuai perasaan kera. Ketika kera senang dan sedih. Senang ketika mendapatkan makanan (sebagai contoh), sedih waktu sulit mendapatkan makanan. Pascamengamati, Soekiman mencoba menirukannya. Semua gerakan kera yang bisa ditirukan, ia peragakan. Seperti duduk, melompat, gulung-gulung, berjalan, serta ketika senang dan sedih.

Saat itu, Desa Tokawi memiliki kelompok karawitan. Soekiman mencoba memainkan gerakan hasil observasinya menggunakan iringan gamelan kelompok tersebut. Beberapa orang sempat heran dan meremehkan tingkah pola Soekiman, namun Soekiman tidak terlalu menggubrisnya. Ia hanya berharap hal yang ia lakukan dapat menjadi kesenian yang mengaharumkan nama Desa Tokawi (khusunya) dan Pacitan (umumnya).

Lama-kelamaan, para pengrawit merasa tarian yang dilakukan oleh Soekiman terasa unik, indah dan menyenangkan. Akhirnya latihan rutin mulai diadakan dan banyak warga desa yang tertarik untuk melihatnya. Setelah beberapa kali latihan dan mendapatkan gerakan tari yang utuh, Soekiman dan kawan-kawan mulai mendapatkan panggilan untuk mengisi hiburan di acara hajatan warga.

Sejak saat itu, Soekiman dkk mulai dikenal masyarakat luas. Puncaknya, tahun 1963 Soekiman dkk mendapatkan undangan dari Bupati Pacitan untuk mengisi acara pementasan budaya. Dari kisah sepasang kekasih serta niat luhur Soekiman, melejitlah tradisi Kethek Ogleng di kancah nasional hingga saat ini.

Editor: Almaliki

Akhmad Idris

Pendidik di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.