Bagi Orang Batak, Poken Lebih dari Berbelanja di Pasar

Kultur Oct 15, 2019

Etnis.id - Pasar merupakan salah satu tempat berkumpulnya orang-orang untuk berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Beragam perilaku orang-orang hadir pada saat berada di pasar. Perilaku itu hadir melalui pengetahuan masyarakat setempat.

Di pasar, semua orang melebur menjadi satu dan melepaskan sejenak kelas sosialnya. Pasar juga sudah terbagi menjadi dua model yaitu pasar modern dan pasar tradisional.

Pasar modern tentu suasana tempatnya dibuat senyaman mungkin menggunakan fasilitas gedung. Sementara barang-barang produk sudah memiliki barcode tanpa bisa ditawar lagi oleh si pembeli pasar itu bernama pasar swalayan.

Sementara pasar tradisional sifatnya di lapangan terbuka dengan fasilitas yang disediakan oleh pedagangnya. Dan tidak lupa, pedagang harus membayar uang sewa tempat dan uang kebersihan kepada bagian pengelola. Lesehan menjadi ciri utama pasar itu, kadang menggunakan meja terbuka lebar di bawah terik matahari dan terkadang terlihat menggunakan tenda untuk melindungi dari panas dan hujan.

Saya jadi teringat pasar tradisional di kampung halaman bapak dan ibuku di tanah Batak. Pada bulan Juni kemarin, kami sekeluarga mudik Lebaran Idul Fitri, 5 Juni 2019. Kami berangkat seminggu sebelum lebaran menggunakan mobil pribadi dari pelabuhan Telaga Punggur Batam menuju pelabuhan Tanjung Buton Mengkapan Siak, Riau.

Saya menjadi sopir tunggal dari pelabuhan itu, selama dua belas jam penuh menuju di Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Huta/kampung yang kami tuju itu bernama Pasar Simangambat Saipar Dolok Hole Sipirok.

Singkat cerita, sehari sebelum lebaran bertepatan pada hari Selasa, yang merupakan jadwal poken atau pekan pasar tradisional masyarakat Pasar Simangambat Batak Angkola. Poken biasanya dilaksanakan sekali seminggu pada hari Selasa, dari jam enam pagi hingga berakhir pada jam lima sore.

Pada hari itu, bertepatan pukul lima subuh, saya melihat dan mendengar suara orang-orang mulai berkumpul di tepi Jalan Raya Huta Pasar Simangambat. Mereka adalah para parjagal atau penjual yang telah tiba dari kampung lainnya yang berada di Kecamatan Saipar Dolok Hole. Tujuannya ialah hanya untuk marjagal atau berjualan di Pasar Simangambat.

Mereka tiba menggunakan truk atau bus carteran untuk membawa barang dagangan yang sudah siap dipamerkan. Para parjagal sebagian besar berasal dari Pasar Simangambat dan sebagian besar berasal dari kampung-kampung lainnya yang berjarak sekitar setengah jam hingga dua jam dari tempat poken.

Mereka berdatangan untuk marjagal dengan harapan keuntungan pada hari poken sebelum keesokan harinya merayakan hari yang suci yaitu Idul Fitri. Tampak mereka mulai menata barang-barang dagangannya secara rapi, agar indah dipandang oleh mata pembeli atau panabusi. Adapun barang dagangan yang dijual oleh para si penjual itu seperti sayur-mayur, buah-buahan, jajanan kue, pakaian dan segala jenis kebutuhan rumah tangga lainnya.

Aku mulai berjalan mengelilingi poken itu. Tak heran, sapaan dari para parjagal terdengar kuat di telingaku dan tujuanya tak lebih hanya untuk mengundang perhatian para panabusi agar mampir ke lapak jualannya.

Aku melihat posisi lapak jualan itu berada di bahu kanan dan kiri jalan sangat sempit sekali, belum lagi para panabusi itu berlalu lalang. Sehingga terkadang membuat kendaraan roda empat harus melambat agar tidak mengenai orang-orang yang berlalu lalang dan barang-barang para pedagang itu.

Momen poken ini sepertinya sudah biasa dan dimaklumi oleh para pengemudi mobil itu, sebab peristiwa poken merupakan peristiwa budaya yang rutin dilaksanakan satu kali dalam seminggu sehingga dalam sebulan empat kali.

Bagi masyarakat Pasar Simangambat dan masyarakat Batak Angkola Kecamatan Saipar Dolok Hole, poken bukan hanya sekedar aktivitas transaksi tawar-menawar seorang parjagal dan panabusi pada saat berada di pasar tradisional itu.

Lebih dari itu, poken merupakan sarana silaturahmi dari berbagai kalangan sosial yang berada Kecamatan Saipar Dolok Hole. Hal ini terbukti selama saya berada di poken, ibuku dan bapakku bertemu dengan saudara-saudaranya yang berasal dari kampung lainnya, sehingga terjadilah percakapan di antara sesama mereka di tengah-tengah poken. Sementara bagi kalangan muda-mudi, poken merupakan ajang kesempatan untuk mencari perkenalan teman wanita atau teman pria.

Editor: Almaliki

Rivaldi Ihsan

Etnomusikolog