Etnis.id - Saban tahun, pemerintah Kota Solo menyelenggarakan gelaran keroncong dengan tajuk “Panggung Gesang” dengan menggelar pelbagai acara seperti pameran, pemutaran film tentang Gesang, pentas musik dan seminar. Forum itu didedikasikan untuk mengenang Gesang, sang maestro keroncong.

Gesang tidak hanya berjasa dalam konteks pengembangan musik keroncong, namun ia telah menjadi akar yang memberi penguatan bagi karakter dan identitas musik negeri ini. Karya-karyanya tidak berhenti dalam persoalan musik, namun juga berisi kuasa wacana, gagasan ide dan nalar historis tentang perjuangan kultural bangsa ini.

Gesang adalah musisi yang dihinggapi keberuntungan. Ia menciptakan lagu-lagu keroncong saat bangsa ini sedang berjuang melepaskan belenggu kerterjajahan. Karya-karyanya menjadi lagu pelipur lara masyarakat akar rumput, dari lapar dan dahaga hidup bahagia.

Lirik lagunya juga tak berasa puitis dan romantis, tapi sederhana, mudah dipahami dan penuh kesantunan. Lihatlah lagu Bengawan Solo (1940), Sapu Tangan (1941), Jembatan Merah (1943) dan Caping Gunung (1973). Saat ini lagu-lagu itu masih terus didendangkan dan selalu selaras dengan zaman.

Akar rumput

Gesang lahir pada bulan Oktober tahun 1917 di Kampung Singosaren Surakarta dari pasangan Martodiharjo dan Soemidah. Bulan ini kita memperingati hari lahirnya yang ke-102 tahun. Bakat menyanyi Gesang telah terasah sejak kecil, walau ayahnya tak menginginkan ia menjadi seniman, karena identik dengan hidup melarat alias miskin harta.

Namun demikian, pemain keroncong di zaman itu cukup perlente, dipandang bergengsi karena memainkan alat musik Barat, tidak memakai baju tradisi Jawa sebagaimana memainkan gamelan. Kisah informasi perjalanan kesenimanan Gesang tersebut dapat dengan mudah kita jumpai di bermacam media daring.

Satu hal yang cukup menarik untuk dibaca adalah nalar historis penciptaan lagu pada zaman di mana Gesang hidup melintasi dua babak penjajahan: Dijajah Belanda pun Jepang.

Dengan sadar, ia tak menciptakan lagu-lagu yang berpotensi menimbulkan konflik dan kekerasan. Ia justru menciptakan dendang-dendang penyejuk hati. Gesang percaya bahwa perjuangan lewat musik tak berarti harus membuat teks lirik berbau nasionalis yang agitatif.

Kesederhanaan liriknya justru menjadi picu dalam mengobati rasa lelah dan letih masyarakat dari keterimpitan ekonomi. Gesang menciptakan lagu-lagunya untuk masyarakat kelas sosial bawah.

Mendengarkan lagunya serasa memberi kebahagiaan tersendiri saat bersanding mesra dengan kicauan burung perkutut di pagi hari sembari nyeruput kopi dan
makan ketela hasil bumi. Gesang seolah menegaskan tentang citra dan karakter musiknya.

Mendengarkan musik ciptaannya, mendekonstruksi wacana kelas sosial yang begitu pekat di zaman itu. Mendengarkan dan memainkan musik berimplikasi pada anggapan dan kecurigaan. Terlebih pertarungan kultural antara Barat dan Timur saat itu begitu sengit terjadi.

Ki Hadjar Dewantara misalnya, berjuang mengangkat pamor gamelan agar setara dengan musik Klasik Barat (baca karya Kinanthie Sandoong, 1916). Ada anggapan-anggapan dan penilaian sepihak, bahwa musik tradisi adalah cerminan dari masyarakat tak beradab, primitif, tak terdidik, kolot dan bodoh. Dengan kata lain, musik tradisi berada dalam ruang yang “kalah” atau subordinart (baca Sejarah Etnomusikologi Indonesia).

Tetapi pada titik ambang (liminal) itulah, Gesang berada. Ia menggunakan musik Barat sebagai bentuk fisik berciri modern dan maju. Sementara pola-pola
musikal tradisi sebagai letupan musikal bercita rasa pribumi yang lokal.

Keroncong, kendati pun dalam banyak pendapat berasal luar Indonesia utamanya dari Portugis, namun telah mengendap dan berakulturasi dengan kebudayaan negeri ini. Lantunan melodi yang diproduksi, serasa mendengarkan gending-gending gamelan dalam ujud lain yang lebih baru dan segar. Wajar kemudian jika keroncong menjadi musik populer Indonesia pada zaman itu.

Bagi masyarakat akar rumput, mendengarkan keroncong seperti mengangkat citra mereka menjadi lebih modern dan terhormat. Sementara bagi kaum borjuis dan kolonial, keroncong adalah sebentuk karya musik pribumi yang berhasil menjinakkan naluri egosentris mereka.

Artinya keroncong telah menjadi katalisator yang menghubungkan berbagai dimensi kelas dan golongan sosial negeri ini. Dan Gesang adalah sosok penting di baliknya.

Seabad lebih

Suara Gesang telah membeku dalam kaset-kaset rekaman yang masih dapat kita nikmati hingga kini. Adapun studio rekaman yang pernah mengabadikan karyanya adalah Borobudur Recording, Kusuma Recording, Pusaka Record, Ira Puspita Record, Dasa Record, Lokananta Recording, Musica Studio dan PT. Gema Nada Pertiwi Recording.

Uniknya, Gesang tidak semata berkisah tentang cinta dan asmara dalam lagunya. Ia juga melukiskan tempat publik sebagai situs pengekalan imajinasi, seperti lagu Bengawan Solo dan Jembatan Merah. Mendengarkan itu, membawa ingatan-ingatan pada masa lalu tentang sungai dan kota. Selanjutnya, lagu tersebut akan menjadi penanda dan monumen pengekalan ingatan, sekaligus menjadi koreksi sejauh mana alam dan lingkungan kita telah berubah.

Gesang dan musiknya mengilhami lahirnya karya-karya baru bagi generasi sesudahnya. Walhasil, kini musik keroncong menjadi lebih cair dan tak kaku. Ia bisa berkolaborasi dengan musik rap, pop, bahkan dangdut sekalipun. Keroncong dan Gesang adalah dua entitas yang tak dapat dipisahkan.

Seratus tahun atau seabad lebih kelahiran Gesang adalah sebuah anugerah. Memperingatinya tak cukup dengan hanya mengenang dan bernyanyi, namun juga membacanya sebagai sebuah kuasa wacana. Tentang jejak perjalanan historis keterkaitan musik dengan dimensi kultural, politik dan kolonialisme.

Pembacaan itu pada hari ini menjadi sangat berguna mengingat musik seringkali ditempatkan sebagai sebuah diskursus kapitalis, tak lebih. Musik di era Gesang adalah pengisahan tentang perjuangan, doa dan cita-cita. Selamat merayakan kelahiran Gesang dengan kembali bernyanyi dan mendengarkan keroncong!

Editor: Almaliki