Mengghue dan Masa Depan Mantra di Indonesia

Ritual Sep 17, 2019

Etnis.id - Saya jadi teringat film Melayu dari negeri jiran pada tahun 1957 yang berjudul “Bujang Lapok”. Filmnya bercerita tiga orang pemuda bujang yang sedang belajar bela diri kepada seorang guru yang memiliki seorang anak gadis cantik dan rupawan.

Singkat cerita tiga orang tersebut menyukai anak gadis dari guru silatnya. Konflik pun terjadi. Ada suatu adegan film tepatnya di tengah kuburan. Ketiga bujang itu, membaca mantra agar diri mereka selamat dan terhindar dari gangguan makhluk gaib.

Mirip mereka, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar kata mantra yang merupakan suatu tradisi lisan warisan dari orang-orang terdahulu
kepada generasi penerus hingga saat ini.

Mantra juga bagian dari kearifan lokal dari setiap daerah yang berada Indonesia. Sehingga dibutuhkan pencatatan terhadap mantra sebagai wujud pelestarian dan pengetahuan dari setiap etnis yang ada di Nusantara.

Pada tulisan ini, saya ingin bercerita saat berada di lapangan penelitian Mantra Menggue di Nagari Andaleh, Bukik Sungayang, Batu Sangkar, Sumatera Barat. Daerah itu merupakan salah satu Nagari penghasil air nira terbesar di Sumatra Barat.

Pohon Aren tumbuh subur di sana, sebab daerah itu adalah dataran tinggi yang sejuk. Biasanya, masyarakat Nagari Andaleh Bukik selalu melaksanakan rutinitas sebagai petani nira untuk mengambil air nira pada pukul 07.00 WIB.

Asal tahu saja. Di Sumbar, nira dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan gula merah dan penambah stamina atau biasa disebut dengan sapaan nira taluah atau nira telur. Selain itu, air nira juga sebagai bahan dasar minuman alkohol yaitu tuak, serta sebagai bahan bakar dasar untuk energi alternatif atau bioetanol.

Biasanya, para petani sebelum mengambil nira, terlebih dahulu akan mengghue atau monokok mayang pohon aren. Mengghue itu dilaksanakan satu kali dalam sepuluh hari atau satu kali dalam seminggu.

Selama proses mengghue ada beberapa tata cara yang harus dilakukan oleh seorang petani nira terlebih dahulu. Pertama, seorang petani nira harus membawa alat pemukul atau pengghue yang berbentuk tabung yang memiliki tangkai yang dipegang kemudian digunakan untuk memukul mayang. Mereka juga wajib membawa parang dan tabung yang terbuat dari bambu kemudian menuju lokasi pohon aren.

Kedua, petani nira harus membersihkan rumput-rumput yang menjalar di sekitar area pohon nira terlebih dahulu. Selanutnya, si petani nira memanjat pohon secara perlahan-lahan menuju mayang yang berada di pohon aren.

Pada bagian itulah, mengghue atau menokok batang mayang dilakukan sembari membaca mantra di dalam hati, agar air nira yang dihasilkan dari mayang, bisa menguntungkan mereka.

Petani nira percaya bahwa mantra bisa membantunya. Sesuai dengan pernyataan Harun Mat Piah dkk. Mantera diartikan sebagai kata-kata atau ayat yang apabila diucapkan dapat menimbulkan kuasa gaib untuk menyembuhkan penyakit, keselamatan dan penolak bahaya.

Pada Kesusteraan Melayu Tradisional, mantra diartikan sebagai kata-kata atau ucapan. Mantra merupakan wujud dari cara bersykur, menghormati dan menghargai alam yang diciptakan oleh Sang Khalik.

Seorang petani nira tentunya telah memiliki pengalaman dan pengetahuan atas mantra yang dibacanya. Dari penjajakan saya, mantra petani itu adalah warisan dari keluarga terdahulu.

"Saya juga diwarisi perlengkapan alat-alat pengambil nira seperti penokok atau pengghue dan tabung. Soal mantra, itu sama dengan berdoa agar diberi keselamatan, agar pohon nira itu terhindar dari penyakit air yang tidak keluar dari mayangnya," ujar Amsal, beberapa waktu lalu saat kutanyai soal mengghue.

Amsal berujar, kalau setiap masing-masing petani nira mempunyai mantra yang diwariskan dari orang-orang terdahulu kepada generasi penerus petani nira sampai ini.

"Mantra mengghue berbentuk bebas sesuai pengetahuan yang diwariskan kepada si petani nira, sehingga setiap petani nira biasanya memiliki mantranya masing-masing."

Kini, menurutnya, zaman telah memudarkan mantra. Tersebab sebagian besar anak-anak petani sudah bersekolah tinggi atau merantau ke kota untuk bekerja memperbaiki taraf hidup menjadi lebih baik. Kuno, kata mereka.

Soal mantra, saya diberitahu oleh Ramjani. Seorang perempuan tua yang saya ikut tanyai. Isinya kira-kira seperti ini.

Bissmillahirrohmanirohim..

Tek sigaretek barayia-rayia mayang
Barayia agak saketek
Pambali balanjo anak gadih urang

Bissmillahirrohmanirohim...

Tek sigaretek barayia-rayia mayang
Barayia agak saketek
Pambali kain sumbayang

Segala sesuatu sebelum beraktivitas harus dimulai dengan membaca bissmillah yang berarti dengan menyebut nama Allah lagi maha pengasih lagi maha penyayang. Pada baris kedua ialah harapan kepada mayang pohon aren agar berair dan air tersebut yang menjadi sumber penghasilan petani.

Baris ketiga berarti berairlah agak sedikit, sementara pada baris keempat artinya untuk membeli belanja anak gadis orang dan membeli perlengkapan sembahyang untuk melaksanakan ibadah salat.

Jika ditelaah secara semiotik, mantra di atas bercerita tentang seseorang petani yang sudah berkeluarga. Ia harus bekerja mengumpulkan uang untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya.

Dari uraian di atas pula, dapat disimpulkan bahwa mantra mengghue berfungsi sebagai pelindung, penyelamat petani dan pohon nira. Selain itu, fungsi mantra mengghue untuk mendatangkan air nira serta menjaga dan melindungi si petani dan pohon aren dari penyakit dan bahaya yang ada dari sekitarnya.

Kini, meski perlahan berkurang, mantra pada umumnya dipakai orang untuk menolak bala dan mendatangkan keselamatan. Secara tidak langsung pula, si pengucap menyugesti dirinya sendiri, bahwa setelah membaca mantera maka pikiran, perasaan dan perilakunya akan mendapatkan perlindungan dan keselamatan.

Mantra, menurut saya, bukanlah sesuatu yang bisa memisahkan keyakinan pada agama. Perlu dicatat, kalau mantra adalah alat sugesti yang paling ampuh. Baca mantra tidak berarti menuhankan rapalan itu sendiri, bukan? Bukankah mantra sama dengan doa para penganut agama?

Editor: Almaliki

Rivaldi Ihsan

Etnomusikolog