Mencicip Mi Lendir di Pasar Dalam

Boga Nov 13, 2019

Etnis.id - Saya teringat dengan cerita masyarakat dan teman-teman setongkrongan yang mengatakan mi lendir yang berada di kecamatan Pulau Belakang Padang, Batam, sangat nikmat dan selalu ramai dikunjungi oleh para pelancong seperti dari Singapore, Malaysia dan turis-turis asing lainnya.

Padahal jika dilihat, hanya semangkok mi berwarna kuning ditambah telur bulat yang menggunakan kuah yang kental. Mungkinkah perpaduan itulah yang membuat kenikmatan muncul di lidah dan tak terlupakan, sehingga orang berbondong untuk selalu menikmati mi lendir Belakang Padang.

Untuk mencari jawabannya, aku langsung bergegas berangkat menuju ke Pelabuhan Sekupang menggunakan sepeda motor dengan durasi tempuh 45 menit. Aku pun tiba di pelabuhan, kemudian mencari posisi tempat parkir yang kosong dengan pengawasan resmi oleh tukang parkir agar motorku aman dari marabahaya.

Aku bergegas masuk ke pelabuhan untuk membeli tiket perahu boat/angkutan laut motor sangkut seharga Rp16 ribu. Durasi perjalanan dari Pelabuhan Sekupang Batam ke Pulau Belakang Padang makan waktu 45 menit.

Setelah di Pelabuhan Belakang Padang, aku disambut oleh seorang teman, namanya Hendrik, ia merupakan putra daerah Belakang Padang. Ia menjadi pemandu wisata selama diriku berada di Pulau Belakang Padang. Kami lalu bergerak menuju pusat keramaian Pulau Belakang Padang yaitu Pasar Dalam.

Hendrik berkata kepadaku, mi lendir yang terkenal yang berada di pasar dalam itu sudah ada sejak tahun 1960 dengan pemilik bernama Botak, atau biasa disapa dengan Mi Lendir Botak yang usahanya sudah berjalan sebanyak dua generasi. Saat ini, anaknya juga membuka mi lendir di Pasar Dalam juga.

Setiba di kedai Mi Lendir Botak, kami langsung memesan dua porsi mi lendir dan dua gelas teh tarik dingin. Aku pun segera menikmati mi lendir itu dengan lahap sembari bercerita seputar mi lendir bersama temanku. Setelah usai menikmatinya, aku mulai penasaran dengan resep apa saja yang dipakai Botak pada mi lendirnya.

Selang beberapa saat salah seorang tukang masak menghampiri kami, yang begitu kenal akrab dengan temanku Hendrik. Hendrik sengaja memanggil juru masak itu agar aku mudah mendapatkan informasi seputar mi lendir. Aku pun mulai mewawancarainya, sebut saja namanya Suhaimi yang merupakan juru masak Mi Lendir Botak yang sudah bekerja lebih kurang enam tahunan.

Ia menjelaskan bahan-bahan apa saja yang digunakan serta bagaimana proses pembuatan mi lendir.  Pertama, mempersiapkan bahan-bahan seperti kacang, tepung udang kering, cabe kering, bawang merah, bawang putih dan jahe. Setelah
terkumpul, kemudian diblender menjadi satu lalu ditumis.

Setelah itu, diberi air dan gula merah agar kuah terlihat pekat dan kental berwana kecoklatan. Setelah membuat kuah, selanjutnya membuat mi kuning yang direbus bersama telur dan tidak lupa toge.  Ada pun penyajian mi lendir menggunakan piring kaca.

Harga setiap satu porsi sajian mi lendir itu Rp 13 ribu. Standar bagi para saku pelancong. Suhaimi juga berkata, terkadang pelanggan mi lendir yang sering melancong sering membeli mi lendir dibungkus lima sampai sepuluh bungkus untuk oleh-oleh sanak famili. Tentunya kuah dan mi dipisah agar tidak basi.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Belakang Padang dan masyarakat para pelancong. Kenapa namanya mi lendir, sebab kuahnya kental. Selain itu, faktor cita rasa yang sesungguhnya ada pada kuah lendir itu, walau demikian, tetap satu kesatuan penggabungan mi dan kuah yang berlendir.

Tak heran jika pelancong yang berdatangan ke Belakang Padang dari berbagai daerah selalu berburu mi lendir. Begitu juga dengan pelancong-pelancong yang berasal dari negara tetangga seperti Singapore, Malayasia, Filipina, dan sebagainya.

Sesuailah dengan julukannya Pulau Belakang Padang itu, yaitu Pulau Penawar Rindu. Di mana setiap orang-orang yang melancong ke Belakang Padang tentu pasti akan merindukan kembali untuk menikmati mi lendirnya.

Editor: Almaliki

Rivaldi Ihsan

Etnomusikolog