Tradisi dan Ritual Menjalankan Haji di Bawakaraeng

Kultur Mar 27, 2019

Etnis.id - Pembahasan mengenai Haji Bawa Karaeng selalu menarik diulas lebih jauh lagi. Meskipun masyarakat Sulawesi Selatan mayoritas menganut agama Islam, akan tetapi bagi beberapa kelompok, kepercayaan lokal masih terus dipelihara. Ritual kepercayaan lokal itu salah satunya adalah kepercayaan terhadap pelaksanaan haji di gunung Bawakaraeng.

Syarifuddin Idris dalam makalahnya Konstruksi Ritual Ibadah Haji Pada Masyarakat Sekitar gunung Bawakaraeng Kab.Gowa, setelah melakukan wawancara dengan penganutnya , Idris menemukan jika mereka menganggap bahwa Gunung Bawakaraeng lebih utama dari Mekah, perbandingannya seperti 2 banding 1 yaitu Gunung Bawakaraeng 2 (dua) sedangkan Mekah 1 (satu). Begitu pula mereka menganggap bahwa Gunung Bawakaraeng adalah induk (ibu) sementara Mekah adalah anaknya (Informasi dari Dg Japa). Pandangan demikian menjadikan Gunung Bawakaraeng semakin disakralkan oleh para penganut kepercayaan tersebut dan merupakan pandangan yang diyakini secara turun-temurun dari pra-Islam.

Bagi mereka yang ingin melaksanakan ritual tersebut, persyaratannya yang harus dipenuhi tidak semudah ketika akan melakukan ibadah haji di tanah Arab. Tidak cukup dengan memiliki modal kapital yang cukup, tapi seorang calon jamah haji harus memiliki keyakinan yang besar. Dalam beberapa kasus, terdapat di antara mereka yang memperoleh keyakinan tersebut melalui mimpi. Menurut keterangan salah satu pengikut, bahwa dalam mimpi tersebut mereka bertemu dengan orang yang akan mengantarkan mereka ke puncak gunung, meskipun mereka sebelumnya tidak pernah berkomunikasi ataupun bertemu langsung. Ketika mereka sudah mengenal wajah “sang pengantar” tersebut melalui mimpi, maka mereka menuju ke sekitar gunung tersebut mencari sang pengantar yang dimaksud.

Sebelum mendaki ke puncak Gunung Bawakaraeng, mereka melakukan sebuah ritual dengan memperhatikan terlebih dahulu petunjuk sebuah batu khusus berwarna merah yang diletakkan dalam sebuah gelas yang berisi air. Jika batu tersebut memperlihatkan cahaya, maka itu berarti perjalanan ke puncak Gunung Bawakaraeng dapat dilakukan, tetapi apabila batu itu tidak memperlihatkan cahayanya, maka pendakian tidak dapat dilakukan, karena menurut mereka akan menimbulkan bahaya dan malapetaka.

Jamaah Haji Bawa Karaeng adalah muslim, namun mereka masih percaya terhadap terhadap kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam benda-benda yang disakralkan dan menurut keyakinan mereka benda-benda tersebut dapat mendatangkan malapetaka. Memang demikianlah kenyataannya bahwa di beberapa tempat/komunitas masyarakat masih terdapat keyakinan/kepercayaan terhadap kekuatan benda atau binatang meskipun mereka juga mengakui sebagai pemeluk Islam.

Ritual pelaksanaan Haji Bawa Karaeng sekalipun diwarisi dari kepercayaan lokal, namun konsep yang ditawarkan persis dengan ritual berhaji di tanah suci. Yang membedakan hanyalah geografisnya. Ada yang dilakukan di gunung bawakaraeng, dan ada yang dilaksanakan di tanah Arab. Hal-hal yang menyerupai itu misalnya adanya jembatan siratal mustaqim yang merupakan simbol yang diadaptasi dari ajaran Islam yang menunjukkan sebuah jembatan, di mana seorang muslim harus melaluinya untuk mencapai keselamatan/kenikmatan surga. Demikian pula, penganut kepercayaan Gunung Bawakaraeng juga menganggap bahwa titian batu itu merupakan “titian keselamatan” menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Dalam perjalanan menuju ke puncak Gunung Bawakaraeng, mereka juga membekali diri dengan makanan, serta mereka membawa binatang ternak seperti, sapi, kambing dan ayam. Binatang ternak yang dibawa tersebut selanjutnya akan disembelih setelah sampai di puncak Gunung Bawakaraeng dan dinikmati secara bersama-sama.

Seseorang yang baru ke puncak Gunung Bawakaraeng untuk melaksanakan ritual tersebut disarankan untuk membawa ayam, karena setelah sampai di puncak, ayam itu dilepas. Hal tersebut dimaksudkan supaya hal-hal buruk yang ada pada orang tersebut juga lepas atau hilang dari dirinya, sebagaimana lepasnya ayam yang dibawa tersebut. Pelaksanaan Ritual Setelah penganut kepercayaan Gunung Bawakaraeng sampai di puncak, mereka melakukan kegiatan salat Idul Adha, tepatnya pada tanggal 10 Zulhijjah. Kegiatan tersebut sama seperti yang dilakukan oleh umat Islam pada umumnya yaitu diisi dengan dua rakaat salat dan ditutup dengan khutbah. Pelaksanaan ritual di Gunung Bawakaraeng dilakukan dengan memperbanyak doa. Begitu pula mereka memohonkan keinginan-keinginannya. Dalam keyakinan penganut kepercayaan tersebut, bahwa apapun yang dimohonkan di puncak Gunung Bawakaraeng, maka menurut mereka pasti dikabulkan oleh Tuhan.

Kepercayaan itu serupa dengan kepercayaan ummat Muslim yang berhaji di tanah suci. Mereka percaya bahwa berdoa di tempat-tempat tertentu, seperti di depan Kabbah dan Raudhah akan terkabulkan. Selain itu, penganut kepercayaan Haji Bawa Karaeng ini meyakini bahwa kuburan Nabi Ibrahim As, Nabi Muhammad Saw, serta kuburan Syekh Yusuf alMakassari berada di puncak gunung.

Selain itu terdapat pula sebuah oase (mata air) yang dianggap sebagai air zam-zam. Air zamzam itu dalam istilah mereka disebut Je’ne Susuna Karaeng Kope. Air ini berwarna putih (bukan bening) menyerupai warna susu, tetapi rasanya seperti air tawar saja. Dalam keyakinan kelompok ini, jika mendapat reski, maka mata air zam-zam tersebut mempunyai air, tetapi jika bukan rezeki, maka mata air tersebut tidak memiliki air. Fungsi air zam-zam ini adalah sebagai media untuk pengobatan segala penyakit. Dengan demikian, keberadaan air zam-zam tersebut memiliki kesamaan dengan fungsi air zam-zam yang terdapat di Mekah. Upacara-upacara serta simbol tempat yang diyakini terdapat di Gunung Bawakaraeng, seperti adanya kuburan nabi-nabi, serta air zamzam menunjukkan bahwa kepercayaan itu juga diadaptasi dari ajaran Islam.

Perbedaan yang mencolok dari ritual Haji Bawa Karaeng dan haji biasanya adalah tidak adanya tawaf dan sa’i. Padahal kedua rukun itu merupakan rukun haji yang harus dilakukan dalam ajaran islam. Dalam pelaksanaan ritual tersebut, mereka tidak memakai pakaian ihram sebagaimana yang melaksanakan haji di Mekah, tetapi mereka hanya memakai pakaian layaknya pakaian yang umumnya dipakai seorang muslim untuk beribadah. Di puncak gunung tersebut, mereka sangat menghindari untuk meludah dan berkata buruk. Apabila mereka melakukan itu, maka biasanya mengalami hal-hal yang tidak wajar dan mendapat teguran langsung. Setelah ritual di Gunung Bawakaraeng telah dilaksanakan, merekapun turun kembali ke tempat masing-masing.

Pelaksanaan ritual Haji Bawa Karaeng tidak dapat dipungkiri banyak mengadopsi konsep Islam. Pengaruh Islam sangat kuat terhadap kepercayaan mereka.