Didi dan Sobat Ambyar: Merawat Bahasa Jawa dan Kesedihan

Etnomusikologi Sep 17, 2019

Etnis.id - Tiket itu habis. Kaum milenial yang mengatasnamakan dirinya “Sobat Ambyar” mengeluh tak dapat melihat konser musik Didi Kempot di Sunan Hotel Solo, pada 19 September 2019.

Maklum, tiket yang disedikan hanya 1800 lembar, sementara yang mengakses dan mencoba membeli secara online lebih dari 76000 akun. Akibatnya, server panitia sempat mengalami gangguan karena derasnya pengunjung.

Didi Kempot memang sedang di puncak ketenaran. Wajahnya berulang kali muncul di layar kaca menjadi bintang tamu di pelbagai acara. Ia kini terkenal dengan sebutan The Godfather of Broken Heart atau Lord Didi, telah berhasil membentuk satu komunitas pecinta lagu-lagunya dengan nama “Sobat Ambyar”.

Nama itu terilhami dari tema-tema lagu Didi yang banyak berkisah tentang patah hati, putus cinta, kerinduan yang tak berbalas, mencintai kekasih yang telah menjadi milik orang lain, serta topik sejenis lainnya. Semua gejolak yang lekat berbau melankolia itu ditampung dalam sebuah wadah musik dengan tujuan utama: kesedihan harus dirayakan bersama-sama.

Banyak komunitas penggemar musik. Tapi pada hari ini, barangkali tidak sebesar Sobat Ambyar--pengagum militan lagu-lagu Didi Kempot. “Sobat” berarti teman atau sahabat, sementara “Ambyar” berarti hancur berkeping-keping. Yang hancur tentu saja bukan persahabatan atau pertemanan, tetapi hati dan jiwa mereka, karena satu hal: asmara!

Sobat Ambyar adalah identitas, lebih dari sekadar sebutan bagi penggemar lagu-lagu Didi Kempot, tapi sekaligus mempresentasikan tentang persoalan yang jauh lebih kompleks dari itu.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, Ambyar memiliki pengertian “bercerai-berai”, “berpisah-pisah” serta “tidak terkonsentrasi lagi”. Saat menelusuri kata itu dalam kajian-kajian akademis, ambyar jarang digunakan dalam struktur penulisan ilmiah karena dipandang bukan kata baku.

Para penulis lebih menyukai idiom kata: bercerai-berai, berkeping-keping, berantakan, tidak utuh serta pecah. Hal ini menunjukkan bahwa, dalam
komunitas pecinta lagu Didi Kempot, kata “ambyar” menjadi genuine. Sebuah upaya mengais idiom kata yang justru berasa baru, singkat atau tak butuh banyak penjelasan, tak ambigu dan mudah dipahami.

Bagi generasi milenial, nama Sobat Ambyar adalah represensi musikal dari suara hati yang tersakiti. Apabila ditelusuri lebih jauh, dalam jejak sejarah musik Indonesia, kendati lagu-lagu bertema kegalauan telah eksis melintas waktu, namun tidak ada identifikasi jelas tentang penyebutan atau nama komunitas penyuka lagu-lagu itu.

Penggemar lagu galau-ratapan malu-malu menunjukkan dirinya. Nama-nama komunitas pecinta musik tentu saja bermunculan, tapi lebih mempresentasikan pada nama artis yang diidolakan, sebutlah misalnya Slanker bagi penggemar karya-karya band Slank, Vianisti untuk penyanyi Via Vallen, Balajaer untuk penggemar Ayu Ting-ting.

Dan yang sedang hangat adalah lahirnya nama-nama komunitas penggemar boy-girlband Korea, sebutlah misalnya: Exo-L untuk boyband Exo, ELF untuk Super Junior, Sone untuk Girlband SNSD, Blink untuk Black Pink.

Kebanyakan nama-nama tersebut lahir tidak merujuk dari tema-tema karya musik yang dihasilkan, namun lebih kepada artis atau pelaku musiknya. Dengan demikian, kata Sobat Ambyar menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh.

Sobat Ambyar menjadi satu-satunya nama komunitas penggemar musik yang secara aklamatif menggandrungi lagu-lagu bertema patah hati ala Didi Kempot. Munculnya Sobat Ambyar seolah serupa tangan yang menarik tubuh dari pengapnya rasa kesendirian dan kesepian karena galau cinta.

Mereka menjadi berani, dengan lantang mengakui bahwa dirinya disakiti, dikhianati dan diduakan. Bahasa kaum milenial memang tak memerlukan dalih-dalih yang ribet dan ruwet.

Simaklah bahasa dalam lagu-lagu mutakhir yang mereka gandrungi, terutam pop Jawa (ala Didi Kempot). Tidak jarang tatanan bahasanya awut-awutan, melabrak kaidah-kaidah kebakuan berbahasa, dioplos dengan berbagai ragam bahasa, Jawa-Indonesia-Inggris.

Namun dengan demikian ada sisi artistik yang muncul. Keanehan dan keganjilan lirik itu dipandang sebagai keunikan yang otentik. Geli di telinga, rancu dalam pembunyian, tapi enak disenandungkan.

Pada konteks inilah pembunyian kata tidak dapat dipisahnya dengan persoalan musikal yang melingkupinya. Bisa jadi secara bahasa kalimat tersebut aneh dan salah, namun kemudian menjadi luruh saat dilabeli dengan nada dan berakhir menjadi teks lirik lagu yang dinikmati dengan ratapan sambil bergoyang.

Makna dari idiom Sobat Ambyar mempertemukan dua realitas yang sebenarnya saling bertentangan, kesedihan dan goyangan. Hati boleh saja terluka, air mata deras menetes, tapi tubuh haruslah tetap bergoyang. Musik dengan irama koplo membantu menstimulus Sobat Ambyar menemukan kegembiraan lewat goyangan.

Sobat Ambyar memantik munculnya nama-nama komunitas pecinta lagu Didi Kempot dengan tema serupa seperti “Sad Girls”, “Sad Boys”, “Pencecap Rindu, Peternak Luka” dan lain sebagainya.

Nama-nama tersebut lahir tidak saja dalam upaya mempertemukan penggemar dari tema lagu yang sama, tapi juga menyadarkan mereka bahwa ternyata
kegalauan hidup kini sangat mendesak untuk diluapkan dan diekspresikan.

Eksistensi diri tidak lagi ditentukan dari keberhasilan dan kesuksesan, tapi juga kegagalan dan kegamangan hidup. Sobat Ambyar adalah contoh ideal tentang hal itu. Bagi kaum milenial, mengategorikan diri sebagai Sobat Ambyar atas lagu-lagu Didi Kempot, serupa berbangga di atas kepiluan.

Idiom Sobat Ambyar lahir dari kejenuhan atas ketidakmampuan generasi lampau mendefinisikan dirinya saat dilanda kegalauan yang puncak. Dengan demikian, kita patut bersyukur dengan adanya idiom Sobat Ambyar, sebagaimana penemuan kata “Jomblo” oleh kelompok band Gigi, “Sephia” oleh Sheila On Seven.

Suatu saat bila hati remuk redam karena persoalan asmara, tak perlu berlarut-larut dan panjang lebar menjelaskan agar orang lain tahu dan merasakan, cukup dengan mendengarkan musik Didi Kempot, kemudian menyebutkan diri sebagai “Sobat Ambyar”, maka semuanya pasti akan mengerti.

Editor: Almaliki

Aris Setiawan

Etnomusikolog, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta