Udik-udikan, Cara Orang Jawa Bersedekah dengan Menghamburkan Uang

Ritual Aug 22, 2019

Etnis.id - Ketika orang-orang disibukkan dengan aktivitas mencari uang, warga Gresik justru punya tradisi menghamburkan uang atau yang dikenal dengan sebutan Udik-udikan.

Biasanya Udik-udikan dilaksanakan ketika seseorang baru saja selesai membangun rumah, sedang menyelenggarakan hajatan, sunatan atau baru saja membeli barang-barang mewah seperti motor dan mobil.

Dalam Udik-udikan, uang dengan beragam jumlah mulai dari recehan sampai sepuluh ribuan akan dilempar atau dihamburkan di jalan dan diperebutkan oleh segenap warga yang memang sudah berkumpul dan berancang-ancang untuk mengambilnya.

Jika yang melaksanakan Udik-udikan adalah orang yang baru saja membeli motor, maka sebelum uang koin dihamburkan, motornya harus disiram dengan air kembang yang telah dimantrai.

Tujuannya agar pengemudi motor diberi keselamatan saat berkendara. Sementara sebagian dari air itu, digunakan untuk merendam uang koin yang akan dihambur. Biasanya uang tersebut juga dicampur dengan beras kuning terlebih dahulu.

Kabar mengenai akan diselenggarakannya Udik-udikan diperoleh dari mulut ke mulut. Biasanya, satu jam sebelum Udik-udikan dilaksanakan, orang-orang akan berkumpul di lokasi yang telah ditentukan seperti di halaman rumah pemilik hajat.

Anak-anak usia 5-12 tahun paling sering berada di barisan paling depan ketika Udik-udikan dilaksanakan. Mereka akan berlari sambil saling berseruduk, agar bisa mengumpulkan uang sebanyak mungkin. Orang tua juga kadang ikut berebut. Hal inilah yang membuat Udik-udikan menjadi wadah berkumpulnya orang-orang dalam suatu kampung.

Jika pelaksana Udik-udikan adalah orang yang sedang memiliki hajat perkawinan. Maka Udik-udikan mulai disebar ketika sudah terdengar kata aamiin dari pengeras suara setelah berdoa. Semakin ramai pengunjung yang ikut, maka semakin senang pemilik hajatan.

Penukaran uang jelang lebaran di Jakarta/ETNIS/Muhaimin Untung

Sebelumnya, uang yang akan disebar direndam air yang telah dicampur bunga melati dan beberapa bunga, agar aromanya harum, sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang menerima uang. Toh, mereka ialah "tamu" yang patut dihormati.

Udik-udikan juga bisa dilaksanakan saat ada orang yang meninggal dunia, saat mengantar jenazah ke pemakaman. Udik-udikan tersebut tidak diperebutkan, melainkan langsung diberikan pada anak-anak yang mau menerima.

Tradisi Udik-udikan saat Sedekah Bumi

Di Gresik bagian utara, Udik-udikan diadakan saat sedekah bumi yang notabene bertujuan memohon keselamatan dan keberkahan untuk masyarakat setempat; sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah. Dalam prosesi sedekah bumi, Udik-udikan digelar pada sesi terakhir.

Biasanya sedekah bumi dilakukan pada pagi hari. Semua orang berkumpul di suatu tempat dengan membawa pelbagai macam jajanan tradisional seperti kucur, gapitan, tape, rengginang, apem serta uang Udik-udikan.

Selanjutnya, jajanan itu akan ditukar atau dibagikan ke sanak saudara. Setelah semua orang berkumpul, sedekah bumi dimulai dengan doa, lalu saling tukar makanan, sampai beberapa orang akhirnya melakukan Udik-udikan.

Menurut warga setempat, Udik-udikan dilestarikan untuk menjaga tradisi bersedekah dan menjaga kebersamaan. Penderma bergantian melemparkan uangnya untuk diperebutkan. Begitu uang receh atau koin dilempar, kerumunan anak-anak akan langsung berebut. Meriah bukan?

Tradisi Udik-udikan di Beberapa Daerah

Selain di Gresik, tradisi Udik-udikan juga dilaksanakan di Demak yang dimaknai sebagai sedekah menyambut kelahiran bayi. Sebelum disebar, biasanya uang recehan dicampur dengan beras kuning dan kembang.

Tradisi ini biasanya dilakukan untuk mewujudkan nazar dari orang tua si bayi yang menginginkan anak perempuan atau laki-laki. Udik-udikan untuk bayi diawali dari rumah dengan menggendong bayi, lalu bayi diarak keluar rumah sampai berkeliling kampung.

Di sepanjang jalan yang dilalui, uang disebar. Nanti, anak-anak dan ibu-ibu akan ramai merebut uang di sepanjang jalan itu, sekaligus mengikuti arak-arakan yang berakhir di depan masjid.

Saat masuk masjid, bayi akan disambut dengan kumandang azan dan ikamah di telinganya. Setelah itu, barulah bayi dibawa pulang ke rumah. Biasanya arak-arakan bayi ini dilaksanakan bersamaan setelah selesai salat berjemaah di masjid.

Di Semarang, Udik-udikan dilaksanakan ketika bayi sudah tengkurap dan merangkak. Di sana, bayi akan diletakkan di dalam kurungan yang berisi tangga dari tebu. Sementara orang tua atau neneknya akan membimbing anak atau cucunya untuk menaiki tangga. Setelah itu, mereka akan menyebarkan uang recehan yang telah direndam dengan beras kuning.

Penukaran uang jelang lebaran di Jakarta/ETNIS/Muhaimin Untung

Sementara di daerah Pekalongan, Jawa Tengah. Masyarakat melakukan Udik-udikan ketika pernikahan dan melahirkan anak. Bahkan pada tahun 1950-an, tradisi ini dilaksanakan saat seseorang akan berangkat atau sepulang dari haji.

Beberapa tahun belakangan, tradisi Udik-udikan di Pekalongan berinovasi. Bukan hanya uang koin receh yang dibagikan, melainkan juga kertas undian yang digulung dengan bertuliskan angka tertentu dan ikut disebar bersama uang receh.

Setelah kertas gulungan didapatkan, orang beruntung itu bisa menukarkan kertas dengan doorprize yang sudah disediakan. Bukan hanya doorprize, dilepaskan pula seekor anak ayam yang nantinya ikut diperebutkan.

Di Sidoarjo, jika masyarakat selesai membangun atau membeli rumah, akan digelar Udik-udikan. Tata cara pelaksanaannya memang tidak jauh berbeda dari daerah-daerah lain. Hanya ditambahi dengan membagikan makanan seperti cokelat atau permen.

Sesungguhnya semua tradisi udik-udikan di beberapa tempat di Indonesia dilaksanakan sebagai wujud syukur serta menjaga kebersamaan sebagaimana identitas dan akar karakter bangsa yang selalu menjaga semangat gotong-royong.

Editor: Almaliki

Linda Astri Dwi Wulandari

Mahasiswa S2, Kajian Tradisi Lisan, UI