Orang Tionghoa dalam Lezatnya Sepiring Tahu Kuning

Boga Nov 08, 2019

Etnis.id - Makanan yang berbahan dasar kedelai seperti tahu dan tempe rasanya lekat dan sangat familiar di Indonesia, sebagai lauk pauk yang dinilai sederhana namun memiliki nutrisi yang tinggi manfaat.

Ada pelbagai macam jenis tahu di Nusantara dan banyak dijumpai di pasar tradisional maupun super market seperti tahu sutra, tahu pong, selain itu ada pula tahu yang dinamai suatu daerah tertentu seperti tahu Sumedang. Lantas apa istimewanya tahu kuning dari Kediri?

Ternyata selain citarasanya, terdapat hal yang lebih penting untuk diketahui yaitu hal yang ada di balik keberadaan tahu kuning itu sendiri. Tahu kuning merupakan makanan yang seringkali diidentikan dengan Kediri karena tak lengkap rasanya jika tidak mampir membeli tahu kuning jika berkunjung ke Kediri.

Di gerbang masuk sebelum Kediri, yakni di persimpangan Jalan Bra’an,
sepanjang ruas Jalan Pattimura atau Jalan Yos Sudarso Kota Kediri, banyak dijumpai toko tahu kuning dengan papan nama yang menunjukkan beragam macam merk berbeda seperti POO, LYM, LTH dan lain-lain.

Cita rasa tahu kuning yang khas karena teksturnya yang padat dan kenyal, banyak digemari penikmat tahu, sehingga membuat bisnis tahu kuning tetap bertahan sampai saat ini sebagai kuliner yang bisa dibawa pulang untuk oleole.

Konon tahu ini diwarna kuning untuk melambangkan identitas diri etnis Tionghoa. Warna kuning adalah warna dominan digunakan oleh etnis Tionghoa selain warna merah. Kuning dianggap sebagai warna sentral dalam pembagian warna rakyat Tiongkok. Warna ini menurut pepatah kuno tiongkok menghasilkan yin dan yang, yang artinya warna kuning adalah pusat dari segala hal dan dianggap mampu menghasilkan keberuntungan.

Ternyata menelisik sejarah dari tahu kuning sendiri, pemilik dari sebagian besar toko tahu di Kota Kediri tersebut beretnis Tionghoa. Karena pada dasarnya tahu merupakan makanan yang berasal dari Cina yang di sana disebut dengan tao-hu, teu-hu, atau tokwa. Tao atau teu berarti kacang atau kedelai sedangkan hu dan kwa berarti lumat.

Sehingga bila digabungkan, maka berarti kedelai yang dilumatkan. Maka di Kota Kediri sendiri, banyak dijumpai pada papan toko tahu takwa yang maknanya sebenarnya sama saja.

Lauw Soen Hoek atau yang lebih dikenal dengan sebutan Bah Kacung merupakan tokoh yang memprakarsai kemunculan tahu kuning di Kota Kediri sejak tahun 1912. Pada awalnya tahu dijual dari rumah ke rumah, hingga ia dapat mendirikan pabrik tahu Tjakrawidjaja yang bertahan sampai saat ini. Hingga dapat mendorong munculnya toko dan pabrik tahu lainnya.

Tahu kuning tidak hanya sebagai sekadar kuliner, namun juga merupakan makna eksistensi etnis Tionghoa yang ada di Kota Kediri. Mereka diakui dan diterima sebagai bagian dari masyarakat Kota Kediri. Mereka aslinya berasal dari Provinsi Kwangtung (Canton) dan telah bermigrasi serta hidup di Kediri selama empat hingga lima generasi.

Etnis Tionghoa dari Suku Khek di Kediri lebih banyak daripada Suku Hok Kian, Hai Nan, Kong Hu dan suku Tionghoa lainnya. Mereka memiliki nenek moyang yang sama namun berbeda etnis, bahasa daerah, dan dialek (Puspitasari, 2008).

Dengan diterimanya dan diberikan ruang berkembang, maka keberadaan tahu kuning di Kediri, dapat dibilang merupakan sebuah pengakuan bahwa keberadaan etnis Tionghoa ditempatkan dalam sebuah penghargaan tersendiri, dengan melekatnya sebutan Kota Kediri sebagai Kota Tahu.

Mekanisme gerak usaha tahu di Kediri ini berdasarkan pada ikatan keluarga yang kuat dan relasi bisnis dengan etnisitasnya. Mereka memiliki tradisi untuk membangun jaringan antarsesama pengusaha dan pekerja.

Selain itu, berjalannya bisnis dalam suatu usaha, mereka mengutamakan hubungan kekerabatan. Karena keluarga dalam hal bisnis bagi etnis Tionghoa adalah sesuatu yang mutlak dan penting.

Sedangkan pekerja seperti penjaga toko atau pembantu dalam pabrik tahu direktrut dari penduduk sekitar yang notabene orang Kediri. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam bisnis tersebut, memberikan azas kebermanfaatan bagi penduduk sekitar yang mendapat mata pencaharian dari adanya usaha tahu.

Makanan dalam hal ini, jika dilihat dari sisi pandangan sosial budaya, bukan hanya sekedar sumber nutrisi. Melainkan terkait pula dengan kepercayaan, status, prestise, kesetiakawanan dan kententraman.

Makanan memiliki banyak peranan dalam kehidupan sehari-hari suatu komunitas manusia. Makna ini selaras dengan nilai hidup, nilai karya, nilai ruang atau waktu, nilai relasi dengan alam sekitar dan nilai relasi dengan sesama.

Tahu kuning dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk harmonisasi bahwa hubungan masyarakat Kediri dan etnis Tionghoa telah berhubungan sosial yang terjalin selama ratusan tahun.

Editor: Almaliki

Lesli Citra Pertiwi

Pamong Budaya