Perang Tipat-Bantal, Tradisi Unik Masyarakat Kapal Bali

Ritual Mar 28, 2019

Etnis.id - Di Desa Kapal, di daerah Badung, di provinsi Bali, ada satu tradisi yang menarik dan unik jika dilihat secara seksama. Adalah Aci Rah Pengangon, atau Perang Tipat-Bantal.

Tradisi ini sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan atas kehidupan yang diciptakan-Nya serta berlimpahnya hasil panen di Desa Kapal. Sekadar diketahui, ekonomi desa ini meningkat sebab hasil cocok tanam dan pertanian. Tradisi ini dilaksanakan sebagai setiap Bulan keempat dalam penanggalan Bali (sasih kapat) sekitar bulan September–Oktober.

Tipat itu ketupat. Ia adalah hasil olahan makanan dari beras yang dibungkus dalam anyaman janur atau daun kelapa yang masih muda dan dibentuk segi empat. Sementara Bantal adalah penganan yang terbuat dari beras ketan yang juga dibungkus dengan janur, namun berbentuk bulat lonjong.

Tipat dan bantal adalah simboli dari keberadaan energi maskulin dan feminin. Dlaam konsep Hindu, disebut sebagai Purusha dan Predhana

Hal itu pula yang dipercaya oleh leluhur Desa Kapal, kalau tradisi tersebut akan memberikan kehidupan pada semua makhluk di dunia ini,  termasuk segala yang tumbuh dan berkembang.

Tradisi ini mirip sebuah permainan, sebab masyarakat Kapal berkumpul di depan Pura Desa, dan membagi diri mereka menjadi dua kelompok.

Masing-masing kelompok disediakan tipat dan bantal sebagai senjata. Dengnan itulah, mereka saling melempari kelompok yang lain.

Apa artinya? Ini bermakna bahwa pangan yang kita miliki adalah senjata utama untuk mempertahankan diri dalam hidup dan berkehidupan. Seklias tradisi ini mirip perang tomat di Spanyol.

Jika masyarakat mayoritas muslim menjual ketupatnya jelang lebaran, masyarakat Kapal malah tidak. Masyarakat desa Kapal dilarang menjual tipat. Apa pasal? Sebab Tipat dalam konteks ini, merupakan simbol dari energi feminisme, yang mana diwakili oleh keberadaan Ibu Pertiwi/Bumi dalam bentuk fisiknya sebagai Tanah.

Tanah adalah penopang hidup, tempat tumbuh dan berkembang yang harus dijaga, dilestarikan, dirawat dan dihormati. Inilah kearifan-kearifan lokal yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya.

Sementara bantal banyak dijelaskan dalam catatan-catatan sejarah kuno berupa lontar-lontar. Salah satu lontar yang menceritakan sejarah tradisi itu, ada dalam Lontar Tabuh Rah Pengangon milik salah seorang warga desa Kapal, Ketut Sudarsana.

Dalam lontar tersebut secara singkat dijelaskan sebagai berikut :

Ketika Asta Sura Ratna Bhumi Banten menjadi Raja di Pulau Bali menggantikan kakaknya, Shri Walajaya Kertaningrat yang meninggal pada tahun Isaka 1259 atau tahun 1337 Masehi, beliau mengangkat seorang Patih yang bernama Ki Kebo Taruna atau lebih dikenal sebagai Ki Kebo Iwa dan mempunyai seorang Mahapatih yang bernama Ki Pasung Grigis.

Pada masa itu, sang Raja mengutus sang Patih untuk merestorasi Candi di Khayangan Purusada yang ada di Desa Kapal.

Pada tahun Isaka 1260 atau tahun 1338 Masehi, berangkatlah Ki Kebo Iwa diiringi oleh Pasek Gelgel, Pasek Tangkas, Pasek Bendesa dan Pasek Gaduh menuju Khayangan Purusadha di desa Kapal, dengan terlebih dahulu menuju desa Nyanyi untuk mengambil batu bata sebagai bahan untuk merestorasi candi tersebut. Tidak dijelaskan bagaimana Ki Kebo Iwa merestorasi candi tersebut.

Satu masa, Desa Kapal mengalami paceklik panen yang mengakibatkan kekacauan dalam kehidupan masyarakatnya. Risau atas keadaan ini, Ki Kebo Iwa memohon jalan keluar kepada Sang Pencipta dengan melakukan yoga semadhi di Khayangan Bhatara Purusada.

Tatkala melaksanakan yoga semadhi, beliau mendapatkan sabda dari Sang Hyang Siwa Pasupati untuk melaksanakan Aci Rah Pengangon atau Aci Rare Angon dengan sarana menghaturkan tipat – bantal sebagai simbolisasi Purusha dan Predhana (sumber kehidupan), karena penyebab dari segala paceklik tersebut adalah ketiadaan sumber kehidupan tersebut.

Dalam sabda ini pula, diperoleh perintah agar masyarakat Kapal tidak menjual Tipat karena Tipat adalah simbolisasi dari Predana/Energi Feminisme/Ibu Pertiwi. Akhirnya, dilaksanakanlah Aci Rah Pengangon di Desa Kapal sehinggga desa ini makmur dan tentram.

Setelah melaksanakan tugasnya, maka kembalilah Patih Ki Kebo Iwa menuju menuju purinya Raja Bali yaitu di Batu Anyar ( sekarang dikenal dengan nama Bedulu ), sampai akhirnya kemudian Pulau Bali ditundukkan oleh Majapahit pada tahun Isaka 1265 atau tahun 1343 Masehi. Dari hal inilah kemudian berkembang tradisi Perang Tipat-Bantal ini di Desa Kapal (+ 666 tahun).

Almaliki

Senang bercerita.